NABAWI TV – Al-Mukarram K.H. Ahmad Bahauddin Nursalim, atau yang akrab disapa Gus Baha, kembali mengisi kajian ilmiah di Masjid Istiqlal, Jakarta, dalam rangkaian acara Majelis Rasulullah SAW. Di hadapan para ulama, Habaib, dan tokoh nasional (termasuk Prof. Nazaruddin dan Pak Muzani), Gus Baha menyampaikan telaah mendalam tentang filsafat keimanan.
Beliau menjelaskan bahwa keunggulan terbesar manusia di sisi Allah ﷻ justru terletak pada keterbatasan kita, yaitu tidak melihat secara langsung surga, neraka, apalagi Zat Allah ﷻ.
Tauhid: Logika Sederhana dari Satu Titik
Gus Baha memulai dengan menjelaskan konsep Tauhid (keesaan Allah) yang dapat dicerna dengan logika sederhana. Beliau menyinggung Syekh Nawawi Al-Bantani yang menjelaskan mengapa Bismillah dimulai dengan huruf Bā (ب) yang memiliki satu titik.
Satu titik ini disebut nukṭah al-wujūd (asal usul eksistensi). Anda gambar kambing, gambar apa saja, entah baik entah jelek, itu tetap dimulai dari satu titik. [03:05]
Logika kesatuan ini juga berlaku pada angka. Angka 2, 3, hingga triliunan, semua itu pada dasarnya kembali kepada angka satu (nukṭah). Inilah dasar Tauhid yang diajarkan para ulama: semua ciptaan pada akhirnya dinisbatkan kembali kepada al-aṣl (asal) yang Maha Esa [02:24].
Kekuatan Iman: Mengungguli Malaikat
Inti dari ceramah Gus Baha adalah Hadits Riwayat Bukhari (Nomor 6408) yang menjelaskan keutamaan orang yang beriman kepada yang gaib (Al-Mu’minūn bil Ghaib) [05:09].
- Iman yang Lebih Kuat: Malaikat ketika memuji Allah ﷻ ditanya, apakah mereka tahu mengapa manusia memuji-Nya sedemikian rupa? Malaikat menjawab, mereka tidak tahu karena tidak melihat-Nya. Allah ﷻ menjelaskan, seandainya manusia melihat-Nya secara langsung, pujian mereka akan lebih dahsyat [05:41].
- Keterbatasan Menjadi Kelebihan: Nabi Muhammad ﷺ bersabda, ṭūbā li-man ra’ānī wa āmana bī (beruntunglah orang yang melihatku dan beriman), tetapi jauh lebih beruntung (wa man lam yarānī wa āmana bī) adalah orang yang tidak melihat Nabi ﷺ secara langsung, namun tetap beriman [12:13, 12:28]. Keterbatasan indrawi ini yang menjadikan iman manusia lebih mulia di sisi Allah ﷻ karena didasari keyakinan murni, bukan penglihatan.
Al-Qur’an: Mukjizat Abadi yang Paling Otoritatif
Gus Baha kemudian membandingkan mukjizat Nabi Muhammad ﷺ dengan mukjizat para nabi terdahulu (Nabi Musa dengan tongkat, Nabi Saleh dengan unta dari batu).
Semua Nabi dikasih wahyu, dikasih mukjizat… sehingga orang itu dipaksa iman. Tapi kata Nabi Muhammad ﷺ, saya tidak punya mukjizat kayak itu juga tidak ingin. Saya ini dikasih mukjizat Al-Qur’an. [19:17,20:00]
Mukjizat Nabi ﷺ (Al-Qur’an) lebih keren (a’jaza) daripada mukjizat fisik para nabi terdahulu, karena:
- Abadi (Bāqiyah): Mukjizat Al-Qur’an abadi hingga Hari Kiamat. Mukjizat nabi lain bersifat temporal dan lokal [23:25].
- Logika Kekuasaan: Untuk mengakui kekuasaan Allah ﷻ, manusia tidak perlu melihat lautan terbelah. Cukup dengan menyadari bahwa mereka tidak mampu menciptakan seekor nyamuk atau lalat, kekuasaan Allah ﷻ sudah terbukti tidak terbatas [20:43, 22:47].
Di akhir ceramah, Gus Baha menekankan bahwa ilmu yang diajarkan oleh para Habaib dan Kiai adalah otoritatif dan berbasis referensi (sanad). Beliau berpesan agar umat Islam senantiasa menjaga keimanan berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman yang benar.
Wallahu a’lam bishawab.

