Ustadz Faris Baswedan: Bahaya Syirik Kecil dan Fenomena “Sujud Penghormatan”

Kajian Kitab Al-Kabair tentang dosa besar syirik dan batas tipis antara penghormatan dan ibadah.

Nabawi TV
3 Menit Bacaan

NABAWI TV – Syirik adalah dosa terbesar yang tidak akan diampuni Allah jika pelakunya meninggal tanpa bertaubat. Namun, sering kali kita terjebak pada definisi syirik yang sempit, hanya sebatas menyembah patung. Dalam kajian kitab Al-Kabair karya Imam Adz-Dzahabi, Ustadz Faris Baswedan, Lc mengupas tuntas tentang ragam syirik, mulai dari keyakinan terhadap “dua tuhan” hingga fenomena riya’ yang disebut sebagai syirik kecil.

Bagaimana membedakan antara sujud ibadah dengan sujud penghormatan? Dan benarkah meninggalkan amal karena takut riya’ justru adalah bentuk riya’ itu sendiri? Berikut intisari kajian beliau.

Enam Jenis Syirik Menurut Imam As-Sanusi

Ustadz Faris menjelaskan klasifikasi syirik yang dijabarkan oleh Imam As-Sanusi dalam kitab Al-Muqaddimat, di antaranya:

  1. Syirkul Istiqlal: Meyakini adanya dua tuhan yang independen, seperti keyakinan Majusi tentang Tuhan Cahaya (pencipta kebaikan) dan Tuhan Kegelapan (pencipta keburukan).
  2. Syirkut Tab’idh: Meyakini Tuhan terdiri dari bagian-bagian (parsial), seperti konsep Trinitas.
  3. Syirkut Taqrib: Beribadah kepada selain Allah dengan dalih mendekatkan diri kepada-Nya, seperti yang dilakukan kaum Jahiliyah.

Poin penting yang ditekankan adalah definisi Ibadah. Sebuah tindakan baru disebut ibadah (yang bernilai syirik jika ditujukan kepada selain Allah) jika memenuhi tiga unsur:

  • Meyakini objek tersebut memiliki sifat ketuhanan (bisa memberi manfaat/madharat secara mandiri).
  • Meyakini objek tersebut sebagai Tuhan.
  • Berniat melakukan taqarrub (ibadah) kepadanya.

Fenomena Sujud: Ibadah atau Penghormatan?

Salah satu pembahasan menarik adalah tentang sujud. Ustadz Faris mencontohkan kisah Nabi Yusuf AS di mana saudara-saudaranya bersujud kepadanya. Apakah itu syirik? Tidak, karena pada syariat terdahulu, sujud penghormatan diperbolehkan. Namun, dalam syariat Nabi Muhammad ﷺ, segala bentuk sujud kepada manusia—baik ibadah maupun penghormatan—diharamkan.

“Tidak setiap sujud itu dilakukan kepada selain Allah pasti menjadikan orang yang melakukannya syirik. Minimal haram. Tapi apakah semua yang haram itu syirik? Minum khamar itu haram, tapi tidak syirik. Jadi bedakan.” —Ustadz Faris Baswedan

Sujud kepada manusia menjadi syirik hanya jika disertai keyakinan ketuhanan. Jika hanya sekadar penghormatan (meski terlarang dalam Islam), statusnya adalah dosa besar, bukan kafir.

Jebakan Riya’: Meninggalkan Amal Karena Takut Pamer

Jenis syirik kedua yang dibahas adalah Syirik Kecil (Ar-Riya’), yaitu beramal untuk dilihat orang. Namun, Ustadz Faris mengingatkan sebuah kaidah penting dari para ulama:

“Seseorang yang meninggalkan amalan karena takut riya’, justru itu adalah riya’.”

Mengapa? Karena saat itu fokus hatinya masih kepada manusia, bukan kepada Allah. Solusinya adalah tetap beramal dan terus berjuang meluruskan niat (tashihun niyat) hanya untuk Allah, tanpa peduli penilaian makhluk.

Mari kita jaga hati dari segala bentuk kesyirikan, baik yang jaliy (tampak) maupun khafiy (tersembunyi).

Wallahu a’lam bishawab.

Bagikan Artikel Ini
Tidak ada komentar