Distorsi Kitab Ulama: Fakta atau Fitnah?

Analisis mendalam Ustadz Faris Baswedan tentang fenomena distorsi dan penyalahgunaan kitab-kitab ulama di ruang publik. Membedah bahaya manipulasi ilmu agama.

Nabawi TV
4 Menit Bacaan

Pernahkah Anda membayangkan, buku yang Anda pegang dan jadikan rujukan agama ternyata isinya sudah “diotak-atik”? Kalimatnya diubah, paragrafnya dihapus, atau bahkan maknanya dibelokkan 180 derajat dari maksud asli penulisnya. Terdengar seperti teori konspirasi? Sayangnya, ini adalah realita pahit yang sedang terjadi di dunia literasi Islam.

Dalam program Towards Unity di Nabawi TV, Ustadz Faris Baswedan mengupas tuntas fenomena “Distorsi Kitab” yang kian meresahkan. Bukan sekadar tuduhan kosong, beliau membeberkan bukti-bukti otentik bagaimana tangan-tangan jahil telah menodai warisan suci para ulama demi kepentingan kelompok tertentu.

Mengapa Mereka Melakukannya?

Motif di balik distorsi kitab sangat beragam, namun benang merahnya seringkali bermuara pada satu hal: Fanatisme Buta. Demi membela pendapat kelompoknya, sebagian oknum rela menghapus kebenaran yang ditulis oleh ulama terdahulu.

Ustadz Faris mengutip peringatan keras dari Rasulullah ﷺ: “Saling menasihatilah dalam ilmu, karena pengkhianatan salah seorang dari kalian yang berkaitan dengan ilmu itu lebih buruk daripada pengkhianatan pada harta.” [10:18]

Bayangkan, mencuri harta saja dosa, apalagi “mencuri” ilmu dengan memanipulasi teks agama. Ini adalah bentuk pengkhianatan intelektual yang dampaknya bisa menyesatkan ribuan, bahkan jutaan umat Islam yang membacanya.

Bukti Nyata Distorsi: Dari Pujian Jadi Celaan (dan Sebaliknya)

Untuk membuktikan bahwa ini bukan isapan jempol, Ustadz Faris menampilkan beberapa temuan fakta yang mencengangkan. Berikut adalah beberapa contoh kasus distorsi yang dibongkar:

1. Kitab Wasiyatul Imam Abi Hanifah Pada cetakan asli (manuskrip), tertulis akidah Imam Abu Hanifah bahwa “Allah beristiwa tanpa membutuhkan Arsy dan tanpa menetap padanya”. Namun, oknum penyunting mengubahnya menjadi “menetap padanya” (wastaqarra ‘alaihi). Sebuah perubahan kecil yang fatal dalam bab akidah! [01:11]

2. Kitab Mukhtashar Thabaqatil Hanabilah Ini lebih dramatis lagi. Pada cetakan pertama (1339 H), penulis asli menukil celaan ulama terhadap dakwah Muhammad bin Abdul Wahab yang dianggap keras (mirip Khawarij). Namun, pada cetakan kedua (1986 M) oleh penyunting yang berbeda, bagian celaan itu dibuang total dan diganti dengan pujian setinggi langit yang diambil dari buku lain! Teks aslinya “dirampok” dan diganti isinya 180 derajat. [02:14]

3. Kitab Al-Fawaid Al-Muntakhabat Penyunting kitab ini secara terang-terangan mengaku di catatan kaki bahwa dia sengaja menghapus kalimat penulis yang mengkritik Muhammad bin Abdul Wahab. Alasannya? Karena penulis dianggap “sakit hati” dan “ahli bid’ah”. Bukannya menjaga amanah teks, penyunting malah menjadi “hakim” atas karya orang lain. [04:43]

Bahaya Mengubah Warisan Ulama

Tindakan distorsi ini dikecam keras oleh para ulama sepanjang masa. Imam Tajuddin As-Subki bahkan menyebutnya sebagai Dosa Besar. Mengapa? Karena ini sama saja dengan merusak syariat dan menghilangkan kepercayaan umat terhadap karya ulama [10:54].

Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani juga menegaskan: “Tidak diperbolehkan dengan sengaja merubah redaksi hadits apapun kondisinya.”

Jika budaya mengubah-ubah kitab ini dibiarkan, maka generasi mendatang akan kehilangan jejak kebenaran. Mereka akan membaca kitab klasik rasa “baru” yang sudah disesuaikan dengan selera zaman atau ideologi penerbitnya.

Apa yang Harus Kita Lakukan?

Menghadapi fenomena ini, Ustadz Faris mengajak kita untuk tidak sekadar marah-marah, tapi menjadi pembaca yang cerdas dan kritis.

  • Selektif Memilih Penerbit: Jangan tergiur sampul (cover) yang bagus. Pastikan penerbit dan penyunting (muhaqqiq) kitab tersebut memiliki kredibilitas dan amanah ilmiah.
  • Konsultasi pada Ahlinya: Tanyakan kepada Ustaz atau Ulama yang memiliki sanad keilmuan jelas tentang kitab mana yang otentik (asli) dan mana yang sudah “dipermak”.
  • Hargai Perbedaan: Jika ada pendapat ulama di masa lalu yang berbeda dengan kita, biarkanlah itu menjadi khazanah ilmu. Jangan dihapus atau disembunyikan hanya karena kita tidak setuju.

Mari kita jaga kemurnian ilmu agama ini dengan kejujuran. Karena pada akhirnya, kebijaksanaan lahir dari keikhlasan menerima kebenaran, bukan dari memaksakan kehendak dengan cara curang.

Wallahu a’lam bishawab.

Bagikan Artikel Ini
Tidak ada komentar