Cerminan Zaman: Lima Kategori Ulama Menurut Al-Habib Abdullah Al-Haddad

Memahami klasifikasi ulama berdasarkan karya Al-Imam Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad dalam ad-Da’wah at-Tammah. Sebuah panduan tajam untuk membedakan antara Ulama Rabbani sejati, ulama lalai, dan Ulama Sū’ (ulama jahat) di era kontemporer.

Nabawi TV
5 Menit Bacaan

Pendahuluan: Tanggung Jawab Berat Seorang Pewaris Nabi

Gelar ulama (orang yang berilmu) adalah gelar yang paling mulia, sebab mereka adalah pewaris para Nabi. Namun, kemuliaan ini datang dengan tanggung jawab yang amat besar. Sebagaimana yang diuraikan oleh Al-Imam Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad dalam ad-Da‘wah at-Tammah, ulama dapat dikelompokkan ke dalam beberapa kategori. Pembagian ini bukan hanya teori klasik, melainkan cermin untuk menilai integritas spiritual dan moral ulama di zaman modern.

1. Ulama Rabbani: Mengamalkan dan Mengajarkan

Inilah sosok ulama yang ideal dan didamba umat. Mereka memiliki ciri-ciri:

  • Beramal dengan ilmunya secara ikhlas.
  • Mengajarkannya kepada manusia.
  • Berdakwah hanya karena Allah SWT semata, bukan karena popularitas, kekuasaan, atau materi.

Merekalah pewaris para nabi sejati, yang derajatnya tinggi di sisi Allah dan kelak mendapatkan kemuliaan di akhirat. Mereka menebar cahaya, menghidupkan hati manusia, dan menjadi mercusuar peradaban.

2. Ulama yang Beramal, Namun Tidak Mengajar

Golongan ini adalah ulama yang ikhlas beramal dengan ilmunya, tetapi tidak mengajarkannya kepada masyarakat luas. Dalam kasus ini, niatnya menentukan:

  • Tercela: Jika alasannya karena ego atau ingin menjadi satu-satunya rujukan.
  • Tidak Berdosa: Jika alasannya karena sibuk memperbaiki diri (tajrid), menenggelamkan diri dalam ibadah, atau merasa cukup dengan keberadaan ulama lain yang sudah mengajarkan ilmu.

Model ini sering ditemukan di kalangan sufi yang lebih menekankan perbaikan batiniah daripada tampil di ruang publik.

3. Ulama yang Mengajar, Tetapi Tidak Beramal

Inilah golongan yang sangat dikhawatirkan dalam hadis Nabi ﷺ, karena kontradiksi antara lisan dan perbuatan. Mereka diibaratkan seperti jarum yang menjahit pakaian untuk orang lain, tetapi membiarkan dirinya telanjang; atau lilin yang menerangi sekitar, namun membakar dirinya sendiri.

Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ (٢) كَبُرَ مَقْتًا عِندَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” — Q.S. As-Shaff: 2-3

Akibat bagi golongan ini sangat berat. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Seorang alim diperintahkan masuk neraka, lalu terburailah ususnya. Ia berputar dengannya seperti keledai yang berputar di penggilingan. Penduduk neraka bertanya, ‘Mengapa engkau?’ Ia menjawab, ‘Aku memerintahkan kebaikan tetapi tidak melakukannya, dan aku melarang keburukan namun aku melakukannya.'”

4. Ulama yang Tidak Beramal dan Tidak Mengajar

Golongan ini diibaratkan seperti batu besar yang menahan aliran air: tidak bisa menyerap manfaat untuk dirinya sendiri, juga tidak memberi manfaat kepada orang lain.

Allah SWT mengecam mereka yang menyembunyikan ilmu, sebuah tindakan yang merugikan umat:

إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى… أُولَئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللَّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللَّاعِنُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan dan petunjuk… mereka itu dilaknat Allah dan dilaknat (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat melaknat.” — Q.S. Al-Baqarah: 159

5. Ulama Sū’ (Ulama Jahat): Menyesatkan dan Mengkhianati

Inilah tipe yang paling berbahaya dan paling buruk. Mereka menggunakan ilmu agama sebagai alat untuk tujuan duniawi:

  • Menjual ayat-ayat Allah demi jabatan, kekuasaan, atau harta.
  • Menghiasi kesesatan agar tampak seperti kebenaran dengan lidahnya.

Mereka adalah “khalifah setan” dan pengkhianat umat. Allah SWT memberikan perumpamaan keras dalam kisah Balam bin Bā’ūrā’, seorang alim yang tergelincir:

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِي آَتَيْنَاهُ آَيَاتِنَا فَانْسَلَخَ مِنْهَا… فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْ

“Perumpamaannya seperti anjing: jika kamu menghalaunya diulurkannya lidah, dan jika kamu membiarkannya ia juga mengulurkan lidahnya.” — Q.S. al-A‘raf: 175-176

Rasulullah ﷺ memperingatkan:

مَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ اتَّبَعَهُ، لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا

“Barangsiapa mengajak kepada kesesatan, maka ia akan menanggung dosa seperti dosa-dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun.”

Penutup: Koreksi Diri dan Realitas Digital

Pembagian ulama ini adalah tamparan keras bagi realitas zaman kini, di mana “ulama instan” mudah bermunculan di ruang publik. Setiap pencari ilmu harus bercermin dan menilai: di golongan manakah kita berdiri? Apakah kita berusaha menjadi pewaris Nabi yang menebar cahaya (Ulama Rabbani), atau justru pewaris setan yang menebar fitnah (Ulama Sū’)?

Kualitas keulamaan sejati tidak terletak pada popularitas, melainkan pada keikhlasan amal dan keberanian membela kebenaran.

Bagikan Artikel Ini
Tidak ada komentar