Fondasi ‘Rumah Surga’: Buya Yahya Ungkap Dua Pilar Wajib Sebelum Menyelami Bahtera Rumah Tangga

Bahtera rumah tangga ibarat pelayaran yang pasti diterpa badai. Buya Yahya menjelaskan dua pilar utama (ilmu dan bahan) yang wajib disiapkan, serta cara menanggulangi jika terlanjur "salah pilih bahan".

Nabawi TV
5 Menit Bacaan

NABAWI TV – Pernikahan sering diibaratkan sebagai sebuah pelayaran di atas bahtera. Istilah bahtera rumah tangga ini memang tepat, sebab dalam perjalanannya, ia tak hanya menikmati indahnya lautan tenang, tetapi juga pasti menghadapi ombak, badai, bahkan topan [01:11]. Lalu, bagaimana agar bahtera ini tidak bocor dan tetap bisa berlabuh di tempat yang indah, yaitu Surga?

Dalam sesi Ngobrolin Rumah Tangga bersama Nabawi TV, Buya Yahya menjelaskan bahwa untuk menjalani rumah tangga dengan baik, kuncinya terletak pada persiapan dan kesadaran sejak awal. Beliau membandingkan pernikahan dengan dua analogi kuat: membangun rumah dan mengarungi lautan, yang keduanya memerlukan dua pilar utama: ilmu dan bahan.

Membangun ‘Rumah Surga’: Dua Pilar Wajib Menurut Buya Yahya

Menurut Buya Yahya, membangun rumah tangga sama seperti membangun rumah fisik. Meskipun bahan bangunannya mahal dan indah, jika tidak didasari ilmu yang benar, hasilnya akan kacau [01:35]. Sebaliknya, ilmu yang hebat tanpa bahan yang bagus juga bisa membuat bangunan cepat runtuh.

Untuk itu, pondasi rumah tangga harus ditegakkan di atas dua pilar berikut:

1. Ilmu Sebagai Pondasi dan Kompas

Ilmu adalah kunci pertama dalam membangun rumah. Ini berarti setiap calon pasangan wajib belajar, menghadiri majelis para ulama, dan mendalami tata cara menjalani rumah tangga yang benar [01:52].

Ilmu berfungsi sebagai:

  • Fondasi (Taksis): Ilmu menentukan cara kita membuat pondasi di awal, saat Qabil Nikah (sebelum menikah) [02:00].
  • Peta Pelayaran: Ilmu akan menjadi kompas di saat bahtera pernikahan diterpa badai, sehingga kita tahu cara mengatasinya agar tidak terhempas.

2. Bahan Baku Terbaik: Agama di Atas Segalanya

Setelah memiliki ilmu, kita harus memastikan bahan yang kita pilih untuk membangun rumah tangga adalah bahan terbaik. Buya Yahya secara spesifik merujuk pada kriteria memilih pasangan [02:09].

Rasulullah ﷺ telah mengajarkan dalam sabdanya, bahwa seseorang menikahi wanita karena empat perkara: hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya. Maka, pilihlah karena agamanya.

Buya Yahya menegaskan, agama adalah kualitas terpenting, sementara hal lain seperti kecantikan atau kekayaan hanyalah pelengkap [02:27]. Jika bahan dasarnya (agamanya) sudah kuat, maka rumah tangga yang terbentuk pun akan kokoh.

Pilih dong dari bahan-bahan itu adalah kualitas terpenting adalah agama. Sesudahnya Oke, pelengkap boleh. Dia di samping cantik dia kaya, di samping beragama dia kaya, itu boleh. Akan tetapi jangan lupa agamanya.
— Buya Yahya [02:27]

Ancaman Badai dan Pentingnya Tontonan

Selain persiapan bahan dan ilmu, bahtera rumah tangga harus senantiasa dijaga dari kerusakan. Buya Yahya menyoroti bahwa tontonan dan lingkungan sekitar memiliki peran vital dalam merusak keutuhan rumah tangga.

Beliau memberi contoh bagaimana tontonan yang tidak jelas dapat merusak mental pasangan:

  • Sinetron yang Mengajarkan Perselingkuhan: Tontonan seperti ini bisa menanamkan ide dan mikir untuk selingkuh di benak penonton [02:51].
  • Tontonan Kekerasan: Film atau berita yang berisi kekerasan bisa memicu pasangan untuk berantem dan meniru perilaku kekerasan di rumah.

Buya Yahya mengajak agar setiap pasangan memilih tontonan yang mendidik dan mulia, seperti media-media yang menyajikan ilmu dan edukasi Islam [03:03].

Keluarga adalah rumah surga yang akan melahirkan generasi-generasi masa depan. Jangan sampai kita sibuk mengurus negara tetapi rumah kita tidak Islami [03:29]. Rumah kita adalah negara kecil di mana kita adalah presidennya, istri adalah wakil, dan anak-anak adalah menterinya. Pastikan kita bisa mengaturnya dengan baik.

Solusi Jika Terlanjur “Salah Pilih Bahan”

Bagaimana jika seseorang merasa terlanjur “salah pilih bahan” dan kini hidup dengan pasangan yang jauh dari kriteria agama yang diharapkan? Apakah harus dibuang?

“Tidak boleh dibuang juga. Ada upaya-upaya untuk membenahi,” ujar Buya Yahya [00:04:10 – 00:04:19].

Jika bahtera sudah mulai bocor di tengah lautan, kita tidak boleh langsung menyerah. Di sinilah ilmu kembali memainkan perannya. Kita harus menggunakan ilmu untuk:

  • Membenahi: Mencari tahu cara memperbaiki pasangan yang memiliki kekurangan.
  • Mengatasi: Mencari tahu cara mengatasi masalah rumah tangga yang muncul akibat perbedaan karakter atau agama.

Ini menegaskan bahwa Islam selalu menyediakan jalan keluar dan solusi bagi setiap masalah rumah tangga, baik dalam fase menuju pernikahan maupun dalam fase mempertahankannya.

Wallahu a’lam bishawab.

Bagikan Artikel Ini
Tidak ada komentar