NABAWI TV – Manusia sering terjebak dalam kalkulasi matematis yang sempit saat berbicara tentang rezeki dan pencapaian. Hitungan logika kita selalu memiliki batas akhir—gaji habis di akhir bulan, usia berakhir di liang lahat. Namun, hitungan Allah ﷻ beroperasi dengan mekanisme yang berbeda.
Al-Habib Umar bin Hamid Al-Jailani, Mufti Syafi’iyah di Makkah Al-Mukarramah, memaparkan perspektif berbeda tentang bagaimana sebuah kebaikan bisa mengalir tanpa henti. Dalam nasihatnya, beliau mengurai benang merah antara ketaatan seorang hamba dengan kualitas keberkahan yang diterimanya.
Definisi Berkah yang Sesungguhnya
Dalam pandangan umum, berkah sering kali disederhanakan hanya sebagai “tambahan materi”. Padahal, Habib Umar Al-Jailani menekankan pada aspek durabilitas (daya tahan) dan kualitas yang abadi. Beliau mengutip makna dari sebuah Hadits Qudsi yang menegaskan mata rantai spiritual yang tidak boleh terputus: ketaatan melahirkan ridha, dan ridha melahirkan berkah.
“Sesungguhnya Aku adalah Allah. Apabila Aku ditaati, Aku ridha. Apabila Aku ridha, Aku berikan berkah. Dan apabila Aku memberikan berkah, keberkahan-Ku tiada akhirnya.”
Pernyataan ini menegaskan bahwa keberkahan dari Allah bukanlah stok yang bisa menipis. Berbeda dengan anggaran duniawi yang memiliki periode fiskal, berkah Allah bersifat abadi dan musalsal (bersambung). Ketika seorang hamba sukses meraih ridha-Nya, maka kebaikan itu akan mengalir deras menembus batas usia hingga ke alam keabadian.
Rumus Etika: Fanā dan Tawadhu
Poin krusial berikutnya yang disampaikan beliau adalah tentang manajemen hati. Bagaimana menyeimbangkan hubungan vertikal (Hablum Minallah) dan horizontal (Hablum Minannas) agar tidak tumpang tindih?
Habib Umar mengajarkan disiplin batin yang presisi:
- Saat Bersama Allah: Nafikan segala eksistensi selain-Nya. Fokuskan pandangan batin seolah-olah alam semesta ini kosong, hanya ada Allah ﷻ semata.
- Saat Bersama Makhluk: Nafikan ego diri sendiri.
“Saat kamu bersikap kepada makhluk, bermuamalah kepada makhluk, hilangkan nafsumu, injak nafsumu, lupakan nafsumu. Seolah-olah tidak ada ‘dia’ (nafsu). Tetapi kita menjalankan hak orang lain dengan sebenar-benarnya.” —Habib Umar bin Hamid Al-Jailani
Nasihat ini merupakan antitesis dari sifat ananiyah (egoisme). Konflik sosial sering terjadi karena masing-masing pihak menonjolkan “aku”-nya. Dengan “menginjak” nafsu, seorang mukmin mampu melayani dan memuliakan orang lain tanpa pamrih, semata-mata karena memandang mereka sebagai manifestasi ciptaan Allah yang wajib dihormati.
Jalan Menuju Keabadian
Esensi dari nasihat ini adalah perubahan orientasi hidup. Keberkahan bukanlah tentang akumulasi angka, melainkan tentang ketetapan kebaikan Ilahi (tsubutul khair) yang menyertai setiap langkah. Jalan menuju ke sana hanya bisa ditempuh dengan dua hal: ketaatan yang membuahkan ridha, serta kerendahan hati yang menghancurkan kesombongan diri. Semoga kita termasuk hamba yang memahami hakikat ini.
Wallahu a’lam bishawab.

