Nikah Itu “Horor”? Jangan-jangan Kamu Cuma Terjebak Algoritma Ketakutan!

Viral tren 'Marriage is Scary' menghantui Gen Z. Jangan buru-buru cemas! Temukan jawaban mengapa janji Allah jauh lebih pasti daripada algoritma media sosial.

Nabawi TV
5 Menit Bacaan

NABAWI TV – Pernahkah Anda membuka media sosial belakangan ini dan merasa dada sesak? Di tengah ramainya lini masa, rasanya hampir setiap hari kita disuguhi konten bertajuk “Marriage is Scary”. Isinya bermacam-macam, mulai dari cerita perselingkuhan yang bikin geleng-geleng kepala, mertua yang ikut campur urusan rumah tangga, hingga masalah finansial yang mencekik.

Bagi mereka yang belum menikah, rentetan konten ini seolah menjadi “teror” mental. Tak sedikit anak muda yang akhirnya memproklamirkan diri takut menikah, atau bahkan enggan membicarakannya sama sekali. Pertanyaannya, apakah pernikahan seseram itu? Atau jangan-jangan, kita hanya sedang terjebak dalam ketakutan yang kita ciptakan sendiri?

Mari kita duduk sejenak dan mengupas fenomena ini dengan hati yang lebih tenang.

Validasi Rasa Takut: Antara Waspada dan Paranoid

Dalam Islam, rasa takut atau khawatir itu manusiawi. Bahkan, pernikahan disebut dalam Al-Qur’an sebagai Mitsaqan Ghaliza (perjanjian yang berat/kokoh). Ini bukan main-main. Wajar jika seorang Muslim merasa gentar memikul tanggung jawab sebesar itu.

Namun, ada garis tipis antara kehati-hatian (ihtiyath) dan ketakutan yang berlebihan (waham). Jika rasa takut itu membuat kita lebih selektif memilih pasangan, memperbaiki diri, dan belajar ilmu parenting atau fikih munakahat, maka itu adalah takut yang produktif.

Akan tetapi, jika ketakutan itu membuat kita berburuk sangka (su’udzon) kepada takdir Allah, merasa bahwa “semua laki-laki/perempuan sama saja buruknya”, maka di sinilah letak kekeliruannya. Kita lupa bahwa apa yang viral di media sosial hanyalah potongan kecil dari realitas. Jutaan rumah tangga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah tidak masuk FYP (For Your Page) karena kebahagiaan yang tenang memang jarang “menjual” untuk dijadikan konten.

Janji Allah vs Logika Matematika Manusia

Salah satu pemicu utama tren “Marriage is Scary” adalah ketakutan finansial. “Gaji pas-pasan, gimana mau nikah?” “Nanti kalau punya anak, biayanya gimana?”

Logika matematika manusia memang seringkali mentok di kalkulator. Tapi, matematika Allah bekerja dengan cara yang berbeda. Allah SWT berfirman dengan janji yang sangat tegas bagi mereka yang menikah dengan niat menjaga kehormatan diri:

وَاَنۡكِحُوا الۡاَيَامٰى مِنۡكُمۡ وَالصّٰلِحِيۡنَ مِنۡ عِبَادِكُمۡ وَاِمَآٮِٕكُمۡ‌ ؕ اِنۡ يَّكُوۡنُوۡا فُقَرَآءَ يُغۡنِهِمُ اللّٰهُ مِنۡ فَضۡلِهٖ‌ ؕ وَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيۡمٌ

“Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” — (QS. An-Nur: 32).

Ayat ini adalah garansi dari Dzat Yang Maha Kaya. Tentu saja, rezeki tidak jatuh dari langit begitu saja, tetapi pintu-pintu rezeki seringkali terbuka lebar setelah pernikahan, lewat jalan yang tidak disangka-sangka.

Jangan Salah Fokus pada “Siapa”, Tapi “Bagaimana”

Seringkali ketakutan muncul karena kita fokus mencari sosok yang “sempurna” agar tidak tersakiti. Padahal, manusia tidak ada yang sempurna. Rasulullah ﷺ memberikan panduan sederhana namun fundamental agar pernikahan tidak menjadi “horor”:

تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ: لِمَالِهَا، وَلِحَسَبِهَا، وَلِجَمَالِهَا، وَلِدِينِهَا. فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ

“Wanita itu dinikahi karena empat hal: karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Maka pilihlah yang memiliki agama (yang baik), niscaya engkau akan beruntung.” — (HR. Bukhari no. 5090 dan Muslim no. 1466).

Hadits ini berlaku juga bagi wanita dalam memilih suami. Ketika standar utamanya adalah agama dan akhlak, maka risiko-risiko yang ditakutkan—seperti KDRT atau pengabaian hak—dapat diminimalisir. Orang yang takut kepada Allah tidak akan menzalimi pasangannya. Jika ia cinta, ia memuliakan. Jika ia marah, ia tidak menghina.

Mengubah “Scary” Menjadi “Sacred”

Alih-alih terus-menerus mengonsumsi konten yang membuat cemas, mari ubah mindset kita. Pernikahan bukan sekadar roommate seumur hidup, tapi ibadah terpanjang.

  • Matikan notifikasi ketakutan: Kurangi melihat konten curhat rumah tangga yang toksik.
  • Nyalakan sinyal ilmu: Hadiri majelis ilmu, pelajari hak dan kewajiban suami istri.
  • Libatkan Allah: Perbanyak shalat istikharah dan doa.

Menikah itu bukan tentang “siap atau tidak siap” secara materi semata, melainkan tentang kesiapan untuk tumbuh bersama dan saling memaafkan. Jangan biarkan ketakutan akan masa depan menghalangimu menyempurnakan separuh agama.

Wallahu a’lam bishawab.

Bagikan Artikel Ini
Tidak ada komentar