NABAWI TV – Ketenaran di bumi bersifat fana, namun dikenal oleh penduduk langit adalah kemuliaan abadi. Habib Muhsin Idrus Alhamid mengungkapkan rahasia bagaimana seorang hamba bisa mendapatkan cinta Allah hingga namanya menggema di kalangan malaikat.
“Mereka yang berucap DIA ALLAH, kemudian sadar bahwa semua ini bergantung kepada Yang Maha Tunggal tidak berbilang… Dzat yang tahu hanya dirinya sendiri, kemudian batinnya dan seluruh raganya dihadapkan kepada ALLAH, sandaran segala sesuatu, maka Allah akan menatapmu, mengurusmu, dan namamu disebar ke seluruh penjuru langit dan malaikat karena cinta-Nya.
Pahamilah, DIA ALLAH pencipta dan pemilik segala sesuatu. Bergantunglah dan bersandarlah kepada-Nya.”
Bergantung pada As-Samad
Habib Muhsin menekankan makna As-Samad (Tempat Bergantung). Ketika seorang hamba menghadapkan seluruh batin dan raganya hanya kepada Allah, maka Allah sendiri yang akan “mengurus” hidupnya. Efek dari totalitas ini dahsyat: Allah akan memerintahkan penduduk langit untuk mencintai hamba tersebut.
Hal ini selaras dengan hadits masyhur riwayat Imam Bukhari dan Muslim, di mana Rasulullah ﷺ bersabda:
إِذَا أَحَبَّ اللَّهُ العَبْدَ نَادَى جِبْرِيلَ: إنَّ اللَّهَ يُحِبُّ فُلَانًا فأحِبَّهُ، فيُحِبُّهُ جِبْرِيلُ، فيُنَادِي جِبْرِيلُ في أهْلِ السَّمَاءِ: إنَّ اللَّهَ يُحِبُّ فُلَانًا فأحِبُّوهُ، فيُحِبُّهُ أهْلُ السَّمَاءِ، ثُمَّ يُوضَعُ له القَبُولُ في الأرْضِ
“Jika Allah mencintai seorang hamba, Dia memanggil Jibril: ‘Sesungguhnya Allah mencintai si Fulan, maka cintailah dia.’ Jibril pun mencintainya, lalu Jibril berseru kepada penduduk langit: ‘Sesungguhnya Allah mencintai si Fulan, maka cintailah dia.’ Penduduk langit pun mencintainya, kemudian diletakkan penerimaan (rasa cinta) baginya di muka bumi.” —HR. Bukhari & Muslim.
Wallahu a’lam bishawab.

