Pedang Itu Patah, Tapi Justru Semakin Tajam? Menyingkap Filosofi Politik Thariqah Alawiyah

Mengapa Al-Faqih Al-Muqaddam mematahkan pedangnya? Sebuah simbol spiritual tentang kekuasaan, politik, dan jihad melawan hawa nafsu.

Nabawi TV
5 Menit Bacaan

NABAWI TV – Pernahkah Anda membayangkan seorang tokoh besar, yang memiliki pengaruh luas dan kekuatan kabilah yang disegani, justru memilih untuk mematahkan pedangnya di hadapan ribuan pengikutnya? Ini bukan tanda menyerah, melainkan sebuah deklarasi revolusi spiritual yang mengubah wajah sejarah Yaman dan dunia Islam hingga hari ini.

Peristiwa monumental ini dilakukan oleh Al-Faqih Al-Muqaddam Muhammad bin Ali Ba’alawi. Dalam sebuah kajian istimewa bersama Habib Husein Nabil Assegaf, kita diajak menyelami makna di balik “patahnya pedang” tersebut dan bagaimana seharusnya sikap seorang muslim—khususnya para penempuh jalan Thariqah Alawiyah—dalam memandang gemerlap kekuasaan dan politik.

Simbol Patahnya Pedang Duniawi

Di masa Al-Faqih Al-Muqaddam, pertumpahan darah akibat perebutan kekuasaan dan fanatisme kabilah adalah hal yang lumrah. Namun, beliau mengambil langkah radikal. Beliau mematahkan pedang fisiknya sebagai simbol pengumuman bahwa jalan hidupnya, datuk-datuknya, dan keturunannya adalah jalan yang menjauhi ambisi kekuasaan duniawi.

Menurut Habib Husein Nabil Assegaf (00:13:51), tindakan ini memiliki makna yang sangat dalam. Pedang fisik memang dipatahkan, namun pada saat yang sama, beliau menghunuskan “pedang rohani”.

Pedang mereka adalah ilmu dan amal. Pedang yang mematahkan nafsu, mematahkan karakter tabiat yang tercela, mematahkan sifat kikir, dan ego. — Habib Husein Nabil Assegaf

Inilah jihad yang sesungguhnya. Pedang fisik mungkin bisa menaklukkan wilayah, namun pedang ilmu dan amal menaklukkan hati menuju ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Mengapa Para Salaf Menjauhi Kekuasaan?

Mungkin timbul pertanyaan di benak kita, bukankah kekuasaan itu bisa menjadi sarana untuk menegakkan keadilan? Mengapa para Salafuna Shalihin cenderung “lari” dari jabatan?

Jawabannya bukan karena mereka apatis, melainkan karena mereka sangat memahami beratnya tanggung jawab di akhirat kelak. Rasulullah ﷺ pernah mengingatkan tentang beratnya amanah kepemimpinan:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya atas yang dipimpinnya.” — HR. Bukhari dan Muslim

Habib Husein Nabil menjelaskan (00:18:26) bahwa mengurus “gembala” dalam lingkup keluarga saja sudah berat pertanggungjawabannya, apalagi mengurus urusan umat yang luas. Para Salaf memilih untuk menyibukkan diri memperbaiki umat dari akarnya—yaitu hati dan akhlak masyarakat—daripada terjebak dalam fitnah kekuasaan yang seringkali melalaikan dari tujuan utama: Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Adab Berinteraksi dengan Penguasa

Meski menjauhi jabatan, bukan berarti Thariqah Alawiyah mengajarkan untuk memusuhi pemerintah atau menjadi pemberontak. Sebaliknya, mereka juga tidak mengajarkan untuk menjadi penjilat yang menggadaikan agama demi kedekatan dengan pejabat.

Sikap para Salaf adalah sikap yang elegan dan bermartabat. Mereka tetap menghormati penguasa yang sah, namun menjaga jarak untuk menjaga kemurnian hati. Jika harus memberi nasihat, mereka menyampaikannya dengan cara yang santun, sebagaimana perintah Allah kepada Nabi Musa dan Nabi Harun saat menghadapi Firaun sekalipun:

فَقُولَا لَهُۥ قَوْلًا لَّيِّنًا لَّعَلَّهُۥ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ

“Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.” — (QS. Thaha: 44)

Habib Husein Nabil mencontohkan sosok Habib Anis bin Alwi Al-Habsyi Solo (00:24:47). Beliau menerima pejabat yang datang bertamu dengan hormat, namun memposisikan mereka sebagai tamu atau murid yang butuh nasihat, bukan memberi panggung politik di majelis ilmu. Sebuah keseimbangan adab yang luar biasa indah.

Politik di Era Demokrasi: Aktif atau Pasif?

Di era demokrasi saat ini, bagaimana sebaiknya sikap kita? Apakah kita harus golput (tidak memilih) karena ingin meniru para Salaf?

Habib Husein Nabil memberikan pandangan yang sangat bijak (00:33:10). Menggunakan hak pilih adalah boleh, bahkan penting, sebagai bentuk ikhtiar mencari pemimpin yang paling sedikit mudharatnya bagi umat. Kita tidak ingin naik pemimpin yang justru menghalangi ibadah atau memecah belah bangsa.

Namun, ada garis batas yang tegas: Jangan terlibat aktif sebagai juru kampanye atau masuk dalam politik praktis.

Mengapa? Karena jika seorang dai atau penuntut ilmu masuk ke dalam satu partai, dakwahnya akan terkotak-kotak. Kasih sayangnya menjadi terbatas hanya untuk golongannya saja. Padahal, tugas utama pewaris Nabi adalah mengayomi seluruh umat tanpa memandang warna bendera.

Tugas kita adalah memperbaiki rakyat. Sebagaimana pesan Imam Abdullah bin Alwi Al-Haddad dalam kitab Ad-Dakwah At-Tammah, pemimpin adalah cerminan dari rakyatnya. Jika kita berhasil mendidik masyarakat menjadi baik, niscaya Allah akan menghadirkan pemimpin yang baik pula dari tengah-tengah mereka.

Wallahu a’lam bishawab.

Bagikan Artikel Ini
Tidak ada komentar