Pendahuluan: Perintah untuk Wafat di Atas Islam
Kematian dalam keadaan Islam (Husnul Khātimah) adalah puncak harapan dan tujuan tertinggi bagi setiap Muslim. Ini adalah perintah langsung dari Allah SWT kepada seluruh umat manusia:
وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
“Dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” — Q.S. Ali ‘Imran [3]: 102
Sebagaimana dijelaskan Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad dalam kitabnya An-Nashaih Diniyah, Islam adalah satu-satunya agama yang diridhai dan diterima di sisi Allah SWT.
- إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ “Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.” — Q.S. Ali ‘Imran [3]: 19
- الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا “Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agamamu.” — Q.S. Al-Ma’idah [5]: 3
Meskipun seorang manusia tidak memiliki kemampuan untuk memastikan akhir hidupnya, Allah SWT telah membuka jalan bagi hamba-Nya agar ia dapat meraih kematian di atas Islam.
Lima Jalan Meraih Kematian di Atas Islam
Menurut Habib Abdullah Al-Haddad, jalan menuju Husnul Khātimah adalah sebuah upaya gabungan antara niat tulus (hati), perbuatan (amal), dan doa (lisan). Jalan itu adalah:
- Memilih kematian dalam keadaan Islam.
- Mencintai dan menginginkannya dengan segenap hati.
- Bersungguh-sungguh untuk menempuhnya (dengan beramal saleh).
- Membenci kematian dalam keadaan selain Islam.
- Terus memohon, merendahkan diri, dan berdoa kepada Allah agar diwafatkan sebagai seorang Muslim.
Ini menunjukkan bahwa Allah SWT mengaitkan akhir yang baik (Husnul Khātimah) dengan hasrat dan upaya sungguh-sungguh hamba selama hidupnya.
Doa Para Nabi dan Orang Saleh
Kesungguhan para nabi dan hamba saleh dalam memohon kematian di atas Islam diabadikan dalam Al-Qur’an. Ini menunjukkan bahwa memanjatkan doa ini adalah jalan yang paling utama.
1. Doa Nabi Yusuf alaihissalam
Nabi Yusuf memohon kepada Allah SWT setelah ia mencapai puncak kekuasaan dan kemuliaan dunia:
أَنْتَ وَلِيِّي فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ تَوَفَّنِي مُسْلِمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ
“Engkaulah Pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang shalih.” — Q.S. Yusuf [12]: 101
2. Doa Para Penyihir Firaun
Begitu pula para penyihir Firaun yang baru saja beriman. Ketika diancam dengan siksaan dan kematian, mereka segera memohon kepada Allah agar wafat dalam keadaan Islam:
رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَتَوَفَّنَا مُسْلِمِينَ
“Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran atas kami, dan wafatkanlah kami dalam keadaan Muslim.” — Q.S. Al-A‘raf [7]: 126
3. Wasiat Nabi Ibrahim alaihissalam
Wasiat ini diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya, menegaskan pentingnya konsistensi iman hingga akhir hayat:
وَوَصَّى بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
“Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya‘qub: ‘Wahai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini untukmu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam.’” — Q.S. Al-Baqarah [2]: 132
Penutup: Konsistensi Sampai Akhir
Nasihat Al-Habib Abdullah Al-Haddad ini mengajarkan bahwa Husnul Khātimah bukanlah kebetulan, melainkan hasil dari pilihan hidup yang sadar, penuh cinta pada Islam, dan diiringi doa yang merendahkan diri. Upaya hamba untuk hidup dalam keadaan Islam adalah jaminan terbesar untuk mati dalam keadaan Islam.

