Di era digital yang melaju secepat kilat, kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan kita. Mulai dari algoritma media sosial hingga mesin pencari jawaban instan, AI hadir di mana-mana. Namun, bagaimana seharusnya seorang Muslim menyikapi fenomena ini? Apakah kita harus menolaknya mentah-mentah, atau justru merangkulnya tanpa filter?
Dalam sebuah bincang eksklusif di Nabawi TV, Rektor Universitas Al-Ahgaff Yaman, Prof. Dr. Abdullah Baharun, memberikan pandangan yang sangat mendalam dan kritis mengenai posisi umat Islam di tengah gempuran teknologi AI. Beliau mengingatkan bahwa pertarungan sesungguhnya bukanlah melawan teknologi itu sendiri, melainkan melawan nilai dan ideologi yang ditanamkan di baliknya.
AI: Pisau Bermata Dua
Prof. Abdullah Baharun membuka diskusi dengan analogi yang sangat kuat. Beliau mengibaratkan teknologi seperti sebilah pedang.
Pedang di tangan musuhmu bertujuan untuk membunuhmu. Pedang yang sama di tanganmu bertujuan untuk melindungimu dari musuh. [09:45]
Artinya, AI hanyalah alat (tools). Masalahnya bukan pada kecerdasannya, tetapi pada siapa yang mengendalikannya. Saat ini, pengembangan AI masih didominasi oleh kekuatan Barat yang membawa nilai-nilai kapitalisme, liberalisme, dan post-modernisme. Jika kita tidak waspada, AI bisa menjadi alat penjajahan baru yang tidak lagi merampas tanah, tetapi membajak kesadaran, pikiran, dan hati kita [11:00].
Bahaya “Fatwa Mesin” (AI-Fat)
Salah satu fenomena yang meresahkan adalah munculnya istilah “AI-Fat”, di mana orang mencari panduan agama langsung dari mesin AI. Prof. Abdullah memperingatkan bahaya besar di balik tren ini.
AI yang ada saat ini diprogram dengan dataset yang berorientasi Barat. Mereka ingin “mereproduksi” Islam agar sesuai dengan sistem mereka—sistem yang menguntungkan kapitalisme global.
Tidak diperbolehkan bagi manusia atau mesin buatan manusia untuk mengatakan ‘ini halal’ atau ‘ini haram’ tanpa izin Allah SWT. [14:18]
Jika kita menyerahkan otoritas keilmuan agama kepada AI tanpa filter, kita berisiko mendapatkan fatwa-fatwa yang telah dimanipulasi untuk melemahkan akidah dan melayani kepentingan korporasi global. Menjaga kemurnian agama adalah tugas ulama, bukan tugas algoritma.
Strategi Melawan: Kendalikan, Jangan Dikendalikan!
Lantas, apa yang harus dilakukan umat Islam? Prof. Abdullah Baharun tidak menyarankan kita lari ke gua dan menjauhi teknologi. Sebaliknya, beliau menyerukan dua strategi perlawanan:
- Kuasai Teknologinya: Kita harus menjadi pemain, bukan hanya konsumen. Umat Islam harus berpartisipasi dalam pengembangan AI agar bisa mandiri dan tidak diperbudak oleh sistem asing [05:04].
- Bangun AI Islami: Institusi pendidikan Islam dan pesantren harus berkolaborasi membuat database atau platform AI sendiri. AI ini harus diisi dengan khazanah keilmuan Islam yang otentik (Al-Qur’an, Hadits, Fiqih) yang terlindungi dari distorsi ideologi luar [13:00].
Universitas Al-Ahgaff sendiri telah memulai langkah konkret dengan membuka fakultas komputer untuk mengajarkan AI dan merancang proyek digitalisasi turats (warisan) Islam yang terproteksi.
Tetap Terikat pada Salaf di Era Modern
Di akhir perbincangan, Prof. Abdullah memberikan nasihat emas tentang bagaimana menjaga keberkahan (barakah) di era informasi ini. Prinsipnya sederhana namun fundamental: Tampilan boleh modern/kreatif, namun jiwa harus tetap terikat kuat pada Salafus Sholeh.
Mengikuti jejak Salaf bukan berarti menolak kemajuan zaman, melainkan menjaga “imunitas” diri agar tidak hanyut dalam arus pencucian otak (brainwashing) yang dilakukan oleh media global. Kita harus aktif membanjiri ruang siber dengan konten-konten positif, dakwah yang menyejukkan, dan klarifikasi atas kesalahpahaman tentang Islam.
Kita harus melawan balik. Kita harus memberikan konten tandingan. Kita harus aktif di ruang siber ini untuk melindungi pemuda Muslim dari konten-konten yang merusak. [17:45]
Mari jadikan teknologi sebagai ladang dakwah, bukan berhala baru yang mendikte cara kita berpikir dan beragama.
Wallahu a’lam bishawab.

