Habib Geys Assegaf: Mengapa Sayyidah Fatimah Az-Zahra Disebut “Ibu dari Ayahnya”?

Meneladani kemuliaan, kesederhanaan, dan rahasia cinta suci Putri Rasulullah ﷺ yang jarang terungkap.

Nabawi TV
4 Menit Bacaan

NABAWI TV – Di tengah gemerlap sejarah peradaban Islam, terdapat satu sosok wanita agung yang cahayanya sering kali tertutup oleh ketidaktahuan kita sendiri. Beliau bukan sekadar putri seorang Nabi, melainkan belahan jiwa, cermin akhlak, dan “sekolah iman” bagi umat ini. Dalam kajian kitab Min Jawahir Aqidah Ahlussunnah, Habib Geys Assegaf mengajak kita menyelami kembali samudra kemuliaan Sayyidah Fatimah Az-Zahra alaihasalam, wanita penghulu surga yang hidupnya adalah definisi zuhud sejati.

Siapakah sebenarnya sosok yang membuat Rasulullah ﷺ berdiri menyambut kedatangannya dan mendudukkannya di tempat duduk beliau sendiri? Berikut intisari nasihat Al-Habib Geys Assegaf.

Belahan Jiwa yang Tak Terpisahkan

Sayyidah Fatimah Az-Zahra bukan hanya memiliki kemuliaan nasab yang bersambung hingga Nabi Ismail alaihis salam, tetapi juga kemuliaan adab dan kesucian ruhani. Hubungan batin antara beliau dan Ayahandanya, Nabi Muhammad ﷺ, melampaui batas hubungan darah biasa.

Habib Geys menukil sebuah hadits yang menggetarkan hati, di mana Rasulullah ﷺ bersabda:

فَاطِمَةُ بَضْعَةٌ مِنِّي، فَمَنْ أَغْضَبَهَا أَغْضَبَنِي

“Fatimah adalah bagian dari diriku, barangsiapa yang membuatnya marah, maka ia telah membuatku marah.” —HR. Bukhari dan Muslim

Pernyataan ini menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ tidak akan “lengkap” tanpa Fatimah. Beliau adalah Sirr (rahasia) Allah di muka bumi. Bahkan, Sayyidah Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah bersaksi bahwa tidak ada seorang pun yang paling mirip dengan Rasulullah ﷺ dalam hal diamnya, gerak-geriknya, cara duduknya, dan cara berdirinya melebihi Fatimah.

Sekolah Zuhud: Tasbih Lebih Mulia dari Pembantu

Salah satu kisah paling menyentuh yang diangkat adalah tentang tangan Sayyidah Fatimah yang kasar akibat menggiling gandum dan mengurus rumah tangga. Ketika beliau mengadu kepada Ayahandanya dan meminta seorang pembantu, Rasulullah ﷺ justru memberikan “hadiah” yang jauh lebih berharga dari materi duniawi.

Beliau ﷺ mengajarkan “Tasbih Fatimah” sebagai solusi langit untuk kelelahan bumi:

أَلاَ أُعَلِّمُكُمَا خَيْرًا مِمَّا سَأَلْتُمَا؟ إِذَا أَخَذْتُمَا مَضَاجِعَكُمَا تُكَبِّرَانِ اللَّهَ أَرْبَعًا وَثَلاَثِينَ، وَتَحْمَدَانِ ثَلاَثًا وَثَلاَثِينَ، وَتُسَبِّحَانِ ثَلاَثًا وَثَلاَثِينَ

“Maukah aku ajarkan kepada kalian berdua sesuatu yang lebih baik daripada apa yang kalian minta (pembantu)? Jika kalian hendak tidur, bertakbirlah kepada Allah 34 kali, bertahmidlah 33 kali, dan bertasbihlah 33 kali.” —HR. Bukhari dan Muslim

Ini adalah pelajaran bahwa ketenangan dan kekuatan sejati tidak lahir dari fasilitas mewah, melainkan dari dzikir dan koneksi hati dengan Allah. Sayyidah Fatimah tidak pernah menangis karena dunia, tetapi air matanya tumpah karena rindu kepada Allah dan Rasul-Nya.

Ahlul Kisa dan Doa Kesucian

Habib Geys juga mengingatkan kita pada peristiwa Hadits Al-Kisa’, momen sakral ketika Rasulullah ﷺ menyelimuti Sayyidah Fatimah, Sayyidina Ali, Sayyidina Hasan, dan Sayyidina Husein dengan kain dari Khaibar, lalu berdoa:

إِنَّمَا يُرِيدُ ٱللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنكُمُ ٱلرِّجْسَ أَهْلَ ٱلْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا

“Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai ahlul bait, dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” —QS. Al-Ahzab: 33

Mereka adalah manusia-manusia pilihan yang dipelihara Allah dari segala kotoran zahir dan batin. Mencintai mereka adalah bagian dari syariat dan jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Ijazah Shalawat Sayyidah Fatimah

Sebagai penutup yang penuh berkah, Habib Geys Assegaf membagikan ijazah shalawat yang beliau terima dari gurunya, Habib Muhsin bin Idrus Al-Hamid. Shalawat ini merupakan wasilah untuk menyambung hati dengan Sayyidah Fatimah:

“Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada junjungan kami Nabi Muhammad dan junjungan kami Sayyidah Fatimah putri Muhammad, serta kepada keluarganya. Berkahilah dan sejahterakanlah mereka dalam setiap kedipan mata dan hembusan napas, sebanyak apa yang dicakup oleh ilmu Allah.”

Semoga dengan meneladani dan mencintai Sayyidah Fatimah, kita kelak dikumpulkan bersama beliau dan Ayahandanya di surga yang penuh kenikmatan.

Wallahu a’lam bishawab.

Bagikan Artikel Ini
Tidak ada komentar