#11 Status WA Habib Muhsin: Rajin Shalat Tapi Terasa Hampa, Apa yang Salah?

Mengoreksi kualitas ibadah yang "kering" dari ma'rifat.

Nabawi TV
2 Menit Bacaan

NABAWI TV – Pernahkah kita bertanya, mengapa ribuan rakaat shalat dan puasa yang kita lakukan belum juga menghadirkan ketenangan jiwa? Mengapa ibadah terasa hanya sebatas rutinitas fisik tanpa bekas di hati?

Habib Muhsin Idrus Alhamid menyoroti fenomena “ibadah cangkang” ini dengan tajam:

“Berapa banyak kita shalat. Berapa banyak kita berpuasa. Tetapi, semua itu belum bisa membawa kita dekat kepada Allah. Kita belum mengenal Allah.

Ibadah kita belum mampu menembus rongga kalbu, apalagi pintu langit. Allah telah mengajarkan agar kita memikirkan semua ciptaan Allah yang ada. Di sana kita akan memahami kekurangan ibadah kita yang lalu, yaitu ibadah tanpa ilmu batin.”

Ibadah Tanpa Ilmu Batin

Habib Muhsin menyebut akar masalahnya adalah ketiadaan “Ilmu Batin” atau Ma’rifatullah (mengenal Allah). Ibadah yang dilakukan tanpa mengenal Siapa yang disembah ibarat surat tanpa alamat; ia tidak akan pernah sampai menembus pintu langit. Solusi yang ditawarkan adalah Tafakur—memikirkan ciptaan-Nya. Dengan bertafakur, kita akan menyadari Keagungan Allah dan kekerdilan diri, sehingga ibadah yang kita lakukan akan berisi “rasa”, bukan sekadar gerakan.

Hal ini selaras dengan firman Allah ﷻ mengenai ciri Ulul Albab:

الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ

Mereka adalah orang yang berzikir kepada Allah dalam keadaan berdiri, duduk, dan berbaring. Mereka merenungkan penciptaan langit dan bumi,” —QS. Ali Imran: 190

Wallahu a’lam bishawab.

Bagikan Artikel Ini
Tidak ada komentar