Habib Umar bin Hafidz: Mengapa Salafus Shalihin Justru “Lari” dari Kemewahan Dunia?

Nasihat tentang bahaya hidup bermegah-megahan dan rahasia keberkahan waktu Imam Nawawi.

Nabawi TV
5 Menit Bacaan

NABAWI TV – Di tengah arus zaman yang menyeret manusia pada perlombaan materi, kemewahan, dan hasrat untuk tampil “wah”, cermin kehidupan para Salafus Shalihin justru memantulkan bayangan yang sangat berbeda. Dalam sebuah kajian kitab Tanbih al-Ghafil yang membahas perjalanan hidup orang-orang shaleh, Habib Umar bin Hafidz kembali mengingatkan kita pada standar kemuliaan yang sesungguhnya: kesederhanaan hati dan ketatnya disiplin waktu.

Bagaimana para ulama terdahulu memandang dunia, dan bagaimana mereka “memeras” setiap detik umur untuk keabadian? Berikut adalah intisari dari nasihat Al-Habib Umar bin Hafidz.

Melawan Arus Hedonisme dengan Kesederhanaan

Salah satu penyakit hati yang paling halus namun mematikan di akhir zaman ini adalah at-takaathur (bermegah-megahan) dan al-mufakharah (saling berbangga diri). Manusia modern sering kali terjebak dalam ilusi bahwa kehormatan terletak pada merek pakaian, jabatan, atau kemewahan fasilitas.

Namun, Habib Umar bin Hafidz mengisahkan biografi Habib Umar bin Saqqaf bin Muhammad bin Umar As-Saqqaf. Sosok yang hidupnya bertolak belakang dengan tren tersebut. Beliau digambarkan sebagai ulama yang menjaga “Fakhri Hakiki” (kebanggaan sejati) bukan dengan materi, melainkan dengan ketakwaan.

“Mereka (para Salaf) mengetahui hakikat kebanggaan itu hanyalah dengan ketakwaan kepada Al-Haq, pembersihan hati, dan sampai pada ma’rifat (pengetahuan khusus) serta mahabbah (cinta) yang murni. Maka mereka menyingsingkan lengan baju untuk mencapai hal itu, serta mengerahkan pikiran, waktu, dan tenaga untuk meraihnya.” —Habib Umar bin Hafidz

Inilah mentalitas zuhud yang sesungguhnya. Ketika hati bersih dari ambisi duniawi, fokus manusia beralih pada perniagaan dengan Allah yang tidak akan pernah merugi.

Manajemen Waktu yang “Radikal”

Poin kedua yang menjadi sorotan utama adalah bagaimana para Salaf memandang waktu. Bagi mereka, menyia-nyiakan waktu untuk hal yang tidak bermanfaat (ma la ya’ni) dianggap sebagai kerugian besar, bahkan musibah.

Habib Umar memberikan contoh yang menggugah akal sehat kita tentang disiplin para ulama:

  • Makan Sambil Belajar: Dikisahkan bagaimana Habib Abdullah bin Husein bin Thahir dan saudaranya, Habib Thahir, merasa waktu makan adalah waktu yang “terbuang” jika tidak diisi dengan ilmu. Akhirnya, mereka menyiasatinya dengan bergantian: satu orang makan sementara yang lain membacakan kitab, dan sebaliknya.
  • Produktivitas Imam Nawawi: Habib Umar juga menyinggung produktivitas Imam An-Nawawi. Jika total karya tulis beliau dibagi dengan usianya yang singkat (wafat usia 45 tahun), rata-rata beliau menulis sekitar dua kuras (±40 halaman) setiap harinya. Sebuah pencapaian yang mustahil dicapai tanpa keberkahan waktu yang luar biasa.

Ini adalah tamparan keras bagi kita yang sering menghabiskan berjam-jam untuk hal sia-sia. Islam mengajarkan efisiensi tinggi, sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:

مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ

“Di antara tanda kebaikan keislaman seseorang adalah ia meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya.” —HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah.

Perekat Hati: Sunnah Musafahah

Di sela-sela pembahasan biografi, Al-Habib juga menekankan pentingnya menjaga ukhuwah melalui sunnah sederhana namun berdampak besar: berjabat tangan (musafahah). Tradisi ulama Hadhramaut mengajarkan bahwa pertemuan fisik yang dibarengi dengan jabat tangan dan wajah berseri (basyasyah) adalah kunci pengampunan dosa antar sesama.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَا مِنْ مُسْلِمَيْنِ يَلْتَقِيَانِ فَيَتَصَافَحَانِ إِلاَّ غُفِرَ لَهُمَا قَبْلَ أَنْ يَفْتَرِقَا

“Tidaklah dua orang muslim bertemu lalu berjabat tangan, melainkan akan diampuni dosa-dosa keduanya sebelum mereka berpisah.” —HR. Abu Daud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah.

Tradisi ini bukan sekadar ritual sopan santun, melainkan metode pembersihan hati dari ghil (dendam) dan hasad (dengki), menciptakan komunitas yang solid dan penuh kasih sayang.

Refleksi: Usia 63 Tahun

Menutup kisahnya, disebutkan bahwa Habib Umar bin Saqqaf wafat pada usia 63 tahun. Sebuah angka istimewa yang bertepatan dengan usia wafatnya kekasih tercinta, Nabi Muhammad ﷺ, serta para sahabat mulia seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Ali bin Abi Thalib, dan Aisyah Radhiyallahu ‘anhum.

Kesamaan usia ini menjadi simbol bahwa keberkahan umur tidak diukur dari panjangnya angka, melainkan dari seberapa besar atsar (jejak) kebaikan dan ilmu yang ditinggalkan untuk umat. Semoga Allah ﷻ membimbing kita untuk meneladani jejak mereka, menjaga waktu, dan membersihkan hati dari cinta dunia yang menipu.

Wallahu a’lam bishawab.

Bagikan Artikel Ini
Tidak ada komentar