NABAWI TV – Menjadi umat terbaik bukanlah sekadar label kosong yang bisa dibanggakan tanpa bukti. Allah SWT menyematkan gelar Khaira Ummah (umat terbaik) kepada kita dengan sebuah syarat mutlak: aktif mengajak pada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Namun, semangat yang berapi-api tanpa dibekali metode yang benar justru bisa menjadi bumerang.
Dalam lanjutan kajian di Masjid Nur Syamsiah, Ustadz Muhammad Saleh Drehem menekankan bahwa dakwah atau amar makruf nahi munkar memerlukan empat pilar utama. Setelah sebelumnya membahas pentingnya Ilmu dan Kelembutan (Rifq), kali ini pembahasan mengerucut pada dua fondasi vital lainnya: Keadilan (Al-Adlu) dan Kesabaran (As-Sabru).
Mengapa niat baik untuk memperbaiki orang lain seringkali berakhir dengan permusuhan? Jawabannya mungkin ada pada hilangnya dua unsur ini.
Keadilan: Menempatkan Sesuatu pada Tempatnya
Sifat ketiga yang wajib dimiliki oleh seorang penyeru kebaikan adalah Al-Adlu atau adil. Adil di sini bermakna proporsional; mampu menempatkan sesuatu sesuai porsinya. Ustadz Saleh menyoroti fenomena pendakwah atau penasihat yang terkadang kehilangan objektivitas karena pesanan atau emosi sesaat.
“Adil dalam konten materi itu penting. Jangan sampai masalah kecil dibesar-besarkan seolah dosa besar, atau sebaliknya, dosa besar dianggap remeh. Itu tidak adil.”
Keadilan ini sangat krusial, terutama saat kita diminta menjadi penengah konflik, seperti masalah rumah tangga. Seringkali, kita terjebak hanya mendengarkan satu pihak (misalnya hanya suami atau istri) lalu buru-buru memvonis. Padahal, prinsip keadilan menuntut kita untuk melakukan check and balance (tabayyun) kepada kedua belah pihak sebelum memberikan nasihat. Tanpa keadilan, niat mendamaikan (islah) justru bisa memperkeruh suasana.
Kesabaran: Perisai Sang Penyeru
Sifat keempat adalah Al-Hilmu atau sabar. Harus disadari bahwa jalan dakwah bukanlah karpet merah yang bertabur bunga. Penolakan, cibiran, bahkan gangguan fisik adalah “menu harian” bagi mereka yang berani menegakkan kebenaran.
Ustadz Saleh mengingatkan kita pada kisah pedih namun heroik Rasulullah ﷺ di Thaif. Beliau datang dengan niat mulia menyelamatkan penduduk Thaif, namun disambut dengan lemparan batu hingga kaki beliau berdarah-darah.
“Apakah Nabi marah? Tidak. Beliau bersabar. Justru di tengah kesakitan itu, Allah kirimkan hiburan lewat setandan anggur dari budak bernama Addas. Itu sinyal, bahwa dalam setiap kesulitan dakwah, pasti ada titik terang bagi mereka yang bersabar.”
Sabar juga diperlukan saat melihat hasil yang tidak sesuai harapan. Ada kalanya kita sudah menasihati keluarga atau teman berkali-kali, namun belum ada perubahan. Di sinilah kesabaran diuji; untuk tidak putus asa dan tidak membenci orangnya, melainkan membenci perbuatan maksiatnya.
Allah SWT berfirman melalui nasihat Luqman kepada anaknya:
يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا أَصَابَكَ ۖ إِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ
“Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” — QS. Luqman: 17.
Bahaya “Omdo” (Omong Doang)
Sebagai penutup yang menohok, kajian ini mengingatkan syarat pamungkas agar dakwah kita memiliki izzah (wibawa): Konsistensi antara ucapan dan perbuatan.
Sangat ironis jika kita menyuruh orang shalat tepat waktu, namun kita sendiri sering terlambat. Atau melarang orang lain berbuat curang, padahal kita sendiri pelakunya. Hal ini sangat dibenci oleh Allah, sebagaimana firman-Nya:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?” — QS. As-Saff: 2.
Mari kita lengkapi semangat berbuat baik kita dengan ilmu, kelembutan, keadilan, dan kesabaran, serta memulainya dari diri sendiri sebelum menyuruh orang lain.
Wallahu a’lam bishawab.

