NABAWI TV – Selama beberapa dekade terakhir, sebuah tuduhan serius dan menyesatkan diarahkan kepada akidah yang menjadi tiang penyangga mayoritas umat Islam sedunia: Akidah Asy’ariyah dan Maturidiyah. Akidah yang menjadi sejarah masuknya Islam di Nusantara tanpa melalui peperangan ini, kini dituduh sebagai akidah sesat, bahkan kafir.
Tuduhan sesat terhadap Asyairah ini bersumber dari pandangan segelintir kelompok yang mengklaim bahwa perjalanan pemikiran Al-Imam Abul Hasan Al-Asy’ari (w. 324 H) telah melalui tiga fase perkembangan, di mana akidah yang dianut mayoritas umat Islam hari ini dianggap sebagai pemikiran fase kedua yang “melenceng” dari akidah Salaf.
Lantas, benarkah akidah yang dipegang teguh oleh para ulama besar lintas generasi ini telah sesat? Ustadz Muhammad Habsyi, dalam program Towards Unity Nabawi TV, mengajak kita untuk mengupas tuntas kelemahan historis dan ilmiah dari tuduhan yang memecah belah umat ini.
Membongkar Mitos Tiga Fase Imam Al-Asy’ari
Para penuduh mengklaim bahwa Imam Al-Asy’ari melalui tiga fase pemikiran [01:17]:
- Fase Pertama: Mengikuti faham Muktazilah hingga usia 40 tahun.
- Fase Kedua: Keluar dari Muktazilah dan merintis mazhab teologis dengan mengikuti metodologi Ibn Kullab.
- Fase Ketiga: Keluar dari mazhab Ibn Kullab dan kembali ke mazhab Salaf yang saleh (menulis kitab Al-Ibanah an Ushulid Diyanah).
Kesimpulan mereka, akidah Asy’ariyah saat ini (yang mengikuti metodologi Ibn Kullab) adalah fase kedua yang dianggap sesat. Namun, Ustadz Habsyi menegaskan, pendapat ini sangat lemah.
Bantahan Historis dan Ilmiah
- Tidak Ada Catatan Sejarawan: Tidak ada satu pun sejarawan terkemuka yang melaporkan kisah keluarnya Imam Al-Asy’ari dari pemikiran Abdullah bin Said bin Kullab [04:18]. Justru, semua sejarawan sepakat bahwa setelah beliau keluar dari Muktazilah, beliau langsung kembali ke ajaran Salaf yang saleh.
- Keterangan Ibn Khaldun: Sejarawan terkemuka, Imam Ibn Khaldun, menyimpulkan bahwa setelah Al-Asy’ari keluar dari Muktazilah, beliau langsung mengikuti pendapat Abdullah bin Said bin Kullab, Abul Abbas Al-Qalanisi, dan Abul Harit Al-Muhasibi [05:08]. Semuanya adalah pengikut Salaf dan Ahlussunnah. Ini membatalkan tuduhan tiga fase, yang benar hanya dua: Muktazilah dan kembali ke Salaf.
Benarkah Ibn Kullab Bukan Ulama Salaf?
Inti dari tuduhan sesat adalah pandangan bahwa metodologi Ibn Kullab (yang menjadi inspirasi utama Al-Asy’ari) bukan merupakan metodologi ulama Salaf. Padahal, fakta sejarah berkata sebaliknya.
Para pakar sejarah dan teologi sepakat bahwa Ibn Kullab adalah ulama Ahlussunnah wal Jamaah.
- Imam Tajuddin As-Subki berkata: “Bagaimanapun Ibn Kullab termasuk Ahlussunnah. Aku melihat Imam Al-Khatib… menyebutkan tentang Abdullah bin Said bin Kullab… Beliau adalah di antara teolog Ahlussunnah pada masa Khalifah Al-Ma’mun.” [05:54]
- Al-Hafizh Az-Zahabi dalam Siyar A’lamin Nubala berkata: “Ibn Kullab adalah tokoh teolog yang paling dekat ke Ahlussunnah, bahkan termasuk juru debat mereka.” [06:37]
Ibn Kullab, Al-Qalanisi, dan Al-Muhasibi adalah ulama yang memilih mendalami Ilmu Kalam (teologi) untuk membentengi dan menguatkan akidah Salaf dari serangan Muktazilah, bukan untuk menyimpang [07:06]. Inilah yang kemudian diperkuat kembali oleh Imam Al-Asy’ari.
Bukti Sanad Keilmuan Para Imam Hadits
Metodologi Ibn Kullab tidak hanya diikuti oleh Al-Asy’ari, tetapi juga oleh ulama besar lainnya.
Permasalahan-permasalahan teologi (ilmu kalam) sebagian besar diambil dari Al-Qarabisi, Ibn Kullab, dan sesamanya.
— Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani (Dalam Fathul Bari) [10:26]
Pernyataan Ibnu Hajar ini menunjukkan bahwa:
- Imam Bukhari (pengarang kitab hadits tersahih setelah Al-Qur’an) [09:50] mengambil rujukan teologi dari Ibn Kullab.
- Ini membuktikan bahwa metodologi Ibn Kullab pada masanya dianggap sebagai metodologi Salaf dan Ahlussunnah wal Jamaah.
Metode Anti-Mujassimah: Tafwid dan Ta’wil
Akidah Asy’ariyah adalah benteng kokoh yang menjaga umat dari bid’ah Mujassimah (menyerupakan Allah ﷻ dengan makhluk). Untuk memahami ayat-ayat mutasyabihat (ayat yang maknanya samar/memiliki banyak penafsiran), Asyairah mengakomodir dua cara yang semuanya berlandaskan ajaran ulama Salaf [16:42]:
- Tafwid: Mengakui sifat Allah (seperti istiwa atau yad) namun menyerahkan makna hakikinya sepenuhnya kepada Allah ﷻ, tanpa menyerupakan-Nya dengan makhluk. Ini adalah metode yang banyak dipilih oleh ulama Salaf.
- Ta’wil: Memaknai ayat sesuai kaidah bahasa Arab yang layak dengan sifat kesucian Allah ﷻ. Contohnya, Imam Bukhari menafsirkan Wajhah (wajah Allah) dengan Al-Mulk (Kerajaan-Nya) [21:15].
Metode ini sangat penting untuk menghindari benturan antar ayat, misalnya [18:06]:
- Jika memakai dalil Ar-Rahmanu ‘ala al-‘Arsyistawa (Allah bersemayam di atas ‘Arsy), maka muncul kesan Allah bertempat.
- Padahal ada dalil lain: Wa nahnu aqrabu ilaihi min hablil warīd (Dan Kami lebih dekat kepadanya dari urat lehernya) [18:15].
- Dan dalil lain: Fa’ainama tuwallū faṡamma wajhullāh (Ke mana pun kamu menghadap, di situlah wajah Allah) [18:23].
Akidah Asy’ariyah menegaskan Allah tidak terikat dengan tempat dan waktu [19:24], sehingga tidak berani menetapkan tempat khusus bagi-Nya berdasarkan satu ayat saja. Bahkan, Imam Syafi’i (w. 204 H) dengan tegas menyatakan:
Tidak boleh mengkafirkan seorang pun dari ahli kiblat akan tetapi dikecualikan pada dua golongan yaitu mereka yang menyerupakan Allah dengan makhluk dan mereka mengatakan Allah tidak mengetahui secara mendetail apa yang terjadi.
— Imam Syafi’i [17:48]
Assawadul A’zham: Mayoritas Umat dan Pemimpin Islam
Bukti terbesar kebenaran akidah Asy’ariyah adalah jumlah penganutnya yang disebut sebagai Assawadul A’zham (golongan terbanyak para ulama) [41:21].
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ أُمَّتِي لاَ تَجْتَمِعُ عَلَى ضَلاَلَةٍ فَإِذَا رَأَيْتُمُ اخْتِلاَفًا فَعَلَيْكُمْ بِالسَّوَادِ الأَعْظَمِ
Sesungguhnya umatku tidak akan bersepakat atas kesesatan, maka apabila kamu melihat perbedaan pendapat, maka ikutilah golongan yang terbanyak.
— Hadits Riwayat Ibnu Majah, Tirmidzi, dan lainnya [40:42]
Akidah ini diikuti oleh deretan ulama, pemimpin, dan pejuang Islam terbesar dalam sejarah:
- Qadhi Abu Bakar Al-Baqillani (Saifus Sunnah – Pedangnya Sunnah) [35:50].
- Imamul Haramain Al-Juwaini [36:27].
- Hujjatul Islam Al-Ghazali [36:51].
- Sultan Salahuddin Al-Ayyubi (Pahlawan Perang Salib) [37:24].
- Al-Malik Az-Zhahir Ruknuddin Baibars (Panglima Perang Dinasti Mamluk) [37:32].
- Muhammad Al-Fatih (Penakluk Konstantinopel) [39:14].
- Para Muhaddits besar seperti Imam An-Nawawi, Ibnu Hajar Al-Asqalani, dan Al-Imam Al-Baihaqi [38:28].
Bahkan, Ibnu Taimiyah (yang sering dijadikan rujukan penuduh) sendiri justru membela Asyairah dengan berkata: “Adapun pelaknatan kepada para imam Asy’ariyah, barang siapa yang melaknat mereka, maka harus ditakzir.” [22:56]
Mari kita akhiri tuduhan sesat dan fanatisme golongan yang memecah belah. Kekuatan sejati umat Islam terletak pada persatuan akidah yang lurus, yang telah terbukti dijaga dan diamalkan oleh mayoritas ulama dan pemimpin Islam dari masa ke masa.
Wallahu a’lam bishawab.

