NABAWI TV – Pernahkah kamu merasa lelah yang luar biasa, padahal aktivitas harian berjalan seperti biasa? Atau mungkin, rezeki terasa cukup, keluarga sehat, tapi ada lubang besar di dada yang membuat hati terasa hampa dan gelisah?
Jika iya, kamu tidak sendirian. Fenomena ini semakin menjangkiti banyak muslimah hari ini. Kita sibuk memoles tampilan luar, mengejar validasi di media sosial, namun lupa memberi makan “ruh” yang ada di dalam.
Dalam berbagai kajiannya, Ustadzah Halimah Alaydrus sering mengingatkan kita akan bahaya kehilangan koneksi dengan Sang Pencipta. Beliau menyoroti bahwa kegelisahan itu bukan karena kurang harta atau kurang piknik, melainkan karena hati yang mulai kerontang dari dzikir.
Akar Masalah: Terlalu Sibuk dengan Makhluk
Salah satu poin penting yang sering disampaikan Ustadzah Halimah adalah tentang fokus hidup. Wanita diciptakan dengan perasaan yang halus. Namun, kehalusan itu sering kali menjadi bumerang ketika kita menggantungkan harapan kepada manusia.
Kita lelah karena terlalu ingin terlihat sempurna di mata orang lain. Kita capek karena hati kita dipenuhi oleh penilaian tetangga, komentar netizen, atau standar kecantikan yang tidak masuk akal.
Hati ini ibarat wadah. Kalau isinya penuh dengan urusan dunia yang tidak dibawa mati, maka tidak ada ruang untuk ketenangan yang Allah turunkan. Ketenangan itu hanya milik mereka yang hatinya terpaut pada Allah. — Ustadzah Halimah Alaydrus
Resep “Obat Kuat” dari Rasulullah ﷺ
Lalu, apa solusinya? Apakah harus berhenti bekerja atau menutup akun media sosial? Tidak harus ekstrem begitu. Ustadzah Halimah mengajak kita menengok kembali kisah putri tercinta Rasulullah ﷺ, Sayyidah Fatimah Az-Zahra.
Pernah suatu ketika, Sayyidah Fatimah merasa sangat lelah mengurus rumah tangga hingga tangannya kasar karena menggiling gandum. Beliau mendatangi Ayahandanya, Nabi Muhammad ﷺ, untuk meminta seorang pembantu.
Apa yang diberikan Rasulullah ﷺ? Bukan pembantu, bukan pula uang. Beliau justru memberikan sebuah amalan dzikir sebelum tidur.
Rasulullah ﷺ bersabda kepada putri dan menantunya, Ali bin Abi Thalib:
أَلاَ أُعَلِّمُكُمَا خَيْرًا مِمَّا سَأَلْتُمَا؟ إِذَا أَخَذْتُمَا مَضَاجِعَكُمَا أَنْ تُكَبِّرَا اللهَ أَرْبَعًا وَثَلاَثِيْنَ، وَتُسَبِّحَاهُ ثَلاَثًا وَثَلاَثِيْنَ، وَتَحْمَدَاهُ ثَلاَثًا وَثَلاَثِيْنَ، فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمَا مِنْ خَادِمٍ
“Maukah kalian aku ajarkan sesuatu yang lebih baik daripada yang kalian minta? Apabila kalian hendak tidur, bertakbirlah (Allahu Akbar) 34 kali, bertasbihlah (Subhanallah) 33 kali, dan bertahmidlah (Alhamdulillah) 33 kali. Itu lebih baik bagi kalian daripada seorang pembantu.”
— HR. Bukhari dan Muslim.
Mengapa Dzikir Lebih Baik dari Pembantu?
Di sini letak rahasianya. Ustadzah Halimah menekankan bahwa fisik yang kuat itu bermula dari hati yang kuat.
Dzikir Tasbih Fatimah ini bukan sekadar bacaan komat-kamit sebelum tidur. Ini adalah “charger” untuk jiwa seorang mukmin. Ketika hati ditenangkan dengan memuji Allah, fisik akan ikut menguat.
Banyak muslimah hari ini yang “baterainya bocor”. Diisi istirahat fisik, tapi bangun tidur tetap capek. Kenapa? Karena jiwanya tidak istirahat; jiwanya masih cemas memikirkan dunia.
Berikut adalah langkah praktis untuk muslimah agar kembali tenang:
- Rutinkan Tasbih Fatimah: Jangan remehkan amalan sebelum tidur ini. Niatkan untuk meminta kekuatan kepada Allah agar besok bisa beribadah lebih baik.
- Kurangi “Scroll” Tambah Tilawah: Alihkan waktu 15 menit yang biasa dipakai untuk melihat story orang lain, menjadi waktu untuk membaca Al-Qur’an.
- Jaga Pandangan Hati: Jangan membandingkan dapur kita dengan ruang tamu orang lain. Syukuri apa yang ada di genggaman.
Kembali ke Fitrah
Kecantikan dan kekuatan sejati seorang wanita bukan terletak pada skincare mahal atau jabatan tinggi, melainkan pada kejernihan hatinya.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an tentang kunci ketenangan ini:
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” — QS. Ar-Ra’d: 28.
Mari kita tata ulang prioritas kita. Jadikan Allah sebagai satu-satunya tempat bersandar, dan teladani Sayyidah Fatimah dalam kesederhanaan dan ketaatan. InsyaAllah, lelah itu akan berubah menjadi lillah, dan gelisah itu akan berganti menjadi sakinah.
Wallahu a’lam bishawab.

