NABAWI TV – Sebuah kunjungan istimewa terjadi di kantor Rabithah Alawiyah, Jakarta. Tamu agung tersebut adalah Syaikh Yasir Al-Qudmani, seorang ulama yang datang jauh untuk melihat langsung bagaimana “jantung” para keturunan Nabi Muhammad ﷺ berdenyut di Indonesia.
Apa yang beliau temukan di sana bukanlah sekadar tumpukan berkas silsilah atau administrasi organisasi semata. Ada sebuah ruh perjuangan, ghirah (kecemburuan) agama, dan mata rantai keilmuan yang tak terputus hingga ke Walisongo. Sebuah pemandangan yang membuat beliau meluapkan rasa kekagumannya terhadap institusi yang telah berdiri kokoh sejak tahun 1928 ini.
Penjaga Gerbang Nasab dan Ilmu
Dalam lawatannya, Syaikh Yasir Al-Qudmani menyoroti peran ganda Rabithah Alawiyah yang sangat krusial. Organisasi ini tidak hanya berfungsi sebagai lembaga sensus yang mencatat “Siapa anak siapa”, melainkan menjadi benteng sosial dan ilmiah bagi para Sadaah Ba ‘Alawi.
Sesungguhnya mereka yang melihat kabar berita mereka (Rabithah Alawiyah), pasti akan merasa kagum atas khidmah (pengabdian) yang mereka lakukan, bimbingan yang mereka berikan, dan kecemburuan mereka terhadap Syariat. — Syaikh Yasir Al-Qudmani (04:16).
Beliau menegaskan bahwa upaya pencatatan dan penerbitan buku nasab adalah bentuk penjagaan terhadap identitas mulia yang tersambung langsung kepada Rasulullah ﷺ. Ini mengingatkan kita pada bagaimana Islam sangat memuliakan nasab dan keluarga Nabi, sebagaimana firman Allah ﷻ:
قُل لَّآ أَسْـَٔلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِلَّا ٱلْمَوَدَّةَ فِى ٱلْقُرْبَىٰ
“Katakanlah: ‘Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upahpun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan’.” (QS. Asy-Syura: 23).
Jejak Walisongo hingga Quraish Shihab
Syaikh Yasir melihat adanya benang merah yang kuat antara perjuangan Rabithah Alawiyah hari ini dengan sejarah dakwah masa lalu. Beliau menyebut nama Wali Songo sebagai leluhur para Habaib yang telah menanamkan tonggak ilmu dan hidayah di tanah Jawa (01:50).
Kekaguman beliau semakin bertambah saat berinteraksi langsung dengan tokoh-tokoh ulama Indonesia saat ini. Beliau menceritakan pertemuannya dengan Habib Abdurrahman bin Syeikh Al-Attas dan Prof. Dr. Quraish Shihab.
- Habib Abdurrahman Al-Attas: Di usia 66 tahun, beliau masih memiliki ingatan yang tajam (hadirul dzehn), fasih menceritakan kisah para guru, dan penuh semangat pendidikan.
- Quraish Shihab: Syaikh Yasir menyebutnya sebagai “Mufassir Sayyid al-Mubarak”, sosok wajah keilmuan negeri ini yang telah merampungkan karya tafsir Al-Qur’an secara utuh.
Mutiara yang Tersebar di Nusantara
Indonesia, sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar dalam satu wilayah, memiliki anugerah luar biasa dengan tersebarnya dzurriyah (keturunan) Rasulullah ﷺ. Syaikh Yasir menyebutkan marga-marga mulia yang menghiasi bumi Nusantara, mulai dari As-Segaf, Al-Aidrus, Al-Attas, Al-Habsyi, Syahab, hingga Al-Qadri (05:14).
Mereka semua bernaung di bawah satu “pohon rindang” yang akarnya adalah Nabi Muhammad ﷺ. Keberadaan mereka bukan untuk dibanggakan secara sombong, melainkan sebagai wasilah keberkahan dan penyambung sanad keilmuan yang otentik bagi umat Islam di Indonesia.
Doa untuk Penjaga Warisan Nabi
Menutup refleksinya, Syaikh Yasir Al-Qudmani memanjatkan doa tulus di hadapan foto-foto para pendiri Rabithah Alawiyah yang menghiasi dinding kantor tersebut. Beliau berharap agar Allah ﷻ menjauhkan mereka dari segala fitnah dan menjaga persatuan keluarga besar ini.
Kami memohon kepada Allah agar menjauhkan mereka dari fitnah, menambah keeratan hubungan keluarga ini, serta menambah semangat mereka dalam menjaga akidah, akhlak, dan ittiba’ (pengikutan) mereka kepada Nabi dan Kakek Agung mereka ﷺ. — Syaikh Yasir Al-Qudmani.
Kunjungan ini menjadi pengingat bagi kita semua, bahwa mencintai dan menghormati para pewaris darah daging Rasulullah ﷺ adalah bagian dari menjaga keutuhan agama itu sendiri. Semoga keberadaan Rabithah Alawiyah terus menjadi oase yang menyejukkan bagi umat Islam di Indonesia.
Wallahu a’lam bishawab.

