NABAWI TV – Suasana penuh kerinduan dan keberkahan menyelimuti Jakarta dalam perhelatan Haul ke-4 Al-Habib Ali bin Abdurrahman Assegaf, yang lebih akrab disapa Sayidil Walid. Acara yang dipusatkan di Tebet ini sukses terlaksana pada awal Desember, menarik ribuan jamaah dan para pecinta beliau yang datang untuk mengenang sosok guru mulia yang dikenal dengan dakwah penuh hikmah, kelembutan, dan kasih sayang [01:00].
Meskipun banyak jamaah yang belum pernah bertatap muka langsung, nasihat dan kajian Sayidil Walid mampu meninggalkan bekas mendalam di hati para pendengarnya. Puncak acara Haul digelar pada 8 Desember di Majelis Taklim Al-A’faf, setelah sebelumnya dilaksanakan ziarah akbar di makam beliau pada 7 Desember [02:53]. Kehadiran para guru, ulama, keluarga besar, dan murid-muridnya membuktikan betapa besar pengaruh dan warisan keilmuan yang ditinggalkan oleh Sayidil Walid.
Julukan Istimewa: “Habibnya Para Kiai”
Salah satu julukan istimewa yang disematkan oleh para kiai kepada Sayidil Walid adalah “Habibnya Para Kiai” [03:28]. Julukan ini lahir bukan tanpa alasan, melainkan karena keagungan akhlak dan keterbukaan beliau dalam bergaul.
Sayidil Walid dikenal sangat terbuka kepada semua lapisan masyarakat, terutama kalangan kiai dan ulama Betawi. Beliau adalah sosok teladan bagi para dai-dai muda, karena mampu mewakili seluruh kalangan—dari habaib hingga ulama lokal—yang membuat dakwah menjadi terasa begitu nikmat dan komprehensif [04:22].
Selain itu, kesediaan beliau untuk memenuhi undangan dakwah tanpa pernah menolak, meskipun acaranya berada di tempat yang jauh, semakin menegaskan ketulusan dan keikhlasan beliau dalam menyebarkan ilmu Allah.
Magnet Ilmu Berkat Ikatan Kuat dengan Para Wali
Menurut salah satu kerabat yang mendampingi beliau, Al-Habib Ali bin Abdurrahman Assegaf memiliki potensi besar dalam mengkader dan mendidik seseorang menjadi pewaris Rasulullah ﷺ [02:10]. Kualitas ilmu dan tarbiyah (pendidikan jiwa) beliau yang luar biasa berakar dari sumber spiritual yang kuat:
Beliau secara pribadi punya ikatan kuat dengan para waliyullah (wali-wali Allah). Tentunya ini yang menjadi magnet besar dan power besar terhadap ilmu yang beliau sampaikan sehingga berbekas dan membekas pada tiap para murid-muridnya dan orang yang mendengarkannya.
— KH. Ubaidillah Hamdan [02:22]
Keterikatan yang amat kuat dengan Rasulullah ﷺ ini pula yang menjadikan ilmu yang disampaikan oleh Sayidil Walid begitu berpengaruh, mampu membekas pada rohani, dan efektif dalam pembentukan jiwa menjadi saleh [07:05]. Beliau juga merupakan bagian dari “tiga serangkai” ulama besar Jakarta bersama Habib Hussein dan Habib Abdillah Alaydrus, yang kehadirannya di suatu tempat senantiasa menumbuhkan iman [04:53].
Akhlak Mulia: Selalu Mengingat Nama Jamaah
Kekuatan Sayidil Walid sebagai seorang guru (murabbi) tidak lepas dari akhlaknya yang tinggi. Beliau mampu membuat setiap orang yang bertemu merasa paling diperhatikan dan paling dekat dengannya [05:58].
Salah satu akhlak mulia beliau yang paling diingat adalah:
- Selalu mengingat nama orang yang diajak bicara, di manapun pertemuan itu terjadi [06:27].
Ketika seorang jamaah diajak bicara dengan menyebut nama, ia akan merasa sangat dihargai dan diberikan perhatian yang baik [06:47]. Keterikatan batin yang kuat dengan beliau bahkan mampu dirasakan oleh mereka yang jarang bertemu.
Tiga Komitmen Abadi Sayidil Walid kepada Murid
Sebagai sosok guru dan orang tua, Sayidil Walid memiliki perhatian besar terhadap kualitas anak dan muridnya dalam kehidupan. Beliau mampu mencetak anak yang berkualitas dan berkomitmen kuat kepada Allah. Nasihat utama beliau, yang menjadi komitmen abadi, adalah:
- Wahnu lahu syahidun.
- Wahnu lahu muslimun.
- Wahnu lahu mukhlisun.
Kami bersaksi kepada-Nya, kami berserah diri kepada-Nya, kami mengikhlaskan diri kepada-Nya.
— Sayidil Walid Al-Habib Ali bin Abdurrahman Assegaf [07:37]
Inilah tiga pondasi tauhid, keislaman, dan keikhlasan yang ditanamkan Sayidil Walid kepada para murid dan keturunannya, menjadi warisan yang terus hidup dan diamalkan dalam setiap Haul yang diselenggarakan.
Wallahu a’lam bishawab.

