Terkuak! Tradisi Haramain Sebelum Era Wahabi: Maulid, Mazhab, dan Ziarah

Lora Irfan Maulana membongkar sejarah Mekkah & Madinah selama ribuan tahun. Ternyata, empat mazhab hidup berdampingan, Maulid dirayakan meriah, dan keturunan Nabi ﷺ memimpin Naqabatul Asyraf.

Nabawi TV
5 Menit Bacaan

NABAWI TV – Ketika kita melihat Masjidil Haram dan Masjid Nabawi hari ini, kita mendapati suasana yang seragam dan sistem ibadah yang diselaraskan. Namun, pernahkah terbayang bahwa selama ribuan tahun — jauh sebelum berdirinya kerajaan Arab Saudi modern — kedua kota suci tersebut memiliki wajah keagamaan yang jauh lebih plural dan berwarna?

Lora Irfan Maulana dalam program Towards Unity Nabawi TV membawa kita menyelami lembaran sejarah yang terlupakan. Fakta-fakta menunjukkan bahwa Mekkah dan Madinah di bawah kekuasaan Khulafaur Rasyidin, Umawiyah, Abbasiyah, hingga Utsmaniyah, adalah pusat keilmuan yang kaya akan tradisi Aswaja.

Makkah: Rumah Bagi Empat Mazhab yang Harmonis

Sebelum ajaran Syekh Muhammad bin Abdul Wahab masuk dan mendominasi pada abad ke-13 Hijriah, Haramain adalah pasar ilmu yang ramai. Di pelataran Masjidil Haram, terdapat halaqah-halaqah ilmu yang mengajarkan empat mazhab fikih secara terbuka [08:48].

Salat di Makkah dilakukan sesuai mazhab yang empat pada abad ke-13 Hijriah. Azan subuh dikumandangkan setelah tarhim… Lalu imam mazhab Syafi’i maju. Kemudian imam mazhab Hambali, Maliki, dan diakhiri dengan salat yang diimami oleh imam mazhab Hanafi.
Lora Irfan Maulana [08:07]

Fakta-fakta penting tentang kehidupan keilmuan di Haramain saat itu:

  • Dominasi Mazhab: Mayoritas penduduk Makkah mengikuti mazhab Syafi’i, sementara mazhab Hanafi dianut banyak orang karena dukungan Daulah Utsmaniyah [09:10].
  • Tasawuf Diajarkan: Kitab-kitab Tasawuf, termasuk Ihya Ulumiddin karya Imam Al-Ghazali, dibacakan di Masjidil Haram setelah salat Jumat [09:31].
  • Ulama Multietnis: Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, ulama Nusantara yang bermazhab Syafi’i, sempat menjadi imam di Masjidil Haram, menunjukkan tidak adanya pembatasan etnis atau golongan [16:22].

Perayaan Maulid dan Keberadaan Keturunan Nabi ﷺ

Dahulu, Makkah dan Madinah merayakan Maulid Nabi ﷺ secara besar-besaran, bahkan melebihi perayaan hari raya [10:13]. Para pengajar (mudarris) di Masjidil Haram akan mengganti ceramah rutin mereka dengan pembacaan kitab Maulid setelah salat Magrib [09:42].

Adanya perayaan Maulid Nabi di Makkah diperkuat oleh pernyataan Imam Ibnu Jazari yang mengatakan bahwa para penduduk Makkah merayakan Maulid secara besar-besaran, bahkan lebih besar daripada perayaan hari raya.
Lora Irfan Maulana [10:13]

Selain itu, keberadaan keturunan Rasulullah ﷺ (Asyraf) diharamkan saat itu sangat dihormati dan terorganisir. Ada sebuah lembaga resmi yang dinaungi oleh pemerintahan Utsmani:

  • Naqabatul Asyraf: Lembaga ini bertugas mengurus dan mencatat keturunan Nabi ﷺ di Hijaz [00:24]. Lembaga ini pernah dipimpin oleh tokoh-tokoh besar seperti Habib Muhammad bin Muhsin al-Attas [16:53] dan Habib Alwi bin Ahmad Assegaf [17:04].

Awal Mula Perubahan dan Konflik Ideologi

Perubahan drastis ini dimulai sejak kemunculan dakwah Syekh Muhammad bin Abdul Wahab pada tahun 1143 H di Najid [12:10]. Ajaran yang dibawa beliau dianggap melenceng dan menyebabkan takfir (pengkafiran) oleh mayoritas ulama Haramain saat itu [12:50].

Bahkan, ulama Makkah pada masa Syarif Mas’ud bin Said (pemimpin Makkah saat itu) sampai menulis hujah yang menyatakan bahwa akidah pengikut Syekh Muhammad bin Abdul Wahab menyimpang seperti Zanadiqah (orang yang menyembunyikan kekafiran) [13:22].

Setelah berbagai penolakan dan larangan berhaji, akhirnya golongan ini memilih jalur peperangan pada tahun 1205 H dan berhasil memasuki Makkah secara damai (suluh) pada tahun 1220 H [14:32].

Konsekuensi dari penguasaan ini adalah:

  • Penyeragaman Ajaran: Hanya satu golongan yang diperbolehkan menyampaikan ilmu di Haramain [08:36].
  • Penghancuran Situs Bersejarah: Kubah-kubah di makam-makam, termasuk di sekitar Baitullah, dihancurkan [19:26]. Mereka juga menghancurkan kubah-kubah makam di Madinah, kecuali kubah makam Rasulullah ﷺ [20:46].
  • Pengucilan: Tokoh-tokoh besar seperti Sayid Ahmad Zaini Dahlan (Mufti Makkah) dikucilkan, menyebabkan banyak keturunan Nabi ﷺ memilih berhijrah meninggalkan Haramain [17:34].

Kisah sejarah ini penting untuk dipelajari, bukan untuk membenci keadaan hari ini, melainkan untuk mengetahui akar dari tradisi keilmuan yang sempat berkembang di jantung umat Islam selama berabad-abad. Sebagaimana ucapan Imam Ibnu Khaldun:

Ketahuilah bahwa ilmu sejarah adalah ilmu yang mulia kedudukannya, banyak manfaatnya dan luhur tujuannya. Sebab ia menunjukkan kepada kita keadaan umat-umat terdahulu dalam akhlak mereka…
Imam Ibnu Khaldun (Dalam Muqaddimat) [23:10]

Makkah dan Madinah tetaplah kota termulia di sisi Allah ﷻ, dan kita harus yakin bahwa “Sesungguhnya iman akan kembali dan berkumpul di Madinah sebagaimana ular kembali ke lubangnya.” [22:22]

Wallahu a’lam bishawab.

Bagikan Artikel Ini
Tidak ada komentar