NABAWI TV – Di tengah riuhnya fenomena sosial keagamaan di Indonesia, sebuah pesan tegas dan menyentuh hati datang dari Rabithah Alawiyah. Organisasi yang menaungi para keturunan Rasulullah ﷺ (Alawiyyin) di Indonesia ini menyampaikan kritik internal yang sangat tajam, mengingatkan kembali hakikat mulia menjadi seorang Sayyid atau Habib.
Bukan untuk menjatuhkan, melainkan sebagai bentuk kasih sayang dan muhasabah (introspeksi) agar marwah datuk mereka, Nabi Muhammad ﷺ, tidak tercoreng oleh perilaku segelintir oknum.
Tanggung Jawab Nasab: Beban, Bukan Privilese
Seringkali, nasab atau garis keturunan dianggap sebagai tiket emas untuk mendapatkan penghormatan instan. Namun, Rabithah Alawiyah justru menekankan sebaliknya. Nasab adalah tanggung jawab (mas’uliyah) yang berat di hadapan Allah ﷻ.
Dalam video yang diunggah kanal Nabawi TV, disampaikan sebuah pertanyaan renungan yang menggetarkan hati setiap Alawiyyin:
Jangan kamu tertipu dengan nasab. Renungkan, hari kiamat nanti kamu menghadap kepada Sayyidah Fatimah dengan wajah yang bagaimana? Hari kiamat menghadap kepada Rasulullah ﷺ dengan wajah yang bagaimana?
— Habib Ahmad bin Jindan [00:12]
Peringatan ini menegaskan bahwa kebanggaan atas darah daging Nabi tidak ada artinya tanpa diiringi kontribusi nyata dan akhlak yang mulia. Tujuan keberadaan Ahlu Bait bukanlah untuk menciptakan kasta sosial dalam Islam, melainkan untuk menjadi sumber keteladanan.
Fenomena Pendakwah ‘Karbitan’ dan Hilangnya Adab
Sorotan tajam juga diarahkan pada fenomena pendakwah muda yang dinilai “kosong”. Banyak yang terjebak dalam popularitas, jadwal ceramah yang padat, namun lupa untuk mengisi diri dengan ilmu agama yang mumpuni.
Rabithah Alawiyah mengkritik keras mereka yang:
- Bermulut besar namun minim ilmu.
- Terlena dengan pujian dan penghormatan masyarakat (gila hormat).
- Enggan menghargai orang lain.
Lebih jauh lagi, keprihatinan mendalam disampaikan terkait pelaksanaan Maulid Nabi yang mulai melenceng dari syariat.
Jangan sampai dalil maulid yang kuat dikotori dengan penceramah atau dengan acara campur laki perempuan, joget, dan sebagainya. Para ulama yakin 1000% mereka tidak akan membawakan dalil untuk membela maulid yang model seperti itu.
— Habib Muhammad Vad’aq [02:47]
Ketika acara keagamaan berubah menjadi sekadar hiburan, dan batas syariat (seperti ikhtilat) dilanggar, maka esensi dakwah itu sendiri telah hilang.
Bahaya “Jual Murah” Kisah Karomah
Salah satu poin menarik yang diangkat adalah kritik terhadap penceramah yang terlalu obral cerita karomah (kemuliaan kewalian) secara berlebihan, bahkan mengubah redaksinya demi memukau jamaah.
Para Wali Allah yang asli justru menyembunyikan karomah mereka karena malu, sebagaimana seorang wanita menyembunyikan hal pribadinya. Namun, saat ini banyak yang justru “menjual” kisah-kisah tersebut tanpa dasar ilmu, yang pada akhirnya justru membuat masyarakat awam menjauh dari agama karena dianggap tidak masuk akal.
Waspada Oknum Berkostum Ulama
Bagian paling menohok adalah peringatan tentang munculnya “oknum” yang memanfaatkan atribut keagamaan untuk keuntungan pribadi. Fenomena anak muda yang minim ilmu, memakai jubah ulama, mengaku Habib, lalu masuk ke desa-desa meminta sumbangan atau penghormatan, dinilai sangat merusak citra Alawiyyin.
Banyak anak-anak muda yang sedikit ilmunya tapi memakai kostum ulama dan mengaku Habib… Apabila terus menerus dia menggunakan simbol agama disertai kedustaan… Lebih baik Anda bisnis saja, cari kerja yang halal.
— Sayyid Muhammad Assegaf [06:09]
Pesan ini menyiratkan bahwa kemuliaan tidak didapat dari sorban atau jubah, melainkan dari ilmu dan kesalehan. Jika tidak mampu menjadi ulama, menjadi pebisnis atau pekerja yang jujur jauh lebih mulia daripada “menjual” agama dan nasab.
Kembali Menjadi “Sada” yang Membanggakan
Menutup pesannya, Rabithah Alawiyah mengajak seluruh elemen Alawiyyin untuk bersatu, bukan dengan fanatisme buta, melainkan dengan kerendahan hati untuk saling mendengar dan memperbaiki diri.
Persatuan tidak akan tercapai jika nasab dikapitalisasi atau dijadikan alat kesombongan. Saatnya para dzurriyat Rasulullah ﷺ kembali menapaki jalan para Salafus Shalihin: berilmu padi, berakhlak mulia, dan menjadi penyejuk bagi umat, bukan justru menjadi sumber fitnah.
Semoga kritik pedas namun penuh kasih sayang ini menjadi titik balik bagi kita semua untuk terus membenahi diri. Wallahu a’lam bishawab.

