#1 Status WA Habib Muhsin: Berbangga Saat Dekat dengan Allah, Bolehkah?

Menjaga kerahasiaan hubungan spiritual dan nikmatnya dzikrullah.

Nabawi TV
2 Menit Bacaan

NABAWI TV – Dalam menempuh jalan spiritual (suluk), ada kalanya seorang hamba merasakan kebahagiaan meluap karena kedekatan dengan Sang Khalik. Namun, bagaimana menempatkan rasa “bangga” ini agar tidak tergelincir menjadi ujub?

Habib Muhsin Idrus Alhamid memberikan panduan tentang etika batin dalam menikmati kedekatan tersebut:

“Berbanggalah wahai manusia apabila engkau benar-benar dekat dengan Allah. Tiada yang tahu soal kedekatan itu. Hubungan itu hanya jadi rahasiamu dengan Allah.

Kebanggaanmu itu adalah rahasiamu, bukan takabur atau riya, melainkan itu luapan bahagia yang Allah izinkan. Itu tanda syukur atas nikmat mendekat … nikmatnya mengenal Allah. Dengan selalu mengingat Allah, hati menjadi tenteram walau seberat apa pun beban hidup. Alhamdulillah.”

Rahasia (Sirr) Antara Hamba dan Tuhan

Habib Muhsin menekankan bahwa kebanggaan ini bukanlah kesombongan di hadapan makhluk, melainkan luapan kegembiraan (farah) di hadapan Khaliq. Ini adalah rahasia (sirr) yang harus dijaga. Puncak dari perasaan ini adalah ketenangan jiwa yang tidak tergoyahkan oleh beban dunia, hasil dari manisfestasi dzikir yang tulus.

Hal ini selaras dengan janji Allah SWT:

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” —QS. Ar-Ra’d: 28

Wallahu a’lam bishawab.

Bagikan Artikel Ini
Tidak ada komentar