NABAWI TV – Sebuah pandangan menarik dan penuh kejutan disampaikan oleh pakar Aswaja, K.H. Idrus Ramli, saat mengisi kajian di Gedung Rabithah Alawiyah. Di hadapan para Habaib dan jamaah, beliau justru mengajak umat untuk melihat sisi lain dari keberadaan kelompok yang sering berseberangan dengan Aswaja, yakni Wahabi.
Bukan untuk membenarkan ajarannya, melainkan melihatnya sebagai “cambuk” dari Allah ﷻ agar kaum Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) kembali ke jalur tengah (tawassuth) dan tidak tergelincir dalam praktik yang berlebih-lebihan (ghuluw).
Hikmah di Balik ‘Serangan’ Wahabi
Kiai Idrus membuka wawasan dengan sebuah pengandaian yang menohok. Menurut beliau, jika tidak ada tantangan dari kelompok Wahabi, bisa jadi sebagian warga Aswaja akan kebablasan dalam praktik tabarruk (ngalap berkah) dan tawassul.
Seandainya enggak ada Wahabi, mungkin sebagian saudara kita berlebih-lebihan di dalam hal tabarruk… Allah menurunkan mereka agar kita kembali ke jalan yang moderat, jalan yang netral. Setelah sebelumnya mungkin agak miring.
— K.H. Idrus Ramli [00:00]
Beliau mengutip ucapan Sayyidina Ali bin Abi Thalib karamallahu wajhah:
خَيْرُ النَّاسِ النَّمَطُ الْأَوْسَطُ
Sebaik-baik manusia adalah kelompok pertengahan (moderat).
— Sayyidina Ali bin Abi Thalib
Keberadaan kelompok yang mengkritik keras justru memaksa para santri dan ustaz Aswaja untuk kembali membuka kitab, menggali hadits, dan memperkuat dalil, yang sebelumnya mungkin terlena hanya dengan kitab-kitab ringkasan.
Kritik Pedas: Campur Baur di Makam Wali
Sebagai bentuk autokritik, Kiai Idrus menyoroti fenomena kemunduran adab di tempat-tempat ziarah. Beliau membandingkan kondisi makam Wali Songo 20 tahun lalu dengan sekarang.
Dulu kalau kita ziarah ke makam Wali Songo di Ampel misalnya, laki dan perempuan terpisah… Belakangan ini laki-laki dan perempuan ngumpul. Kadang-kadang baca Quran sendirian, tiba-tiba dikerubungi perempuan.
— K.H. Idrus Ramli [03:53]
Ini adalah pr (pekerjaan rumah) besar bagi para asatidz dan Habaib untuk berani bersuara meluruskan penyimpangan ini demi menjaga kesucian ibadah.
Usulan Berani: Rabithah Perlu “Bahtsul Masail”
Poin paling krusial yang disampaikan Kiai Idrus adalah perlunya mekanisme kontrol internal di tubuh Rabithah Alawiyah, mirip dengan lembaga Bahtsul Masail di NU atau Tarjih di Muhammadiyah.
Mengapa ini penting? Karena saat ini muncul fenomena oknum keluarga Habaib yang bertindak “aneh-aneh” atau menyimpang, namun umat bingung bagaimana cara menegurnya karena rasa hormat (mahabbah).
Perlu memang di Rabithah Alawiyah ini ada lembaga seperti itu. Agar kalau misalnya ada oknum keluarga Habaib yang aneh-aneh, kita bisa mengingatkan: ‘Bib, antum ini… kami ini wajib mahabbah sama antum, antum kok menyimpang begini?’
— K.H. Idrus Ramli [16:43]
Dengan adanya lembaga fatwa internal, setiap perilaku menyimpang bisa diluruskan secara ilmiah dan kekeluargaan, tanpa harus menunggu viral atau menjadi fitnah yang liar di masyarakat.
Fenomena Penceramah Viral Tanpa Ilmu
Kiai Idrus juga menyoroti krisis ilmu di akhir zaman. Banyak orang yang sejatinya “mati” hatinya karena tidak punya ilmu agama, tapi justru tampil di depan umum, viral, dan diundang ke mana-mana.
Beliau mengutip nasihat Habib Salim Asy-Syatiri tentang pentingnya hikmah (kebijaksanaan) dan siasah (strategi) dalam berdakwah:
Ilmu itu kalau tidak bijak yang menyampaikan, dan tidak mengerti situasi kondisi, akhirnya justru menimbulkan kerusakan.
— Dikutip oleh K.H. Idrus Ramli [05:54]
Ceramah ini menjadi tamparan kasih sayang bagi kita semua. Bahwa menjaga kemurnian ajaran Aswaja bukan hanya dengan melawan serangan dari luar, tapi juga dengan berani membenahi “duri” di dalam daging sendiri.
Wallahu a’lam bishawab.

