Habib Umar bin Hafidz: Mengapa Kita Sering “Buta” Terhadap Wali di Zaman Sendiri?

Sejarah berulang. Guru Mulia mengungkap penyakit hati yang membuat manusia memuja masa lalu namun menistakan orang saleh yang hidup bersamanya.

Nabawi TV
4 Menit Bacaan

NABAWI TV – Pernahkah Anda bertanya, mengapa Abu Jahal tidak bisa melihat cahaya kenabian pada wajah Rasulullah ﷺ, padahal mereka hidup satu masa dan satu kota? Mengapa manusia cenderung mengagungkan tokoh yang telah tiada, namun meremehkan orang saleh yang masih hidup di tengah-tengah mereka?

Fenomena psikologis dan spiritual inilah yang dibedah secara tajam oleh Al-Habib Umar bin Hafidz dalam pembukaan Daurah Sanawiyah (Kursus Tahunan) bagi Para Pengajar Halaqah Pendidikan yang digelar pada tanggal 17 Jumadil Akhir 1447 H / 8 Desember 2025. Dalam kajian yang membahas kitab Tanbih al-Ghafil ini, Guru Mulia mengajak kita untuk “melek sejarah” dengan cara yang tidak biasa.

“Pasukan Khusus” Bernama Kisah

Habib Umar mengawali kajian dengan sebuah tesis yang kuat: mempelajari sirah (perjalanan hidup) orang-orang saleh bukanlah sekadar dongeng pengantar tidur. Ia adalah kebutuhan primer bagi hati yang ingin teguh di jalan Allah.

Beliau menukil perkataan masyhur dari pemimpin para sufi, Imam Junaid al-Baghdadi:

“Hikayat (kisah orang saleh) adalah salah satu tentara dari tentara-tentara Allah yang Dia kirimkan untuk meneguhkan hati para murid.”

Landasannya pun tak main-main, langsung dari firman Allah ﷻ:

وَكُلًّا نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنبَاءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ

“Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu…”
— (QS. Hud: 120).

Jika hati seorang Nabi saja membutuhkan penguatan melalui kisah para pendahulunya, betapa sombongnya kita jika merasa cukup dengan amal sendiri tanpa bercermin pada kehidupan para kekasih Allah?

Penyakit “Rabun Dekat” Spiritual

Salah satu poin paling krusial yang diulas Habib Umar adalah sindrom “mengagungkan masa lalu, meremehkan masa kini”. Beliau menyentil logika sebagian orang yang berkata, “Ah, mana ada orang saleh di zaman edan seperti ini? Orang-orang hebat itu sudah habis di masa lalu.”

“Ketahuilah,” tegas Habib Umar dengan nada yang dalam, “Mereka yang kita sebut ‘orang dulu’ (Mutaqaddimin), pada masanya adalah ‘orang kini’ (Muta’akhiriin). Dan kita yang saat ini disebut ‘modern’, suatu saat akan menjadi ‘klasik’ bagi generasi mendatang.”

Allah tidak pernah berhenti menciptakan para kekasih-Nya di setiap zaman. Masalahnya bukan pada ketiadaan orang saleh, melainkan pada mata hati kita yang tertutup tirai kelalaian (ghafah). Sebagaimana kaum musyrikin yang hanya melihat Rasulullah ﷺ sebagai “Anak Yatim Abu Thalib”, kita pun seringkali hanya melihat ulama di sekitar kita sebagai manusia biasa, tanpa menyadari kedudukan agung mereka di sisi Allah.

“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebahagiaan baginya, Allah akan menyingkapkan baginya keistimewaan (khususiyah) orang-orang saleh di zamannya.”
— Habib Umar bin Hafidz.

Menghidupkan Kembali yang Terlupakan

Dalam majelis ini, Habib Umar juga mengangkat kisah seorang tokoh besar yang mungkin asing di telinga sebagian kita, namun memiliki jejak yang abadi: Al-Habib Taha bin Umar As-Safi.

Beliau menceritakan bagaimana kakek beliau ini diminta oleh Sultan Badr Abu Tuwairiq untuk berdakwah di Kota Seiwun, Yaman. Kisah ini menjadi bukti konkret bahwa keberkahan ilmu dan dakwah tidak hanya monopoli ulama terdahulu.

Melalui biografi Habib Taha As-Safi, kita belajar tentang:

  • Ketulusan Niat: Bagaimana seorang ulama bersedia berpindah tempat demi menyebarkan cahaya Allah, bukan demi jabatan duniawi.
  • Atsar (Jejak) yang Hidup: Masjid dan sumur yang beliau bangun di Seiwun masih memancarkan keberkahan hingga hari ini, konon airnya dicampur dengan air Zamzam sebelum digunakan.

Kisah ini adalah tamparan lembut bagi kita yang seringkali sibuk mencari idola di tempat yang jauh atau masa yang lampau, sementara mutiara-mutiara ilmu di sekitar kita terabaikan.

Mari buka mata hati. Jangan sampai kita menjadi orang yang “menangis di makam wali”, namun “menyakiti wali yang masih hidup”.

Wallahu a’lam bishawab.

Bagikan Artikel Ini
Tidak ada komentar