NABAWI TV – Pernahkah kita bertanya, mengapa dakwah Walisongo yang hanya sembilan orang mampu mengislamkan hampir 90% penduduk Nusantara, sementara hari ini, ribuan penceramah, habaib, dan kiai seolah kesulitan menuntaskan ‘pekerjaan rumah’ pada sisa 10% tersebut?
Pertanyaan menohok ini dilontarkan oleh Ustad Muhammad Habsyi dalam sebuah kajian yang tayang di Nabawi TV. Beliau mengajak segenap warga Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) untuk melakukan introspeksi diri (muhasabah) besar-besaran, alih-alih terus menyalahkan keadaan.
Walisongo itu sembilan orang tapi bisa menjadikan kaum muslimin di Indonesia kurang lebih 90%. Sekarang ini ustaz, dai, pegiat dakwah, habib, kiai, gus semuanya total mungkin ada 9.000, mengislamkan 10% sisanya saja kita kesusahan.
— Ustad Muhammad Habsyi [00:34]
Apa yang salah? Ustad Habsyi membedah setidaknya delapan “penyakit” yang membuat gerak dakwah Aswaja melambat, bahkan mundur.
Terjebak Seremoni, Kehilangan Esensi
Salah satu kritik terkeras adalah tentang pergeseran makna acara keagamaan. Peringatan Maulid Nabi atau Haul, yang sejatinya momen untuk meneladani akhlak Rasulullah ﷺ dan orang-orang saleh, kini seringkali berubah menjadi sekadar festival.
Maulid Nabi itu semestinya momen menyatukan hati dengan Nabi… Namun faktanya, yang hadir bukan untuk mengekspresikan cinta, mereka nunggu siapa yang akan berceramah, siapa qari-nya. Seakan-akan Nabi hilang di dalam acara tersebut.
— Ustad Muhammad Habsyi [03:35]
Akibatnya, masyarakat lebih tertarik pada “gebyar” panggung dan lampu sorot daripada ilmu yang disampaikan. Majelis ilmu yang hening dan padat isi justru sepi peminat.
“Viral” Mengalahkan “Berilmu”
Fenomena akhir zaman yang sangat terasa adalah ketika viralitas menjadi tolak ukur kebenaran. Penceramah yang mendalam ilmunya seringkali kalah pamor dengan mereka yang hanya bermodal retorika lucu atau kontroversial.
Orang kalau lemah akalnya, dia mengenali kebenaran dari tokoh. Tapi kalau orang tidak lemah akalnya, dia mengenali tokoh dari kebenaran.
— Ustad Muhammad Habsyi [10:34]
Ini diperparah dengan lemahnya adaptasi digital di kalangan aswaja. Banyak ulama sepuh yang memiliki lautan ilmu namun enggan merambah dunia digital, sehingga ruang maya justru dikuasai oleh narasi-narasi yang dangkal. Padahal, ribuan jamaah yang hadir di majelis luring (offline) seharusnya bisa menjadi kekuatan dahsyat jika digerakkan untuk berdakwah di media sosial.
Kabar Gembira bagi Si “Penggenggam Bara Api”
Di tengah tantangan berat ini, Ustad Habsyi menyampaikan kabar gembira dari Rasulullah ﷺ bagi mereka yang tetap teguh memegang prinsip agama di akhir zaman.
Rasulullah ﷺ bersabda:
Sesungguhnya di belakang kalian ada hari-hari (dimana) barangsiapa yang sabar di hari-hari tersebut memegang agama, seperti orang yang menggenggam bara api. Bagi orang yang beramal kebaikan di hari-hari tersebut, seperti pahala 50 orang yang beramal seperti amal kalian.
— H.R. Tirmidzi & Abu Daud [20:40]
Ketika sahabat bertanya apakah pahala 50 orang itu dari kalangan mereka (akhir zaman) atau dari kalangan sahabat, Nabi ﷺ menegaskan: “Tidak, tapi (pahala 50 orang) dari kalangan kalian (Sahabat).”
Ini adalah motivasi besar bagi kita. Meski berat—seperti memegang bara api—ganjarannya sangatlah luar biasa.
Jangan Hakimi Ulama karena “Katanya”
Sebagai penutup, Ustad Habsyi menceritakan kisah inspiratif tentang pentingnya tabayyun (konfirmasi). Dikisahkan Abdullah bin Mubarak pernah ditegur oleh Imam Al-Auza’i agar tidak mendekati Abu Hanifah karena dianggap ahli bid’ah (berdasarkan rumor).
Namun, Abdullah bin Mubarak tidak menelan mentah-mentah. Ia justru mempelajari kitab-kitab Abu Hanifah, merangkum hal-hal baik darinya, dan menunjukkannya kepada Al-Auza’i tanpa menyebut nama penulisnya. Ketika Al-Auza’i memuji tulisan tersebut dan mengetahui bahwa itu adalah buah pikiran Abu Hanifah, ia pun menyesal dan menarik ucapannya.
Aku minta ampun sama Allah karena kekeliruanku dalam menilai dia karena kabar-kabar burung yang aku terima.
— Imam Al-Auza’i (Dikisahkan Ustad Habsyi) [27:09]
Mari kita sudahi perdebatan yang tidak perlu. Saatnya Aswaja bangkit menjadi “Gelombang Perbaikan”, dimulai dari memperbaiki diri sendiri, selektif memilih guru, dan cerdas berdakwah di era digital.
Wallahu a’lam bishawab.

