Habib Taufiq Assegaf: Mengapa Setan Lebih Takut pada Satu Orang Alim daripada 1000 Ahli Ibadah?

Kajian Kitab Manhaj As-Sawi tentang urgensi ilmu sebagai pondasi agama dan benteng dari tipu daya setan.

Nabawi TV
5 Menit Bacaan

NABAWI TV – Islam adalah agama yang tegak di atas pondasi ilmu pengetahuan. Setiap aspek kehidupan seorang Muslim, mulai dari ibadah ritual hingga muamalah sosial, harus didasari oleh pemahaman yang benar. Tanpa ilmu, seseorang ibarat berjalan dalam kegelapan; ia tidak tahu arah dan rentan terperosok ke dalam lubang kesesatan.

Dalam kajian Kitab Manhaj As-Sawi di Masjid Al-Huda, Malang, Al-Habib Taufiq bin Abdul Qadir Assegaf menekankan bahwa seorang Muslim tidak boleh jauh dari cahaya ilmu. Beliau mengingatkan bahwa ulama adalah pewaris para Nabi, dan kepada merekalah kita harus merujuk untuk memahami Al-Qur’an dan Hadits, bukan sekadar mengandalkan terjemahan atau mesin pencari digital.

Berikut adalah intisari nasihat Habib Taufiq Assegaf mengenai keutamaan ilmu dan bahaya beribadah tanpa didasari pengetahuan.

Ilmu: Syarat Sahnya Ibadah

Habib Taufiq menegaskan bahwa segala amal perbuatan, baik itu salat, puasa, maupun masuk ke dalam masjid, memiliki aturan main yang hanya bisa diketahui dengan ilmu.

“Ente masuk masjid harus didasari dengan ilmu. Kalau salah, bisa haram diam di masjid ini. Contohnya orang junub atau perempuan haid,” tegas beliau.

Begitu pula dengan wudhu dan salat. Jika dilakukan tanpa ilmu, besar kemungkinan ibadah tersebut tidak sah dan tidak diterima. Oleh karena itu, menuntut ilmu bukan sekadar anjuran, melainkan kebutuhan primer agar agama seorang Muslim tegak dengan benar.

Kisah Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dan Tipu Daya Setan

Salah satu poin paling menarik yang disampaikan adalah hadits Nabi ﷺ: “Satu orang faqih (ahli ilmu agama) lebih berat bagi setan daripada seribu ahli ibadah.”

Mengapa demikian? Orang yang ahli ibadah tapi bodoh (jahil) mudah sekali ditipu oleh setan. Habib Taufiq menceritakan kisah masyhur Sulthanul Auliya Syekh Abdul Qadir Al-Jailani. Suatu ketika, setan datang dalam wujud cahaya terang benderang dan mengaku sebagai Tuhan, lalu berkata, “Wahai Abdul Qadir, aku Tuhanmu. Telah aku halalkan bagimu segala yang diharamkan.”

Karena Syekh Abdul Qadir memiliki ilmu yang mendalam (Faqih), beliau segera tahu bahwa itu adalah tipuan. Beliau menghardik, “Enyahlah kau wahai yang terlaknat!” Seketika cahaya itu berubah menjadi kegelapan. Setan pun mengakui bahwa ia telah berhasil menyesatkan 70 ahli ibadah (‘abid) dengan trik tersebut, namun gagal menipu Syekh Abdul Qadir karena benteng ilmunya.

“Jika orang hanya bermodal ibadah tanpa ilmu, dia akan mudah percaya, ‘Oh saya sudah sampai maqam tinggi, yang haram jadi halal’. Ini bahaya,” jelas Habib Taufiq.

Keutamaan Hadir di Majelis Ilmu

Beliau juga memotivasi jamaah dengan menyampaikan fadhilah luar biasa bagi para penuntut ilmu. Duduk sesaat di majelis ilmu untuk memahami agama lebih utama daripada salat sunnah seribu rakaat, menjenguk seribu orang sakit, dan mengantar seribu jenazah.

Bahkan, para malaikat meletakkan sayap-sayap mereka sebagai bentuk keridhaan dan penghormatan kepada penuntut ilmu. Makhluk-makhluk di langit dan bumi, hingga ikan di lautan dan semut di lubangnya, turut memohonkan ampun bagi orang yang berilmu.

“Kenapa hewan mendoakan orang alim? Karena ulamalah yang mengajarkan manusia mana hewan yang halal dan haram, serta mengajarkan adab untuk tidak menyiksa hewan,” terang beliau menukil pendapat Ibnu Jamaah.

Kriteria Memilih Guru

Di sesi tanya jawab, Habib Taufiq memberikan panduan penting tentang bagaimana memilih guru atau majelis taklim di tengah banyaknya penceramah. Beliau mengutip nasihat Imam Al-Ghazali agar kita tidak duduk kecuali kepada guru yang mengajak kita berpindah dari lima sifat buruk menuju lima sifat mulia:

  1. Dari keraguan menuju keyakinan.
  2. Dari riya’ (pamer) menuju ikhlas.
  3. Dari sombong menuju tawadhu’ (rendah hati).
  4. Dari cinta dunia menuju zuhud.
  5. Dari permusuhan menuju persaudaraan dan kepedulian sesama Muslim.

“Cari orang alim yang mengajarkan kamu keluar dari sifat bermusuhan menjadi orang yang peduli sesama Muslim. Kalau isinya hanya caci maki, tinggalkan,” pesan Habib Taufiq dengan tegas.

Refleksi

Kajian ini menyadarkan kita bahwa semangat beragama saja tidak cukup; ia harus dibarengi dengan semangat belajar. Ilmu adalah filter yang membedakan antara bisikan malaikat dan tipuan setan, serta antara ajaran yang lurus dan pemahaman yang menyimpang. Semoga kita termasuk golongan yang diringankan langkahnya menuju majelis ilmu.

Wallahu a’lam bishawab.

Bagikan Artikel Ini
Tidak ada komentar