Habib Umar bin Hafidz: Benarkah Berdoa Mencederai Hakikat Ridha?

Membedah dinamika hati antara menerima takdir Ilahi dan kewajiban ikhtiar insani dalam perspektif tasawuf yang lurus.

Nabawi TV
5 Menit Bacaan

NABAWI TV – Diskursus mengenai takdir (qadha dan qadar) sering kali memunculkan kerancuan dalam benak seorang mukmin. Di satu sisi, Islam mewajibkan umatnya untuk rida atau rela terhadap segala ketentuan Allah. Namun di sisi lain, manusia tetap diperintahkan untuk berdoa, memohon kesembuhan, atau meminta jalan keluar dari kesulitan. Muncul sebuah pertanyaan teologis yang krusial: Apakah keinginan untuk lepas dari musibah menandakan ketidakrelaan hati terhadap keputusan Tuhan?

Al-Habib Umar bin Hafidz, dalam salah satu pembacaan kitab di Darul Mustafa, Tarim, menguraikan problematika ini dengan pendekatan yang sangat ilmiah dan rasional. Beliau menegaskan bahwa rida kepada Allah tidak berarti mematikan sifat dasar kemanusiaan (basyariyah).

Dualitas Perspektif: Sisi Tabiat dan Sisi Iman

Pondasi utama untuk memahami masalah ini terletak pada kemampuan memisahkan sudut pandang. Habib Umar menjelaskan bahwa manusia memiliki tabiat menyukai kenyamanan dan membenci rasa sakit. Hal ini adalah fitrah yang Allah ciptakan, bukan sebuah dosa.

Seseorang bisa saja membenci sesuatu dari satu sisi, namun menyukainya dari sisi lain. Sebagai analogi, seorang pasien mungkin membenci obat karena rasanya yang pahit, namun di saat yang sama, ia mencintai obat tersebut karena mengetahui adanya kesembuhan di dalamnya.

  • Perspektif Tabiat: Fisik manusia wajar jika merasa terganggu oleh panas yang menyengat atau penyakit yang mendera.
  • Perspektif Iman: Hati meyakini bahwa panas dan penyakit tersebut adalah makhluk yang tunduk pada Allah, dan rida bahwa ini adalah ketetapan-Nya.

Dua perasaan ini dapat berkumpul dalam satu hati tanpa saling menegasikan. Kebencian terhadap “rasa sakit” secara fisik tidak membatalkan keridaan hati terhadap Sang Pencipta rasa sakit tersebut.

Batasan Tipis Antara Keluhan dan Pengaduan

Habib Umar bin Hafidz memberikan batasan yang tegas mengenai lisan. Mengungkapkan apa yang dirasakan tubuh diperbolehkan selama tidak mengandung unsur inigaar (pengingkaran) atau protes kepada Allah. Beliau menukil pandangan ulama salaf mengenai etika menghadapi cuaca ekstrem.

“Termasuk dari kebagusan rida kepada qadha Allah Ta’ala adalah seseorang tidak mengatakan ‘Hari ini panas sekali’ dalam bentuk keluhan (syikayah).” —Al-Habib Umar bin Hafidz menukil perkataan Salaf

Jika kalimat itu keluar sebagai caci maki terhadap waktu, maka itu mencederai rida. Namun, jika seseorang berusaha mencari air dingin atau tempat berteduh sebagai bentuk hifzunnafs (menjaga jiwa), maka itu adalah ikhtiar yang dianjurkan dan tidak bertentangan dengan tawakal.

Hakikat Doa: Ibadah, Bukan Intervensi

Poin paling fundamental yang disampaikan oleh Guru Mulia adalah mengenai posisi doa. Sebagian kalangan sufi yang keliru mungkin beranggapan bahwa diam dan menerima tanpa berdoa adalah tingkatan rida yang tertinggi. Habib Umar meluruskan pemahaman ini.

Berdoa untuk meminta kesembuhan atau perubahan nasib bukanlah bentuk “intervensi” hamba terhadap keputusan Tuhan. Sebaliknya, doa adalah perintah syariat yang bertujuan menampakkan kehambaan. Allah Ta’ala berfirman:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

“Dan Tuhanmu berfirman: ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina’.” —QS. Ghafir: 60

Dalam ayat di atas, Allah menyebut doa sebagai ibadah. Meninggalkan doa dengan dalih “sudah pasrah” justru bisa menjebak seseorang pada kesombongan terselubung, seolah-olah ia tidak lagi membutuhkan pertolongan Allah.

Habib Umar menjelaskan fungsi doa secara spesifik:

  • Mengeluarkan kemurnian zikir dari dalam hati.
  • Melatih kekhusyukan dan ketundukan (tadharru’).
  • Menjadi kunci pembuka pintu kasyf (penyingkapan batin) dan kelembutan Allah.

Kebanggaan dalam Kefakiran

Seorang mukmin sejati menjadikan rasa butuhnya (iftiqar) kepada Allah sebagai identitas utamanya. Doa adalah manifestasi pengakuan bahwa manusia adalah makhluk yang lemah, fakir, dan tidak berdaya tanpa pertolongan Rabb-nya.

Habib Umar menutup penjelasannya dengan sebuah bait syair munajat yang menggambarkan posisi ideal seorang hamba. Syair ini menegaskan bahwa meminta kepada Allah bukanlah aib bagi orang yang rida, melainkan bukti penghambaan.

“Maka karena rahasia inilah aku berdoa dalam keadaan lapang maupun sulit. Aku adalah hamba yang kebanggaannya terletak pada kefakiran dan rasa butuhku (kepada-Mu)…” —Syair Munajat yang dikutip Habib Umar bin Hafidz

Maka, tetaplah rida menerima ketentuan yang terjadi, namun jangan berhenti mengangkat tangan memohon yang terbaik. Sebab, doa itu sendiri adalah takdir yang Allah gerakkan di lisan hamba-hamba yang dicintai-Nya.

Wallahu a’lam bishawab.

Bagikan Artikel Ini
Tidak ada komentar