Di era digital yang serba terbuka, arus informasi mengalir deras tanpa terbendung. Namun, di balik kemudahan akses pengetahuan, terselip fenomena yang meresahkan: maraknya konten Islamofobia dan fitnah yang menyerang akidah umat Islam.
Banyak kanal media sosial dengan jutaan pengikut yang secara masif menyebarkan narasi bahwa Islam adalah agama yang buruk, Al-Qur’an adalah kitab palsu, bahkan tuduhan keji bahwa Nabi Muhammad ﷺ adalah sosok yang bermasalah.
Dalam sebuah kajian mendalam di Nabawi TV, Gus Wafi (Al-Faqir Abdul Wafi) hadir sebagai garda terdepan (Mujahid/Apologet) untuk meluruskan kesalahpahaman tersebut. Beliau mengupas tuntas berbagai fitnah “kelas kakap” yang sering dilontarkan oleh para pembenci Islam, seperti tokoh kontroversial Christian Prince.
Berikut adalah rangkuman jawaban cerdas dan ilmiah dari Gus Wafi atas tuduhan-tuduhan tersebut:
1. Fitnah “Allah Maha Penipu” (Khairul Makirin)
Salah satu serangan yang sering dilontarkan adalah tuduhan bahwa Allah adalah “Sang Maha Penipu”. Tuduhan ini muncul karena kesalahpahaman fatal dalam menerjemahkan ayat Al-Qur’an: “Wallahu khairul makirin” (Dan Allah adalah sebaik-baik pembalas tipu daya).
Gus Wafi menjelaskan dengan analogi yang sangat logis:
Ketika ada polisi yang bisa memberikan tipu daya kepada para penjahat sehingga penjahat itu bisa dijebloskan ke penjara, maka apakah kemudian tipu daya yang dilakukan oleh polisi ini konotasinya buruk? Kan tidak. [06:34]
Kata Al-Makar dalam bahasa Arab bermakna mengatur siasat secara tersembunyi. Ketika orang kafir membuat makar jahat, Allah membalasnya dengan strategi yang jauh lebih jitu untuk menyelamatkan orang beriman. Ini adalah bukti kekuasaan, bukan keburukan.
Justru, jika kita menengok kitab sebelah (Perjanjian Lama), Gus Wafi menunjukkan fakta mengejutkan di mana Tuhan dinarasikan menaruh “roh dusta” ke dalam mulut para nabi untuk menyesatkan umat [09:13]. Jadi, siapa sebenarnya yang memiliki konsep Tuhan yang menyesatkan?
2. Tuduhan Tuhan Punya Betis dan Kaki?
Fitnah lain yang sering muncul adalah upaya menyamakan Allah dengan manusia (antropomorfisme) hanya karena ada ayat Al-Qur’an yang menyebutkan “betis” atau “tangan” Allah. Contohnya Surah Al-Qalam ayat 42: “Yauma yuksyafu ‘an saaqin” (Hari di mana betis disingkapkan).
Gus Wafi menegaskan pentingnya memahami bahasa Arab dan ilmu Balaghah (sastra).
Kata ‘Yauma yuksyafu ‘an saaqin’ adalah kinayah (kiasan) yang menerangkan tentang ekstremnya hal yang terjadi di hari kiamat. [13:28]
Ini adalah metafora tentang kedahsyatan hari kiamat, bukan berarti Tuhan memiliki betis fisik seperti manusia. Allah tegas berfirman dalam Surah Al-Ikhlas bahwa Dia Esa (Ahad) dan tidak setara dengan apapun (Walam yakun lahu kufuwan ahad).
3. Benarkah Allah Hanya Tuhan Kota Mekkah?
Para penghujat juga sering memelintir Surah An-Naml ayat 91: “Aku hanya diperintahkan untuk menyembah Tuhan negeri (Mekkah) ini…” Mereka menuduh bahwa Allah hanya berkuasa di Mekkah, bukan Tuhan semesta alam.
Gus Wafi menjawabnya dengan cerdas menggunakan analogi Presiden. Jika Presiden Indonesia berpidato di Aceh dan berkata “Saya adalah Presiden rakyat Aceh”, apakah berarti beliau bukan Presiden rakyat Surabaya? Tentu tidak. Penyebutan khusus Mekkah adalah bentuk pemuliaan (Tasyrif), bukan pembatasan kekuasaan. Buktinya, ratusan ayat lain menegaskan Allah sebagai Rabbul ‘Alamin (Tuhan Semesta Alam).
Sebaliknya, Gus Wafi justru menantang balik dengan data dari kitab mereka sendiri yang berulang kali menyebut Tuhan sebagai “Allah Israel” (Lukas 1:68). Mengapa Tuhan mereka seolah hanya milik satu etnis saja? [25:31]
4. Misteri Penyaliban: Siapa yang Ada di Tiang Salib?
Tuduhan paling klasik adalah bahwa Al-Qur’an memfitnah sejarah karena mengatakan Nabi Isa AS tidak disalib, padahal tidak menyebutkan siapa penggantinya.
Gus Wafi mengingatkan bahwa Al-Qur’an bukan “Kitab Suci Request” atau menu makanan yang isinya harus sesuai keinginan pembaca [28:47]. Tujuan kisah para nabi dalam Al-Qur’an adalah untuk meneguhkan hati Rasulullah ﷺ (Linutsabbitu bihi fuadak), bukan untuk merinci kronologi sejarah kriminal.
Secara ilmiah dan historis, peristiwa penyaliban itu sendiri penuh dengan kerancuan. Gus Wafi memaparkan perbedaan fatal dalam Injil-injil Kanonik:
- Markus: Yesus disalib jam 9 pagi.
- Yohanes: Jam 12 siang Yesus masih diadili.
- Ucapan Terakhir: Ada yang bilang “Eloi, Eloi, lama sabachthani” (Tuhanku, mengapa Engkau meninggalkan aku?), ada yang bilang “Sudah selesai”, ada pula “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu kuserahkan nyawaku”.
Mana yang benar? Jika kitab suci mereka sendiri saling bertentangan tentang momen paling krusial ini, bagaimana mungkin mereka menuduh Al-Qur’an berbohong?
Pesan untuk Umat Islam: Rapatkan Barisan!
Menutup kajiannya, Gus Wafi memberikan peringatan keras. Gerakan pemurtadan dan hujatan terhadap Islam semakin terorganisir, baik melalui narasi syubhat di medsos maupun jalur pernikahan dan ekonomi.
Kebenaran yang tidak terorganisir akan dikalahkan oleh kebatilan yang terorganisir. (Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA) [41:16]
Hukum mempelajari jawaban atas fitnah-fitnah ini adalah Fardhu Kifayah. Mari kita bentengi akidah diri dan keluarga, serta dukung para Mujahid dakwah yang berjuang meluruskan pemahaman umat.
Wallahu a’lam bishawab.

