NABAWI TV – Pernahkah Anda merasa “tidak enak hati” atau sungkan menolak permintaan seseorang hanya karena orang tersebut sering memberi Anda hadiah atau bantuan? Jika iya, hati-hati! Bisa jadi, tanpa sadar Anda sedang kehilangan kemerdekaan diri Anda.
Dalam sebuah kajian kitab Nashoihul ‘Ibad yang disiarkan langsung oleh Nabawi TV, Habib Fahmi bin Hamid Assegaf mengupas tuntas sebuah fenomena sosial yang sering luput dari kesadaran kita: bahaya terlalu sering meminta dan bergantung pada manusia.
Ternyata, menjaga harga diri (izzah) bukan sekadar soal gengsi, melainkan fondasi mental seorang mukmin sejati. Bagaimana pandangan para salafus saleh mengenai hal ini?
Bahaya Menjadi “Tawanan” Kebaikan Orang Lain
Habib Fahmi membuka kajian dengan sebuah realita menohok. Kebaikan seseorang memang bisa meluluhkan hati, bahkan mengubah benci menjadi cinta. Namun, ada sisi lain yang perlu diwaspadai jika kita berada di posisi penerima yang terus-menerus meminta.
Mengutip perkataan Sayyidina Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah, beliau mengingatkan sebuah rumus kehidupan:
Mintalah kepada siapa pun yang engkau mau, maka engkau akan menjadi tawanannya. Berusahalah tidak butuh (mandiri) dari siapa pun yang engkau mau, maka engkau akan menjadi setara dengannya. Dan berbuat baiklah kepada siapa pun yang engkau mau, maka engkau akan menjadi pemimpinnya. — Sayyidina Ali bin Abi Thalib.
“Orang yang sering meminta itu akan kehilangan kebebasan batin,” tegas Habib Fahmi (06:30). Rasa sungkan untuk menolak, perasaan terhutang budi, hingga hilangnya keberanian untuk menegakkan kebenaran di hadapan orang tersebut adalah tanda bahwa kita telah menjadi “tawanan” mental.
Adab Lebih Tinggi dari Nasab
Selain soal kemandirian, Habib Fahmi juga menyoroti fenomena orang yang membanggakan keturunan (nasab) tanpa dibarengi dengan kualitas diri dan adab. Beliau menegaskan bahwa kehormatan seseorang itu dibangun di atas adab, bukan sekadar nama besar leluhur.
Rasulullah ﷺ sendiri mengingatkan dalam sebuah hadits sahih:
مَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ
“Barangsiapa yang lambat amalnya, maka nasabnya tidak akan bisa mempercepatnya (mengangkat derajatnya).” — HR. Muslim.
Seorang pemuda sejati (al-fata) bukanlah mereka yang berlindung di balik kebesaran nama orang tuanya, melainkan mereka yang mampu berdiri di atas kaki sendiri dengan ilmu dan kesalehannya. Sebagaimana syair Arab mengatakan:
Bukanlah seorang pemuda yang berkata ‘Inilah ayahku’, tetapi pemuda sejati adalah yang berkata ‘Inilah aku’.
Kisah Menggetarkan: Menolak Dunia di Depan Ka’bah
Sebagai puncak nasihat, Habib Fahmi menceritakan kisah keteguhan hati Syekh Salim bin Abdullah bin Umar bin Khattab (cucu Sayyidina Umar). Suatu hari, beliau sedang tawaf di Masjidil Haram dan bertemu dengan Khalifah Hisyam bin Abdul Malik.
Sang Khalifah menawarkan bantuan, “Wahai Salim, mintalah kepadaku apa saja yang kau mau.” Namun, Syekh Salim menolak dengan jawaban yang menggetarkan: “Aku malu meminta kepada makhluk, sementara aku sedang berada di rumah Allah.”
Tak menyerah, Khalifah menunggunya hingga keluar masjid dan kembali menawarkan bantuan duniawi. Syekh Salim kembali menjawab dengan prinsip tauhid yang kokoh (36:27):
- “Sama Allah saja aku tidak pernah meminta dunia, aku hanya meminta akhirat.”
- “Llalu bagaimana mungkin aku meminta dunia kepada engkau yang sama-sama makhluk?”
Kisah ini mengajarkan kita bahwa kekayaan sejati bukanlah harta yang menumpuk, melainkan hati yang merasa cukup (qanaah) dan tidak bergantung pada belas kasih manusia.
Rezeki Itu “Dikejar” dengan Tawakal, Bukan Matematika
Di akhir kajian, Habib Fahmi menukil kisah Imam Ahmad bin Hanbal yang menolak pemberian 50.000 dinar emas. Logika manusia mungkin berkata, “Kalau tidak diambil, sayang dong?”. Namun logika iman Imam Ahmad berbeda:
Kalau kita cari (dengan nafsu), dia tidak akan datang. Rezeki itu datang ketika kita tidak terlalu mengejarnya (dengan ambisi duniawi).
Pesan utamanya jelas: Hiduplah dengan iffah (menjaga kehormatan) dan izzah (harga diri). Jangan gadaikan kebebasan batin kita hanya demi keuntungan sesaat dari manusia. Biarlah kita bergantung sepenuhnya hanya kepada Allah, Sang Pemilik Rezeki Yang Maha Luas.
Wallahu a’lam bishawab.

