NABAWI TV – Sejarah bukan sekadar deretan angka tahun, melainkan cermin untuk melihat masa depan. Dalam kajian sejarah Islam modern, terdapat satu fase krusial yang sering kali tidak banyak diketahui oleh generasi muda saat ini, yakni dinamika hubungan antara ulama tradisional Makkah dengan munculnya gerakan yang dipimpin oleh Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab.
Memahami akar sejarah ini menjadi sangat penting, bukan untuk mengungkit luka lama, melainkan untuk mendudukkan perkara secara objektif. Mengapa ulama-ulama besar Nusantara, seperti KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Ahmad Dahlan, memiliki corak dakwah yang santun dan merangkul? Jawabannya terletak pada siapa guru mereka dan bagaimana sikap guru mereka terhadap gerakan baru yang muncul dari Najd tersebut.
Dua Kutub Pemikiran: Makkah vs Najd
Dalam video kajian sejarah yang diulas, terungkap fakta mengenai ketegangan intelektual antara Syaikh Ahmad Zaini Dahlan—seorang Mufti Mazhab Syafi’i di Makkah—dengan pemikiran Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab.
Syaikh Ahmad Zaini Dahlan, yang merupakan guru dari para ulama pendiri ormas Islam di Indonesia, dikenal sangat kritis terhadap gerakan Muhammad bin Abdul Wahhab. Kritik ini bukan tanpa dasar. Dalam kitab-kitabnya, Syaikh Zaini Dahlan menyoroti bahaya dari pola pikir yang terlalu mudah memvonis sesama Muslim.
Sebuah fakta sejarah yang menarik untuk direnungkan adalah firasat dari ayah dan saudara kandung Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab sendiri, yakni Syekh Abdul Wahhab dan Syekh Sulaiman bin Abdul Wahhab. Keduanya termasuk yang paling awal mengingkari dan mengkhawatirkan dampak dari pemikiran yang dibawa oleh kerabat mereka sendiri karena dianggap berpotensi memecah belah umat.
Bahaya Laten Tuduhan Kafir (Takfir)
Salah satu poin paling krusial yang menjadi titik singgung dalam sejarah ini adalah masalah takfir (pengkafiran). Gerakan yang dipelopori oleh Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab dalam catatan sejarah kerap dituding menganggap mayoritas umat Islam di zaman itu—termasuk penduduk Makkah, Madinah, dan wilayah Islam lainnya—telah terjatuh dalam kesyirikan karena praktik tawasul atau ziarah kubur.
Padahal, Rasulullah ﷺ sangat mewanti-wanti umatnya agar berhati-hati dalam menuduh saudara seiman. Dalam sebuah hadits shahih disebutkan:
Sungguh yang paling aku takutkan atas kalian adalah seorang laki-laki yang membaca Al-Qur’an… lalu ia menyerang tetangganya dengan pedang dan menuduhnya sebagai seorang musyrik.
— (H.R. Bukhari dalam At-Tarikh)
Narasi sejarah ini menjelaskan mengapa kita hari ini sering melihat fenomena sebagian kelompok yang begitu mudah melabeli “syirik” atau “ahli bid’ah” kepada sesama Muslim. Pola ini ternyata memiliki akar sejarah yang panjang dan berbeda secara diametral dengan ajaran yang diwariskan oleh ulama-ulama Ahlussunnah wal Jamaah yang bersanad.
Menjaga Warisan Ulama Nusantara
Mengetahui fakta sejarah tentang Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab dan interaksinya dengan ulama Makkah membuka mata kita akan pentingnya sanad keilmuan. Ulama kita di Nusantara tidak mewarisi ajaran yang keras dan mudah mengkafirkan, karena mereka berguru pada Syaikh Zaini Dahlan yang memegang teguh tradisi keilmuan yang moderat.
Keterbukaan informasi ini seharusnya membuat kita lebih bijak. Kita tidak perlu membenci buta, namun kita harus kritis dan waspada. Jangan sampai semangat beragama kita justru memutus tali persaudaraan hanya karena doktrin yang tidak kita pahami asal-usul sejarahnya.
Mari kita kembalikan wajah Islam yang ramah, sebagaimana diajarkan oleh para guru kita yang sanadnya bersambung hingga Rasulullah ﷺ, dan menjauhi sikap merasa paling benar sendiri yang berpotensi merusak tenun kebangsaan dan keumatan.
Wallahu a’lam bishawab.

