NABAWI TV – Kelahiran Nabi Muhammad ﷺ di kota Makkah adalah anugerah terbesar bagi alam semesta. Tempat yang mulia, waktu yang berkah, dan hati-hati yang terpaut cinta kepada beliau, semuanya menjadi saksi atas keagungan sosok manusia pilihan ini. Dalam sebuah tausiyah yang menyentuh kalbu, Habib Muhsin Idrus Al-Hamid mengajak kita merenungi keberuntungan menjadi umat Nabi Muhammad ﷺ dan pentingnya menghadirkan hati dalam setiap ibadah.
Betapa beruntungnya mata yang pernah menatap wajah mulia Rasulullah ﷺ, dan betapa besarnya kerinduan kita untuk bisa berjumpa dengan beliau kelak. Lantas, bagaimana cara kita memupuk rasa cinta itu di tengah kesibukan dunia? Berikut intisari nasihat Habib Muhsin Idrus Al-Hamid.
Keberuntungan Menjadi Umat Nabi Muhammad ﷺ
Habib Muhsin menekankan bahwa umat Nabi Muhammad ﷺ adalah umat yang paling beruntung di muka bumi. Mengapa? Karena tidak ada manusia yang bisa mengenal Allah ﷻ sebagaimana Allah mengenalkan diri-Nya melalui lisan Nabi Muhammad ﷺ. Ajaran beliau adalah jalan lurus (Shiratal Mustaqim) yang menjamin keselamatan dunia dan akhirat.
“Alangkah nikmatnya orang yang bisa meneteskan air matanya rindu Nabi Muhammad ﷺ… Beruntung mata yang melihat orang yang cinta kepada Nabi Muhammad… Beruntung mata yang melihat orang-orang yang pernah menatap wajah Nabi Muhammad ﷺ.” —Habib Muhsin Idrus Al-Hamid
Setiap hari, kita diajarkan untuk mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim dan Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin. Ini bukan sekadar ucapan, melainkan pujian dan pengakuan yang dikehendaki Allah dengan cara-Nya sendiri. Sebuah kemuliaan yang tak tertandingi oleh ajaran manapun.
Shalat: Dialog Hati dengan Sang Pencipta
Seringkali shalat hanya menjadi ritual gerakan fisik tanpa kehadiran hati. Habib Muhsin mengingatkan nasihat gurunya, Al-Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf, bahwa yang dilihat Allah dalam majelis dan ibadah adalah qolbu (hati/batin) kita.
Beliau mengajak kita untuk meresapi makna Surah Al-Fatihah, khususnya pada ayat:
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
“Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.” —QS. Al-Fatihah: 5
Ketika mengucapkan ayat ini, sadarilah bahwa kita sedang “meminta” langsung kepada Allah. “Minta kepadaku,” kata Allah, “Minta pertolongan kepadaku”. Jika shalat kita dipenuhi kesadaran ini, maka dada akan terasa lapang, kebencian hilang, dan penyakit hati akan sembuh.
Membersihkan Batin Sebelum Menghadap Allah
Agar shalat terasa nikmat dan khusyu’, persiapan batin mutlak diperlukan. Sebagaimana kita membersihkan wajah, tangan, dan kaki saat berwudhu, kita juga harus membersihkan batin dari segala kotoran hawa nafsu.
“Bersihkan telinga dari segala macam suara-suara yang kita dengar, berkumur dari segala kotoran hawa nafsu yang sering kita ucapkan,” pesan Habib Muhsin. Dengan hati yang bersih, takbiratul ihram Allahu Akbar akan terasa menggetarkan jiwa, seolah langit terbuka menyambut kehadiran hamba-Nya.
Harapan Berjumpa Sang Kekasih
Di akhir tausiyah, Habib Muhsin memimpin doa yang penuh harap agar kelak saat dibangkitkan dari kubur, kita termasuk golongan yang gembira karena akan bertemu Rasulullah ﷺ. Beliau juga mengajak jamaah untuk mengulang-ulang bacaan Surah Al-Fatihah dengan penuh penghayatan, sebagai sarana membersihkan batin yang masih sering lalai.
Semoga kita semua dikaruniai hati yang bersih, shalat yang khusyu’, dan kelak dipertemukan dengan wajah agung Nabi Muhammad ﷺ di surga-Nya.
Wallahu a’lam bishawab.

