NABAWI TV – Perkembangan institusi pendidikan di dunia Islam, baik yang muncul di era kolonial maupun pasca-kemerdekaan, membawa dua mata pisau yang berbeda. Di satu sisi, kemajuan infrastruktur dan akses informasi semakin terbuka. Namun di sisi lain, terdapat tantangan fundamental yang menggerus esensi ilmu syar’i. Fenomena ini menjadi perhatian serius Al-Habib Abubakar Adni bin Ali Al-Masyhur dalam kitab beliau, Mabadius Suluk.
Sang Mufakkir Al-Islami (Pemikir Islam) tersebut menyoroti bahwa masalah utamanya bukan terletak pada ilmu pengetahuan modern itu sendiri. Ilmu alat dan teknologi sejatinya tidak tercela. Persoalan muncul ketika metodologi modern dijadikan satu-satunya standar validitas kebenaran, menggeser metodologi ilmu yang berlandaskan nilai samawi dan adab.
Akibat pergeseran ini, umat yang sejatinya berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Sunnah, perlahan mulai menakar segala sesuatu dengan timbangan rasionalistik-sekuler. Standar keberhasilan pendidikan tidak lagi diukur dengan ketakwaan dan keberkahan, melainkan tunduk pada parameter materialisme.
Empat Pilar Penyangga Ilmu
Untuk mengatasi ketimpangan nalar dan spiritual ini, Habib Abubakar Adni menekankan perlunya mengembalikan kajian keilmuan kepada empat rukun agama yang menjadi fondasi utama. Tanpa keempat hal ini, seorang penuntut ilmu akan terjebak dalam kedangkalan pemahaman atau ekstremitas—baik dalam bentuk ifrath (berlebihan/keras) maupun tafrith (meremehkan/liberal).
Keempat pilar tersebut meliputi penguasaan terhadap:
- Islam (Aspek Syariat dan Hukum)
- Iman (Aspek Akidah dan Keyakinan)
- Ihsan (Aspek Tasawuf dan Penjernihan Hati)
- Ilmu Tanda Kiamat (Fiqih Tahawulat/Memahami Peta Zaman)
Rasulullah ﷺ telah mengingatkan kita tentang pentingnya niat dan orientasi dalam menuntut ilmu agar tidak terjebak pada tujuan duniawi semata.
مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لاَ يَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Barangsiapa yang mempelajari ilmu yang seharusnya dicari untuk mengharap wajah Allah ‘Azza wa Jalla, namun ia tidak mempelajarinya kecuali untuk mendapatkan sedikit dari kenikmatan dunia, maka ia tidak akan mencium bau surga pada hari kiamat.” —HR. Abu Daud
Solusi Integratif dan Pembenahan Adab
Dalam Mabadius Suluk, Habib Abubakar Adni tidak hanya mendiagnosis penyakit umat, tetapi juga menawarkan resep penyembuhan yang konkret. Solusi ini menuntut sinergi antara pihak pengelola pendidikan, pengajar, dan orang tua.
Langkah-langkah strategis yang beliau tawarkan antara lain:
- Integrasi Ilmu dan Wahyu: Mengembalikan keterkaitan antara ilmu teoretis modern dengan ilmu-ilmu syar‘i. Hal ini harus diwujudkan dalam kurikulum akademik tingkat tinggi dengan metodologi yang terarah, sehingga sains tidak berjalan liar tanpa panduan agama.
- Meluruskan Orientasi Pelajar: Menanamkan kesadaran bahwa ijazah dan gelar akademik hanyalah sarana administratif, bukan tujuan akhir. Tujuan utama pendidikan adalah tsamrah (buah) ilmu berupa amal dan akhlak. Obsesi berlebihan terhadap selembar kertas seringkali memicu kecurangan dan pemalsuan yang marak terjadi saat ini.
- Menjaga Lingkungan Pendidikan (Infishal): Menegakkan batasan syar‘i dengan memisahkan ruang belajar laki-laki dan perempuan. Percampuran bebas (ikhtilath) dinilai sebagai pintu masuk yang menyibukkan hati dan memalingkan akal dari fokus menuntut ilmu.
(Baca juga: [Konsep Fiqih Tahawulat Habib Abubakar Adni dalam Membaca Tanda Zaman])
Kemuliaan dalam Batasan Syariat
Habib Abubakar Adni memberikan penekanan khusus pada isu pergaulan dan peran gender dalam pendidikan. Beliau menegaskan bahwa narasi-narasi asing yang mengatasnamakan “kebebasan” atau “kesetaraan” sering kali menjadi alat untuk meruntuhkan benteng moral umat Islam.
Kehormatan seorang penuntut ilmu, khususnya wanita, terletak pada terjaganya ia dari pandangan dan interaksi yang tidak perlu. Islam, dengan segala adab dan aturannya, telah cukup menjadi pelindung bagi kaum mukminin dari tipu daya yang merusak tatanan sosial. Kembali pada adab salaf adalah jalan keselamatan di tengah gempuran pemikiran yang meremehkan agama.
Wallahu a’lam bishawab.

