NABAWI TV – Kota Solo dikenal sebagai salah satu sentra pergerakan dakwah dan majelis ilmu yang ramai. Di tengah keberlimpahan Majelis Taklim yang sudah ada, seorang ulama muda, Ustaz Muhammad bin Husin Al Habsyi, justru memilih merintis sebuah madrasah diniah dengan kurikulum yang ketat. Ini bukan tentang menambah jumlah wadah, melainkan tentang menjawab kebutuhan pendidikan agama yang terstruktur bagi masyarakat, pelajar, dan mahasiswa yang tidak memiliki kesempatan untuk mondok di pesantren. Inilah kisah berdirinya Madrasah Riyadul Ilmi, yang kini telah bertransformasi dari sekadar ruang tamu menjadi lembaga pendidikan yang menaungi ratusan santri dari berbagai usia.
Menghidupkan Tradisi Masjid Riyad: Dari Ruang Tamu ke Tiga Tingkat
Gagasan mendirikan madrasah ini muncul setelah Ustaz Muhammad menyelesaikan pendidikannya di bangku kuliah (Akuntansi) dan pondok pesantren di bawah asuhan Habib Taufiq bin Abdul Qadir Assegaf [03:36]. Sebagai seorang yang telah menimba ilmu, beliau merasa memiliki tanggung jawab untuk mengamalkan dan mengajarkannya [03:55].
Awalnya, madrasah ini dimulai secara sederhana di ruang tamu rumah beliau, dengan hanya dua kelas [00:44]. Seiring berjalannya waktu, jumlah santri yang tercatat kini mencapai lebih dari 200 orang, memaksa Madrasah Riyadul Ilmi harus menyewa rumah kontrakan hingga akhirnya mampu membeli tanah baru.
Nama Riyadul Ilmi (Taman Ilmu) sendiri dipilih sebagai bentuk penghormatan dan penyambung sanad keilmuan kepada kakek beliau, Al-Habib Muhammad Anis bin Alawi Al Habsyi, yang juga menamakan masjidnya Masjid Riyad [05:37].
Orang kalau sudah punya ilmu bukan berarti selesai, dia masih punya tugas. Apa tugasnya? Ya tadi mengamalkan ilmunya dan juga termasuk di dalam pengamalan ilmu adalah mengajarkan ilmu.
— Ustaz Muhammad bin Husin Al Habsyi [03:55]
Kurikulum Madrasah: Memadukan Takhasus dan Kebutuhan Masyarakat
Berbeda dengan Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) yang umumnya hanya fokus pada membaca Al-Qur’an, Madrasah Riyadul Ilmi menerapkan konsep kurikulum terstruktur: ada ujian, rapor, dan kenaikan kelas, yang membuat proses belajar agama lebih terukur [04:43].
Kurikulum ini dibagi menjadi beberapa kelas utama yang mengakomodasi berbagai kebutuhan dan kesibukan santri:
- Kelas Takhasus: Ini adalah kelas intensif yang menerapkan sistem ala pondok pesantren murni. Santri belajar kitab kuning, fiqih, dan nahwu dasar. Ujiannya pun dilakukan menggunakan Bahasa Arab [08:01]. Kelas ini diperuntukkan bagi mereka yang ingin mendalami ilmu agama tetapi terhalang untuk tinggal di pesantren.
- Kelas Syariat: Ditujukan bagi santri yang memiliki kesibukan padat (kuliah, kerja) sehingga hanya mampu mempelajari dasar-dasar syariat yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari [08:32].
- Kelas Qur’an: Fokus pada pembelajaran Al-Qur’an, baik untuk anak-anak maupun dewasa [08:53].
Bukan Sekadar TPA: Dari Usia 10 hingga 56 Tahun
Madrasah Riyadul Ilmi telah menjadi oase ilmu bagi segala usia. Batas umur minimal santri adalah 10 tahun, namun batas maksimalnya tidak terbatas. Santri yang tercatat saat ini terdiri dari anak SMP, anak SMA, mahasiswa, hingga orang yang sudah bekerja. Bahkan, di Kelas Takhasus, pernah ada santri yang usianya mencapai 56 tahun [09:28].
Hal ini menciptakan suasana unik di mana murid dengan rentang usia jauh—seperti kakek dan cucu—belajar dalam satu kelas yang sama [09:46]. Tenaga pengajarnya pun merupakan gabungan dari ulama senior dan para alumni generasi awal yang kini berstatus S2, S3, dan masih terus belajar kepada Ustaz Muhammad [13:33].
Visi ke depan Madrasah Riyadul Ilmi adalah pembangunan gedung tiga tingkat di atas tanah seluas 700 meter persegi, yang rencananya akan memiliki Aula besar, ruang kelas, dan roof top [12:14]. Meskipun tidak membuka donasi secara resmi (open donasi), madrasah ini menerima titipan amal jariah dari siapa pun yang ingin berpartisipasi dalam misi mencetak generasi penerus pewaris ilmu Nabi Muhammad ﷺ [14:14].
Untuk masyarakat umum di Solo dan sekitarnya, Madrasah Riyadul Ilmi juga menyelenggarakan kajian rutin setiap Senin malam di Majelis Ar-Raudah, yang juga disiarkan melalui Nabawi TV [15:21].
Wallahu a’lam bishawab.


