Puncak Haul Solo: Pesan Kemanusiaan Habib Umar untuk Palestina

Habib Umar bin Hafidz dalam puncak Haul Solo mengingatkan hakikat hidup fana, sekaligus menyerukan pesan kemanusiaan dan doa untuk perjuangan Palestina.

Nabawi TV
4 Menit Bacaan

Puncak peringatan Haul Al-Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi (Haul Solo 2025) kembali menyedot perhatian umat Islam. Ribuan jamaah memadati area Masjid Riyadh, Solo, larut dalam kekhusyukan dan kerinduan kepada Rasulullah ﷺ.

Di tengah lautan manusia tersebut, Ulama Besar Dunia asal Yaman, Al-Habib Umar bin Hafidz, menyampaikan tausiah yang sangat mendalam. Beliau tidak hanya berbicara tentang spiritualitas, tetapi juga menyentuh isu kemanusiaan global yang sedang hangat, yakni kondisi di Palestina.

Apa Arti “Hidup” yang Sesungguhnya?

Habib Umar membuka ceramahnya dengan pertanyaan filosofis yang menggugah: Apa gerangan kehidupan tersebut yang kita dapatkan apabila kita menjawab ajakan Allah dan Rasul-Nya? [03:48]

Banyak orang mengira “hidup” hanyalah bernapas, makan, dan beraktivitas. Namun, bagi Habib Umar, hakikat hidup adalah ketika hati tersambung dengan Allah. Beliau menjelaskan bahwa ciri hati yang hidup adalah adanya Sujud Hakiki.

Ciri tanda kehidupan yang hakikat tersebut sujudnya dia untuk Allah… dengan mengagungkan Allah di dalam segala perkaranya.
– Habib Umar bin Hafidz [05:05]

Sujud ini bukan sekadar menempelkan dahi ke lantai, melainkan ketundukan hati yang total. Ketika hati sudah bersujud kepada keagungan Allah, ia tidak akan pernah bangkit lagi untuk menyombongkan diri selamanya.

“Hijrah” Hati: Memboikot Penyakit Jiwa

Dalam ceramahnya, Habib Umar mengajak jamaah untuk melakukan “hijrah” di tempat. Hijrah yang dimaksud bukan berpindah kota, melainkan memboikot segala larangan Allah, terutama yang bersarang di dalam hati.

Beliau merinci beberapa “penyakit” yang harus diboikot segera:

  1. Kesombongan (Takabur): Merasa diri lebih baik dari orang lain. “Gak bakalan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada satu titik kesombongan,” tegas Habib Umar [36:52].
  2. Ujub: Takjub pada amal sendiri. Habib Umar menceritakan kisah seseorang yang wajahnya terlihat ada “bekas tamparan setan” karena merasa dirinya paling sholeh di suatu majelis [37:46].
  3. Hasad (Dengki): Iri terhadap nikmat orang lain. Hasad diibaratkan api yang memakan kayu bakar kering; ia menghanguskan pahala amal kita dengan sangat cepat [39:41].
  4. Suudzon: Berprasangka buruk kepada sesama hamba Allah.

Pesan Tegas untuk Palestina

Di penghujung ceramahnya, nada bicara Habib Umar menjadi penuh haru namun tegas ketika menyinggung tentang Palestina. Beliau mendoakan agar kegembiraan warga Palestina atas gencatan senjata tidak dikhianati oleh musuh-musuh Allah.

Habib Umar menyoroti ironi “kemajuan” yang digembar-gemborkan oleh dunia modern namun menutup mata terhadap kejahatan kemanusiaan.

Apa yang mereka gembar-gembarkan kemuliaan, kemajuan, dan modernitas… yang ternyata dalam 2 tahun tiap hari berapa pembantaian yang mereka lakukan terhadap kaum laki-laki, kaum wanita, dan anak-anak kecil?
– Habib Umar bin Hafidz [48:06]

Beliau mengkritik keras penghancuran rumah sakit, sekolah, masjid, hingga tenda pengungsi. Bagi Habib Umar, keadilan sejati bukanlah yang dipertontonkan oleh standar ganda dunia saat ini, melainkan keadilan yang diajarkan oleh Nabi Muhammad ﷺ—keadilan yang membebaskan dan memanusiakan manusia.

Penutup: Janji Berkumpul di Hari Kiamat

Menutup majelis yang agung ini, Habib Umar mengingatkan bahwa pertemuan di Solo ini adalah “latihan” untuk pertemuan yang lebih besar kelak.

Wahai orang yang hadir acara ini, setelah kumpulan ini kita ada perkumpulan janji ngumpul di hari kiamat.
– Habib Umar bin Hafidz [49:59]

Beliau berdoa agar tidak ada satu pun hati yang hadir di majelis tersebut kecuali dihidupkan dengan cahaya makrifat dan cinta. Pulang dari Solo, jamaah diharapkan tidak hanya membawa oleh-oleh fisik, tetapi membawa hati yang baru—hati yang bersih dari dengki, dan hati yang peduli pada penderitaan saudara seiman di Palestina.

Bagikan Artikel Ini
Tidak ada komentar