Habib Umar bin Hafidz: Ketika Manusia ‘Sok Tahu’ Menggugat Tuhan, Inilah Jawaban Telak Al-Qur’an

Di era "banjir informasi" di mana semua orang merasa berhak berdebat tanpa ilmu, Guru Mulia mentadabburi Surah Al-Hajj tentang bahaya mengikuti narasi setan dan bukti ilmiah kebangkitan.

Nabawi TV
4 Menit Bacaan

NABAWI TV – Fenomena “debat kusir” dan keberanian berbicara tanpa dasar keilmuan (speech without knowledge) ternyata bukan hal baru. Ribuan tahun lalu, Al-Qur’an telah memotret perilaku manusia yang gemar membantah kebenaran Ilahi hanya bermodalkan prasangka dan bisikan nafsu.

Dalam Jalsah Itsnain (Majelis Senin Mingguan) yang digelar pada 17 Jumadil Akhir 1447 H (8 Desember 2025) di Darul Musthofa, Tarim, Al-Habib Umar bin Hafidz melanjutkan kajian Tafsir Surah Al-Hajj. Kali ini, beliau membedah ayat 3 hingga 6 yang menyinggung mereka yang “banyak bicara” namun kosong isinya.

Bahaya Narasi ‘Setan yang Membangkang’

Habib Umar menyoroti firman Allah ﷻ:

“Di antara manusia ada orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan dan mengikuti setiap setan yang jahat (marid).”
— (QS. Al-Hajj: 3).

Beliau menjelaskan bahwa Shaytan Marid (setan yang sangat durhaka) memiliki misi khusus: memprovokasi manusia untuk mengambil keputusan hidup yang menyimpang dari fitrah. Di zaman modern, provokasi ini bisa berwujud tren pemikiran, ideologi sesat, atau gaya hidup yang menjauhkan manusia dari Syariat, namun dibungkus seolah-olah itu adalah “kemajuan” atau “kebebasan”.

“Siapa yang menjadikan keputusannya bersumber dari bisikan musuhnya (setan), maka ia telah rela menjerumuskan dirinya sendiri ke dalam api yang menyala-nyala,” tegas Guru Mulia.

Embriologi: Bukti Ilmiah yang Membungkam Keraguan

Bagi mereka yang meragukan Hari Kebangkitan (Ba’ats), Habib Umar mengajak kita merenungi ayat ke-5 Surah Al-Hajj yang berbicara tentang proses penciptaan manusia.

“Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani…”
— (QS. Al-Hajj: 5).

Dengan gaya bahasa yang memukau, Habib Umar menyentil logika manusia modern. Tahapan perkembangan janin—dari nuthfah (sperma), alaqah (segumpal darah), hingga mudghah (segumpal daging)—baru bisa dilihat manusia abad ini melalui teknologi canggih seperti USG. Namun, Nabi Muhammad ﷺ telah menyampaikannya secara presisi 1400 tahun yang lalu.

“Siapa yang mengajari Nabi tentang fase-fase mikroskopis ini di tengah padang pasir? Jika Allah mampu menciptakan kalian dari ketiadaan dan merurubah fase-fase janin sedemikian rupa, apakah sulit bagi-Nya untuk menghidupkan kembali tulang belulang yang telah hancur?” tanya beliau retoris.

Siapa Sebenarnya yang Zuhud?

Dalam sela-sela tafsir, Habib Umar menyelipkan sebuah kisah dialog penuh hikmah antara seorang ahli ibadah (Zahid) dengan seorang pecinta dunia.

Si pecinta dunia berkata dengan sinis, “Wahai Zahid (orang yang tidak mau dunia)!” Sang Zahid menjawab dengan tenang, “Justru engkaulah yang lebih ‘zuhud’ daripadaku.” “Bagaimana mungkin?” tanya si pecinta dunia. Sang Zahid menjelaskan: “Aku hanya zuhud (meninggalkan) dunia yang hina dan sementara ini. Sedangkan engkau zuhud (meninggalkan) Kerajaan Akhirat yang abadi dan kenikmatan surga yang kekal. Engkau membuang sesuatu yang jauh lebih besar daripada yang aku buang.”

Doa Khusus untuk Indonesia (Medan)

Di penghujung majelis yang penuh cahaya ini, Al-Habib Umar bin Hafidz secara khusus memanjatkan doa bagi umat Islam yang sedang tertimpa musibah bencana alam. Beliau menyebut secara spesifik musibah banjir yang melanda kawasan Aceh dan Medan di Indonesia.

“Dan (kami memohon kelembutan-Mu) bagi mereka yang tertimpa banjir di kawasan Aceh, Medan dan di wilayah lainnya di Indonesia… Ya Allah, angkatlah kesulitan dari mereka, gantikanlah kesedihan mereka dengan kelapangan.”

Doa tulus dari Tarim ini menjadi bukti ikatan batin yang kuat antara Sang Guru dengan para pecintanya di Nusantara. Semoga Allah mengabulkan doa beliau dan memberikan keselamatan bagi bangsa Indonesia.

Wallahu a’lam bishawab.

Bagikan Artikel Ini
Tidak ada komentar