NABAWI TV – Di Jombang, Jawa Timur, pernah menetap seorang ulama yang cahayanya begitu bersinar, namun memilih jalan sunyi dalam kehidupannya. Beliau adalah Al-Habib Husain bin Muhammad bin Thahir Al-Haddad.
Sosok yang dikenal dengan julukan an-Nawir (yang bersinar) ini memiliki hubungan persaudaraan yang luar biasa dengan kakaknya yang berada di Bogor, yakni Al-Habib Alwi bin Muhammad bin Thahir Al-Haddad.
Bagaimana kisah perjalanan hidup dan tingginya adab beliau? Mari kita simak kisahnya berikut ini.
Masa Kecil dan Hijrah ke Jawa
Habib Husain dilahirkan di Qaidun, Hadramaut, pada tahun 1302 Hijriah. Sejak kecil, beliau dibesarkan oleh kakeknya, Al-Habib Thahir bin Umar. Pendidikan beliau sangat istimewa; beliau mendapatkan pandangan sempurna dari ayahandanya, serta dididik, dibina akhlaknya, dan ditempa keilmuannya langsung oleh kakaknya, Habib Alwi.
Pada tahun 1329 H, beliau melakukan perjalanan ke Tanah Jawa. Awalnya beliau tinggal di daerah Tuban, namun kemudian berpindah dan menetap di Jombang, Jawa Timur.
Adab “Kelas Tinggi” Kepada Sang Kakak
Meski terpisah jarak antara Jombang dan Bogor, hati Habib Husain sangat terikat dengan kakaknya. Dalam teks manaqib disebutkan bahwa beliau menganggap Habib Alwi Bogor sebagai ayah, mata, serta pendengarannya.
Bentuk penghormatan beliau sangat detail dan membuat kita takjub:
- Pantang Bersandar: Apabila berada di hadapan kakaknya, beliau tidak pernah sekalipun bersandar pada dinding.
- Menjaga Lisan: Beliau tidak akan berbicara dalam majelis kakaknya kecuali bila ditanya atau diperintah. Padahal, beliau adalah sosok yang fasih tutur katanya dan manis ucapannya.
- Cara Berpamitan: Bila berpamitan keluar dari ruangan kakaknya, beliau tidak membelakanginya (berjalan mundur) demi menjaga kesopanan.
Ketika menetap di Jombang, beliau senantiasa rutin mengunjungi Habib Alwi di Bogor. Beliau bisa bermulazamah (menetap) di sana selama dua bulan, tiga bulan, bahkan enam bulan. Beliau tidak pernah meminta izin pulang ke Jombang sampai kakaknya sendiri yang memerintahkannya pulang.
Kesaksian Para Tokoh
Keluasan ilmu Habib Husain diakui oleh para tokoh besar di zamannya. Al-Habib Muhammad bin Ahmad al-Muhdhar, salah seorang guru beliau, pernah memuji beliau dengan mengutip bait syair ulama salaf:
Husain adalah keindahan, adapun namanya di kalangan bangsa Arab adalah banyak.
Kesaksian lain datang dari Al-Habib Segaf bin Muhammad Al-Hadi yang menziarahi beliau di Jombang pada 25 Rabi‘uts Tsani 1360 H. Habib Segaf menceritakan:
Beliau berbicara dengan ungkapan-ungkapan yang berharga dari kalam al-qawm (ucapan para arifin)… Beliau adalah termasuk golongan pemilik ilmu-ilmu yang benar-benar bermanfaat, serta pemilik keadaan-keadaan ruhani yang agung dan sempurna.
Meskipun beliau adalah tokoh unggul, Habib Husain enggan menonjolkan diri dalam kegiatan mengajar di madrasah. Beliau lebih memilih sikap tawadhu’ dan tidak ingin terlihat atau mencari nama.
Filosofi Ibadah Sunnah
Habib Husain memiliki pandangan yang dalam mengenai hubungan hamba dengan Tuhannya. Suatu ketika, beliau bertanya kepada Habib Segaf mengenai alasan Allah menjadikan kecintaan-Nya melalui amalan sunnah (nafilah), padahal amalan fardhu lebih utama.
Beliau kemudian menjelaskan rahasianya:
Karena amalan sunnah itu murni didorong rasa harap dan mengharap pahala dari Allah. Adapun amalan fardhu, seorang manusia bisa saja mengerjakannya karena takut dari hukuman bila meninggalkannya.
Wafatnya Sang “an-Nawir”
Setelah menjalani kehidupan yang penuh dengan adab dan ilmu, Al-Habib Husain bin Muhammad bin Thahir Al-Haddad wafat di Jombang pada tanggal 22 Jumada al-Ula tahun 1374 H.
Jenazah beliau kemudian dimakamkan di samping makam ayahnya di Tegal. Semoga Allah melimpahkan rahmat al-Abrar kepada mereka seluruhnya dan kita mendapatkan keberkahannya.
Wallahu a’lam bishawab.

