NABAWI TV – Menjadi hamba bukan sekadar status, melainkan sebuah kesadaran mendalam. Kesadaran bahwa di balik setiap atom di alam semesta ini, ada “Tangan” Yang Maha Perkasa yang mengaturnya dengan presisi mutlak.
Habib Muhsin Idrus Alhamid mengajak kita untuk “membaca” alam semesta dengan kacamata iman:
“Manusia menjadi hamba Allah, saat kenal Allah, saat beriman kepada Yang Maha Gaib, meyakininya, lalu membaca semua yang ada ini, sesungguhnya ada pemiliknya, ada penciptanya, yang berilmu, berkuasa, dan berkehendak.
Tak ada sekecil apa pun yang luput dari ilmu dan pandangan Allah. Semua tertata rapi ciptaan-Nya. Saat kita jauh dari Allah, saat kita berkhayal apa saja, lalu lupa Allah, maka semua itu akan sia-sia, tidak bermanfaat. Saat kita dekat, para perantara akan datang memenuhi kehendak Allah bagi para hamba yang berdoa.”
Presisi Ilmu Allah
Pesan ini menegaskan bahwa tidak ada kebetulan di dunia ini. “Membaca” alam berarti menyadari bahwa segala sesuatu ada Pemiliknya. Ketika kita lupa kepada Sang Pemilik, hidup menjadi sia-sia (futile) dan sekadar khayalan tanpa makna. Sebaliknya, kedekatan dengan-Nya akan menggerakkan “perantara” (sebab-akibat) untuk memenuhi hajat hamba-Nya.
Hal ini selaras dengan firman Allah SWT mengenai detail pengetahuan-Nya:
وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ ۚ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ ۚ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا
“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya…” —QS. Al-An’am: 59
Wallahu a’lam bishawab.

