Habib Taufiq Assegaf: Bikin Datuk Kalian Bangga

Habib Taufiq Assegaf mengingatkan keturunan Nabi ﷺ (habaib) agar tidak hanya bangga pada nasab, melainkan wajib berjuang agar datuk mereka bangga.

Nabawi TV
4 Menit Bacaan

Pernahkah kita merasa cukup hanya dengan “menumpang” nama besar orang tua atau leluhur kita? Di tengah masyarakat kita, sering kali nasab atau garis keturunan menjadi kebanggaan tersendiri. Namun, dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad ﷺ dan Haul Pendiri Rabithah Alawiyah 2025, Ketua Umum Rabithah Alawiyah, Habib Taufiq bin Abdul Qadir Assegaf, memberikan tamparan keras namun penuh kasih sayang bagi kita semua, khususnya para keturunan orang-orang sholeh.

Beliau mengingatkan bahwa kemuliaan sejati tidak hanya diwariskan melalui darah, tetapi harus diperjuangkan melalui ilmu dan ketakwaan.

Siapakah Manusia Paling Mulia?

Habib Taufiq membuka ceramahnya dengan mengisahkan dialog masyhur antara Rasulullah ﷺ dan para sahabat. Saat Nabi ﷺ ditanya, “Siapakah manusia yang paling mulia?”, beliau menjawab tegas: “Athqahum” (Yang paling bertakwa di antara mereka).

Jawaban ini adalah pondasi utama dalam Islam. Allah SWT berfirman, “Inna akramakum ‘indallahi atqakum” (Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa).

Namun, para sahabat bertanya lagi, bukan itu yang mereka maksud. Maka Nabi ﷺ memberikan jawaban kedua yang menarik: “Yusuf, Nabi Allah, putra Nabi Allah, putra Nabi Allah, putra Khalilullah (Kekasih Allah).” [01:44]

Lihatlah bagaimana Nabi Yusuf AS memiliki jalur nasab yang “emas”: Beliau seorang Nabi, ayahnya Nabi Yakub, kakeknya Nabi Ishaq, dan buyutnya Nabi Ibrahim AS. Ini adalah contoh sempurna dari kemuliaan yang beruntun: Orang Alim bin Alim bin Alim.

Rumus Kemuliaan: Nasab + Ilmu + Takwa

Habib Taufiq menekankan bahwa jika kita memiliki datuk-datuk yang alim, ahli ibadah (abid), dan ahli sujud (sajid), maka tugas kita adalah meneruskan estafet tersebut. Jangan sampai rantai emas itu terputus di kita.

Jangan Alimun (orang berilmu), tapi punya anak Jahilun (orang bodoh). Jangan Muti’un (orang taat), tapi punya anak ‘Ashin (ahli maksiat). [04:04]

Nasab yang baik adalah modal besar, tetapi tanpa ilmu dan takwa, nasab itu bisa kehilangan nilainya. Habib Taufiq memberikan contoh kontras yang sangat menohok:

  • Salman Al-Farisi: Seorang mantan Majusi, bukan orang Arab, tidak punya nasab Nabi. Namun karena ketakwaannya yang luar biasa, Rasulullah ﷺ bersabda, “Salman minna Ahlul Bait” (Salman adalah bagian dari kami, Ahlul Bait).
  • Abu Lahab: Paman kandung Nabi Muhammad ﷺ, nasabnya bersambung langsung ke Abdul Muthalib hingga Nabi Ibrahim. Namun, karena ia memusuhi Islam dan meninggalkan takwa, Al-Qur’an justru melaknatnya.

Jangan Hanya Jadi “Penikmat” Nama Besar

Poin paling menyentuh dari ceramah beliau adalah ketika mengajak kita merenung. Kita sering membanggakan kakek buyut kita, menceritakan karomah mereka, kehebatan ilmu mereka. Tapi pertanyaannya dibalik oleh Habib Taufiq:

“Kalau kamu banggakan datuk kamu, iya mereka hebat-hebat. Tapi pertanyaannya: Mereka bangga enggak kalau punya cucu seperti kita? [07:47]

Ini adalah kritik diri (muhasabah) yang tajam.

  • Datuknya ahli ilmu, cucunya malas belajar.
  • Datuknya ahli wirid dan dzikir, cucunya sibuk main gaple atau sisha.
  • Datuknya menjaga shalat berjamaah, cucunya shalat pun bolong-bolong.

Tentu para leluhur akan kecewa jika melihat keturunannya justru mencoreng nama baik yang telah mereka bangun dengan darah dan air mata perjuangan.

Jadilah Kebanggaan, Bukan Sekadar Pembangga

Menutup pesannya, Habib Taufiq mengajak seluruh jamaah, khususnya para pemuda dan keturunan Habaib, untuk kembali ke jalan para Salafus Sholeh. Kemuliaan para datuk kita bukan karena fisik mereka, melainkan karena mereka adalah Ahlul Ilmi, Ahlut Taqwa, dan Ahlul Ibadah.

Maka, rumus untuk membalas jasa mereka adalah sederhana:

  1. Teruskan Ilmunya: Jangan biarkan kitab-kitab mereka berdebu.
  2. Teruskan Wiridnya: Hidupkan kembali amalan-amalan harian mereka.
  3. Teruskan Adabnya: Jaga akhlak seperti mereka menjaga perasaan sesama.

Semoga kita tidak hanya menjadi anak biologis, tetapi juga menjadi anak ideologis yang mewarisi semangat juang dan ketakwaan para leluhur kita. Seperti doa yang dilantunkan Habib Taufiq: “Mudah-mudahan kita menjadi anak cucu yang diridai oleh datuk-datuk kita.” Aamiin.

Wallahu a’lam bishawab.

Bagikan Artikel Ini
Tidak ada komentar