Rahmah: Kekuatan Agung yang Menyelamatkan Pernikahan Saat Cinta (Mawaddah) Sudah Tiada

Rahmah (kasih sayang) adalah dimensi spiritual tertinggi dalam pernikahan. Buya Yahya menjelaskan peran Rahmah sebagai penyelamat ikatan, bahkan setelah perpisahan, sekaligus kunci untuk meraih Qalbun Salim (hati yang selamat).

Nabawi TV
4 Menit Bacaan

NABAWI TV – Membangun rumah tangga di atas pilar Sakinah (ketenangan) dan Mawaddah (cinta) adalah impian. Namun, Islam menetapkan satu pilar lagi yang bersifat abadi dan melampaui emosi, yaitu Rahmah (kasih sayang). Pilar inilah yang menjadi penentu apakah bahtera rumah tangga akan benar-benar mencapai tujuannya di Surga, atau justru hancur berantakan karena dendam dan kebencian.

Dalam episode kelima Ngobrolin Rumah Tangga, Buya Yahya menjelaskan makna Rahmah dan perannya yang dahsyat dalam pernikahan. Beliau merujuk pada nama mulia Nabi Muhammad ﷺ yang disifati sebagai Rahmatan lil ‘alamin [00:45], yang berarti kasih sayang itu adalah dasar dari segala jalinan.

Rahmah: Kekuatan Abadi Saat Cinta Memudar

Buya Yahya menegaskan, Rahmah memiliki peran vital yang melampaui Mawaddah. Jika Mawaddah (cinta) diibaratkan nyala api yang bisa padam, Rahmah adalah jaminan ikatan itu tetap ada.

Kasih sayang akan punya peran dahsyat di saat sebuah rumah tangga sudah tidak ada cinta, sudah tidak ada cinta sekalipun. Jika masih ada kasih sayang, bisa diabadikan.
— Buya Yahya [00:01:16 – 00:01:30]

Rahmah berperan sebagai pelindung saat hubungan berada di titik terendah. Misalnya, jika seorang suami merasa cintanya kepada istri sudah hilang karena satu hal, apakah ia tidak bisa menghadirkan kasih sayang? [01:38]

Prinsip Rahmah melampaui batas ikatan pernikahan:

  • Melampaui Status Pasangan: Jika sudah berpisah dan menjadi mantan suami/istri, Rahmah tetap menuntut kita untuk mencukupi kebutuhan hidupnya dan tidak membuangnya [01:56].
  • Melampaui Ikatan Keluarga: Bahkan dalam berbakti kepada orang tua, Rahmah harus ada. Seseorang wajib berbakti pada orang tua meskipun ia tidak mencintai mereka—bahkan jika orang tuanya zalim [02:26].
  • Melampaui Batas Agama: Kasih sayang adalah sifat Nabi Muhammad ﷺ. Beliau memandang orang kafir sekalipun dengan kasih sayang, berharap mereka sadar dan masuk Islam [02:55].

Jika Rahmah saja bisa diberikan kepada orang kafir, maka kepada pasangan halal, baik saat bersama maupun setelah berpisah, Rahmah wajib tetap dihadirkan.

Bahaya Hilangnya Rahmah: Munculnya Penyakit Hati

Rahmah adalah benteng yang menjaga hati. Apabila kasih sayang tercabut dari hati, maka berbagai penyakit hati yang kotor akan muncul [03:23].

Buya Yahya mencontohkan bagaimana hilangnya kasih sayang ini merusak hubungan pascaperpisahan:

  • Seorang suami yang dendam akan mengajari anaknya untuk memusuhi ibunya [03:31].
  • Seorang ayah tidak menafkahi anak-anaknya bukan karena hilang cinta, melainkan karena hilang kasih sayang [04:05].

Inilah penyakit-penyakit yang muncul saat Rahmah tercabut:

  • Dendam dan Benci
  • Dengki (Iri hati)
  • Keinginan untuk menghancurkan mantan pasangan
  • Menyebarkan kejelekan orang lain

Mengabadikan Rahmah: Qalbun Salim dan Silaturahim

Untuk mengabadikan kasih sayang (Rahmah) dan mendapatkan Qalbun Salim (hati yang selamat), Buya Yahya mengajarkan cara sederhana, yaitu dengan merenung [04:42].

Kita harus merenungi status mulia dari mantan pasangan kita, bahwa mereka adalah umat Baginda Nabi Muhammad ﷺ.

Dia umat Nabi Muhammad, aku tidak boleh menyebarkan kejelekannya, tapi aku tetap menjaga dia. Kan Ibu anak-anakku, dia Ayah daripada anak-anakku.
— Buya Yahya [05:09]

Seseorang yang memiliki Qalbun Salim adalah mereka yang tidak memiliki dendam kepada siapapun dan merasakan Surga sebelum memasuki Surga [04:53].

Pada akhirnya, kunci untuk menjaga jalinan hubungan, bahkan setelah Mawaddah tiada, adalah Silaturahim [05:25]. Silaturahim adalah cara untuk mengabadikan Rahmah (kasih sayang) agar segala jalinan, baik hubungan suami-istri maupun orang tua-anak, tetap terjaga dalam kebaikan.

Wallahu a’lam bishawab.

Bagikan Artikel Ini
Tidak ada komentar