Mengapa Ulama Besar Menghindari Ceramah tentang Mukjizat Wali?

Analisis tentang glorifikasi karomah di media sosial. Mengapa ulama besar (seperti Habib Umar) lebih fokus pada amal yang bisa ditiru daripada cerita mukjizat yang tidak substansial.

Nabawi TV
4 Menit Bacaan

Fenomena karomah—keajaiban yang dianugerahkan Allah kepada para Aulia (wali)—adalah keyakinan yang diakui dalam tradisi Ahlussunnah wal Jama’ah, bahkan disepakati oleh ulama salaf seperti Imam Ibnu Taimiyah bahwa ia akan terus ada hingga hari kiamat (ila yaumil qiyamah).

Namun, di era keterbukaan informasi, topik ini justru memicu perpecahan. Banyak penceramah muda yang mulai “mengangkat tinggi” cerita-cerita karomah yang tidak substansial, seperti kisah rantai emas, menarik pesawat mundur, hingga mi’raj yang berulang.

Dalam sebuah diskusi mendalam di kanal Youtube Kelas Ngaji Binanies, Habib Muhammad bin Anies Shahab dan Gus Ajir Ubaidillah membedah dilema ini, menekankan bahwa masalahnya bukan pada keabsahan karomah, melainkan pada adab dan fiqh dakwah dalam menyampaikannya di ruang publik.

Bahaya Glorifikasi Karomah di Medsos

Gus Ajir Ubaidillah membuka diskusi dengan menyoroti bahwa glorifikasi berlebihan terhadap karomah di media sosial justru menimbulkan dampak negatif.

Yang kita takutkan itu orang yang netral… akhirnya terprovokasi. Orang netral itu kan gak mungkin gampang dia menerima, sehingga dia belum apa, dia sudah anti.

Ketika kisah-kisah yang berada di luar nalar disajikan secara bombastis sebagai materi dakwah utama, masyarakat awam dan kaum netral dapat berprasangka buruk, menganggap agama sebagai sarang takhayul. Gus Ajir menekankan bahwa topik karomah seharusnya didiskusikan secara komprehensif di kajian internal dan tertutup (offline), bukan sebagai komoditas yang liar di media sosial.

Pelajaran dari Ulama Ahlul Bait

Habib Muhammad bin Anies Shahab membagikan pengalaman pentingnya selama menuntut ilmu di Darul Mustofa, Yaman, di bawah bimbingan guru mulia, Habib Umar bin Hafidz. Meskipun Habib Umar adalah sosok yang diyakini memiliki karomah besar, Habib Muhammad menyaksikan satu hal fundamental:

Saya selama 14 bulan itu lihat Habib Umar itu taklimnya mendekatkan diri kepada Allah, selawat kepada Nabi Muhammad, mengikuti Rasul… Gak ada sama sekali [cerita karomah].

Habib Muhammad menjelaskan bahwa materi yang disampaikan oleh para ulama besar fokus pada hal-hal yang bisa dilakukan (amaliyah) dan bisa ditiru oleh umat. Contohnya: keutamaan shalat tepat waktu, birrul walidain (berbakti kepada orang tua), jujur dalam berjual beli, dan jihad di jalan Allah.

Karomah adalah sesuatu yang tidak dapat ditiru oleh orang umum. Para ulama besar lebih memilih mengajarkan amal yang dapat diaplikasikan untuk kemaslahatan umat, daripada keajaiban yang dapat menimbulkan kesalahpahaman.

Kunci Sejati Mendapatkan Karomah

Karomah bukanlah tujuan beribadah, melainkan anugerah (bonus) dari Allah SWT. Ia adalah hasil, bukan faktor pendorong.

Mengutip kaidah yang diucapkan Imam Abdullah Al-Haddad, Habib Muhammad menjelaskan kunci hakikat karomah:

Tidak akan pernah dapat karomah orang yang ibadah untuk dapat karomah.

Seseorang mendapatkan karomah karena ia beribadah ikhlas hanya karena Allah (mukhlis lillahi ta’ala). Jika niat awal beribadah sudah “didesain” untuk mendapatkan keajaiban atau ketenaran, maka bonus tersebut akan hilang.

Media Sosial: Ujian Kematangan

Diskusi ini juga menyentuh risiko besar media sosial. Gus Ajir mengingatkan kaidah fikih, “Man ta’ajjala bi syai’in qabla awanihi ‘uqiba bi hirmanihi”, yang berarti barang siapa yang terburu-buru mendapatkan sesuatu sebelum waktunya, ia dihukum dengan diharamkan hasilnya.

Ini adalah peringatan bagi da’i muda yang secara kapasitas keilmuan dan mental sosial belum matang, namun sudah tergiur sorotan. Memamerkan cerita yang “belum matang” (kopi yang dipetik saat masih hijau) di media sosial dapat menjerumuskan pada jebakan glorifikasi diri dan cerita yang tidak substansial.

Hati-hatilah dengan sosmed-mu… sosmed-mu harimau-mu.

Kesimpulan: Para ulama besar telah memberikan teladan dalam fiqh dakwah: fokus pada amalan yang dapat ditiru umat dan menghindari penceritaan berlebihan yang dapat mengganggu tauhid dan akidah masyarakat awam. Karomah adalah anugerah, tetapi akhlak dan ilmu adalah kewajiban yang harus selalu diprioritaskan.

Wallahu a’lam bishawab.

Bagikan Artikel Ini
Tidak ada komentar