Generasi Gadget vs Generasi Penakluk: Mengapa Anak Muda Kita Kehilangan Arah?

Habib Muhammad Alaydrus membedah krisis identitas pemuda zaman now dan bagaimana Rasulullah ﷺ mencetak remaja menjadi panglima dunia.

Nabawi TV
5 Menit Bacaan

NABAWI TV – Pernahkah kita menghitung berapa jam waktu yang dihabiskan anak muda di depan layar ponsel setiap harinya? Lima jam? Sepuluh jam? Atau bahkan lebih? Fenomena ini seringkali membuat para orang tua mengelus dada, cemas akan masa depan generasi penerus yang tampak “tenggelam” dalam dunia maya.

Namun, benarkah gadget adalah satu-satunya biang keladi kehancuran mental pemuda? Atau ada akar masalah lain yang lebih fundamental yang selama ini luput dari pandangan kita?

Dalam sebuah wawancara eksklusif yang penuh hikmah di Nabawi TV, Al-Habib Muhammad bin Abdullah Alaydrus, seorang ulama besar dari Tarim, Yaman, mengupas tuntas persoalan ini dengan perspektif yang sangat tajam dan solutif.

Bukan Salah Gadget, Tapi Kosongnya Jiwa

Seringkali kita menyalahkan teknologi sebagai penyebab rusaknya moral anak muda. Namun, Habib Muhammad memberikan pandangan yang mengejutkan. Menurut beliau, ketergantungan berlebihan pada gawai hanyalah gejala, bukan penyakit utama.

Penyakit utamanya adalah “Krisis Identitas”. Pemuda hari ini sibuk dengan ponsel karena mereka kehilangan arah. Mereka tidak mengenal siapa yang menciptakan mereka, dan untuk apa mereka diciptakan di muka bumi ini.

“Masalahnya bukan pada Jauwal (HP), tapi pada Uqul (Akal). Jika kita bisa memperbaiki pola pikir mereka, maka alat yang tadinya menjadi senjata pemusnah massal (perusak akhlak) akan berubah menjadi senjata pembangun peradaban.” — Al-Habib Muhammad bin Abdullah Alaydrus.

Jebakan Istilah “Remaja” (Murahiq)

Salah satu poin menarik yang disampaikan Habib adalah kritik beliau terhadap istilah “Masa Remaja” atau Murahiq. Istilah ini seolah menjadi pembenaran bagi anak muda untuk berbuat salah, bersikap kekanak-kanakan, atau tidak bertanggung jawab dengan alasan “masih remaja” atau “sedang masa pencarian jati diri”.

Padahal, dalam sejarah Islam, usia belasan tahun adalah usia para penakluk dan pemimpin, bukan usia untuk bermalas-malasan.

  • Usama bin Zaid: Di usia 17 tahun sudah ditunjuk Rasulullah ﷺ menjadi panglima perang memimpin para sahabat senior seperti Abu Bakar dan Umar.
  • Muhammad Al-Fatih: Di usia 18 tahun sudah memimpin penaklukan Konstantinopel, sebuah pencapaian yang dijanjikan oleh Nabi ﷺ ratusan tahun sebelumnya.
  • Harithah bin Nu’man: Di usia 16 tahun sudah mencapai derajat kewalian dan pengetahuan tinggi (ma’rifat) di sisi Allah.

Islam memandang pemuda sebagai “Rijal” (lelaki dewasa) yang siap memikul tanggung jawab besar, bukan anak kecil yang terjebak dalam tubuh dewasa.

Koneksi yang Terputus: Pemuda dan Orang Tua

Solusi konkret apa yang ditawarkan? Habib Muhammad menekankan pentingnya koneksi (rabithah) antara generasi muda dengan generasi tua (ulama dan orang tua).

Jika pemuda dibiarkan berjalan sendiri tanpa bimbingan orang tua dan ulama, akan terjadi missing link (mata rantai yang putus). Pemuda butuh ‘duduk’ bersama orang tua, dan orang tua butuh ‘turun’ merangkul anak muda.

Jangan menunggu mereka datang ke majelis taklim atau pesantren. Kita yang harus mendatangi mereka di tongkrongan mereka, menyapa mereka dengan kasih sayang, sebagaimana Rasulullah ﷺ menjenguk seorang pemuda Yahudi yang sakit hingga akhirnya ia bersyahadat.

Hikmah Kedermawanan Hasan dan Husain

Sebagai penutup yang menyentuh hati, Habib menceritakan kisah keteladanan Sayyidina Hasan dan Husain radhiyallahu ‘anhuma tentang mentalitas memberi.

Suatu ketika, Hasan, Husain, dan Abdullah bin Ja’far tersesat di padang pasir dan ditolong oleh seorang nenek tua yang miskin. Nenek itu menyembelih satu-satunya domba miliknya untuk menjamu mereka tanpa tahu siapa tamu agung tersebut.

Ketika kembali ke Madinah, ketiga pemuda mulia ini tidak melupakan jasa sang nenek. Saat bertemu kembali:

  • Sayyidina Hasan memberinya 1.000 ekor kambing dan 1.000 dinar.
  • Sayyidina Husain memberinya jumlah yang sama.
  • Abdullah bin Ja’far memberinya 2.000 ekor kambing dan 2.000 dinar.

Total sang nenek mendapatkan 4.000 ekor kambing dan ribuan dinar emas. Inilah mentalitas pemuda didikan Nabi: Bukan mental peminta-minta atau pengeluh, tapi mental pemberi, pengayom, dan pembangun peradaban.

Semoga Allah memperbaiki pemuda-pemudi kita dan menjadikan mereka generasi emas yang membanggakan Rasulullah ﷺ.

Wallahu a’lam bishawab.

Bagikan Artikel Ini
Tidak ada komentar