Siapa yang tidak kenal dengan sohibul maqam keramat Empang Bogor, Al-Habib Abdullah bin Muhsin Al-Attas? Sosok agung yang haulnya selalu dibanjiri ribuan pecinta ini bukan sekadar ulama biasa. Beliau adalah “Ayah min Ayatillah”, sebuah tanda kebesaran Allah dan mukjizat kenabian yang nyata di zamannya.
Dalam peringatan Haul ke-95 beliau, Ketua Umum Rabithah Alawiyah, Habib Taufiq bin Abdul Qadir Assegaf, mengupas tuntas rahasia di balik kewalian sang Habib. Ternyata, menjadi kekasih Allah (Wali) itu bukan soal pamer kesaktian, tapi soal integritas hati dan amalan yang “gila-gilaan” dalam meniru Nabi Muhammad ﷺ.
Tiga Kunci Keilmuan Habib Abdullah
Habib Taufiq membuka ceramahnya dengan menegaskan bahwa Habib Abdullah bin Muhsin Al-Attas adalah paket lengkap. Beliau tidak hanya menguasai satu bidang, melainkan tiga sekaligus: Syariah, Thariqah, dan Hakikat.
Mengutip perkataan Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA:
Ilmu itu ibarat sungai, sedangkan hikmah adalah lautan.
Banyak orang baru belajar berenang di sungai (ilmu syariat/kulit luar), tapi sudah berani mengaku-ngaku menyelam di lautan hikmah. Habib Abdullah bin Muhsin berbeda. Beliau adalah Al-Arif Billah yang sesungguhnya. Kapalnya sudah berlayar jauh di samudera makrifat, namun kakinya tetap kokoh berpijak di atas syariat.
Apa Itu Wali Allah? (Jangan Salah Kaprah!)
Habib Taufiq menjelaskan pembagian kewalian yang sering disalahpahami orang awam. Ada dua jenis wilayah (kewalian):
- Wilayah Amah (Wali Umum): Ini adalah level dasar yang bisa diraih semua orang mukmin. Syaratnya dua: Iman dan Takwa. “Inna auliya Allah la khaufun alaihim wa hum yahzanun…” Selama kita beriman dan bertakwa (menjalankan perintah, menjauhi larangan), kita punya “saham” kewalian ini. Tapi ingat, takwanya harus zahiran wa bathinan. Sholatnya pakai ilmu, hatinya pakai takzim (pengagungan).
- Wilayah Khassah (Wali Khusus): Nah, level inilah yang diduduki oleh Habib Abdullah bin Muhsin Al-Attas. Ini adalah level Martabatul Ihsan. Definisinya membuat kita merinding:“Alla yafqidakallah haitsu amarak, wala yajidaka haitsu nahak.” (Jangan sampai Allah kehilangan kamu di tempat yang Dia perintahkan, dan jangan sampai Allah menemukan kamu di tempat yang Dia larang). [10:53]
Habib Abdullah bin Muhsin, meski sedang sakit parah, sesak napas, hingga demam tinggi, tidak pernah meninggalkan sholat berjamaah. Bandingkan dengan kita? Hujan gerimis sedikit saja sudah jadi alasan absen majelis atau sholat di masjid.
Bahaya “Wali Gadungan”
Habib Taufiq memberikan peringatan keras (warning) bagi siapa saja yang suka mengaku-ngaku wali atau orang suci. “Bahaya loh itu! Bukan polisi ngaku polisi saja ditangkap (gadungan), apalagi dokter bedah gadungan. Ini urusan akhirat!” [12:18]
Beliau menyindir fenomena orang yang baru belajar sedikit ilmu tapi sudah merasa keramat, main tebak-tebakan nasib orang, atau pamer kesaktian. Padahal, Habib Abdullah bin Muhsin sendiri pernah berkata: “Orang yang condong ingin tampil keramat, itu justru akan memutus perjalanannya menuju derajat yang tinggi di sisi Allah.” [19:57]
Menjadi Fotokopi Nabi
Rahasia terbesar kewalian Habib Empang ternyata sederhana: Ittiba’ Nabi (Mengikuti Nabi) secara totalitas.
Habib Taufiq menceritakan kisah sahabat Abdullah bin Umar RA yang dianggap “gila” saking detailnya meniru Nabi. Sampai-sampai tempat di mana unta Nabi berhenti, beliau ikut berhenti di situ. “Kita ini masjid dekat, empat langkah sampai, tapi enggak pernah didatangi,” sindir Habib Taufiq. [15:50]
Habib Abdullah bin Muhsin Al-Attas berhasil mencapai maqam tinggi karena beliau mem-fotokopi akhlak Rasulullah ﷺ dalam setiap detak jantung kehidupannya. Sabarnya, syukurnya, qiyamul lailnya, semua meniru Nabi.
Syarat Menjadi Panutan (Murabbi)
Menutup ceramahnya, Habib Taufiq menjabarkan empat syarat mutlak bagi seseorang yang layak dijadikan panutan atau guru (Mursyid), sebagaimana sosok Habib Abdullah bin Muhsin:
- Aliman: Harus berilmu tinggi.
- Zuhud: Tidak gila harta dan jabatan. (Habib Abdullah bin Muhsin difitnah masuk penjara pun ridha, bahkan menolak keluar sebelum waktunya demi menyempurnakan ujian Allah). [21:44]
- Sanad Muttasil: Punya guru yang sambung-menyambung hingga Rasulullah ﷺ.
- Mewarisi Akhlak Guru: Bukan sekadar “alumni”, tapi benar-benar meniru kelakuan gurunya.
Mari kita jadikan momentum haul ini bukan sekadar seremonial, tapi sebagai cermin. Malu rasanya mengaku cinta Habib Empang kalau sholat masih bolong, puasa masih senin-kamis (kadang senin, kadang kamis), dan akhlak masih jauh dari tuntunan Nabi.
Semoga kita diakui sebagai murid beliau dan kelak dikumpulkan bersama orang-orang sholeh. Aamiin.
Wallahu a’lam bishawab.

